Kantor Media Pemerintah (GMO) di Gaza melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel (IOF) secara sengaja menciptakan kekacauan dan kelaparan guna memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah di Jalur Gaza.
Dalam salah satu tindakan agresi terbaru, sebanyak 109 truk bantuan telah dijarah pada Selasa lalu, di tengah kekacauan keamanan yang disebut GMO sebagai bagian dari strategi sistematis Israel untuk mengacaukan distribusi bantuan kemanusiaan dan menghalangi akses warga sipil terhadap kebutuhan pokok.
GMO juga mengonfirmasi bahwa pada hari yang sama telah dilakukan enam kali pengiriman bantuan melalui udara (airdrops). Namun, empat di antaranya mendarat di wilayah yang saat ini dikuasai pasukan pendudukan Israel atau di area yang telah dikosongkan secara paksa dari warga sipil Palestina. Akibatnya, bantuan tersebut tidak hanya tak dapat diakses oleh warga sipil, tetapi juga menempatkan mereka dalam risiko serangan militer.
Menurut GMO, setiap harinya Jalur Gaza membutuhkan sedikitnya 600 truk bantuan dan bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan dasar sektor-sektor krusial. Jumlah bantuan yang masuk saat ini jauh di bawah kebutuhan minimum tersebut, menyebabkan penderitaan massal di kalangan 2,4 juta penduduk Gaza, termasuk 1,1 juta anak-anak.
GMO mengecam kelangkaan susu formula, yang membuat banyak keluarga tidak mampu memberi makan anak-anak mereka yang masih kecil. Deprivasi ini disebut sebagai bentuk “kejahatan kemanusiaan” yang harus dihentikan.
“Israel dan negara-negara yang terlibat dalam genosida ini harus memikul tanggung jawab penuh atas bencana kemanusiaan ini,” tegas GMO, seraya menyerukan pembukaan segera semua perlintasan dan pengiriman bantuan yang aman dan teratur di bawah pengawasan langsung PBB, termasuk pengadaan susu bayi dan berbagai pasokan penting lainnya.
Dalam laporan terbaru, Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung oleh PBB mengeluarkan peringatan mendesak bahwa Gaza berada di ambang kelaparan paling parah. Bukti terus bermunculan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza meningkat dengan cepat. Sekitar satu juta perempuan dan anak perempuan kini menghadapi ancaman malnutrisi akut atau lebih buruk lagi.
Peringatan ini menegaskan bahwa intervensi internasional yang segera dan tegas sangat dibutuhkan untuk mencegah bencana yang lebih besar lagi di Jalur Gaza.








