Dalam Islam terdapat sumber hukum pokok yang menjadi pedoman atau rujukan bagi umat Islam. Sumber hukum pertama adalah Al-Qur’an yaitu wahyu atau kalamullah yang sudah dijamin keontentikannya dan juga terhindar dari intervensi tangan manusia sehingga memiliki sifat mutlak kebenarannya. Dalam Surat An-Nisa ayat 59, Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Sementara itu, sumber hukum kedua dalam Islam adalah hadis. Fungsi utama hadis adalah sebagai penjelas atas Al-Qur’an. Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadis bahwa sikap kita dalam merujuk sebuah hukum haruslah berpedoman kepada Al-Qur’an, jika tidak ditemukan maka diperbolehkan mengambil dari hadis. Namun, perlu dicatat bahwa kita memerlukan mujtahid yang memahami kedua sumber tersebut untuk kemudian berijtihad dengannya. Berdasarkan hal tersebut, Rasulullah Saw. Mencontohkan kepada seorang sahabat yang bernama Mu’adz dalam sabdanya:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما أراد أن يبعث معاذا إلى اليمن قال كيف تقضي إذا عرض لك قضاء قال أقضي بكتاب الله قال فإن لم تجد في كتاب الله قال فبسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فإن لم تجد في سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا في كتاب الله قال أجتهد رأيي ولا آلو…..
“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, ketika mengutus Mu’adz ke Yaman, bersabda: “Bagaimana engkau akan menghukum apabila datang kepadamu satu perkara ?” Ia (Mu’adz) menjawab, “Saya akan menghukum dengan Kitabullah”. Rasul berkata, “Bagaimana bila tidak terdapat di Kitabullah?” Ia menjawab, “Saya akan menghukum dengan Sunah Rasulullah”. Beliau berkata, “Bagaimana jika tidak terdapat dalam Sunnah Rasulullah?”. Ia menjawab, “Saya berijtihad dengan pikiran saya dan tidak akan mundur.”
Dengan demikian, sumber-sumber hukum tersebut digunakan dalam menjawab dan memahami berbagai permasalahan dari sudut pandang Islam, termasuk dalam memahami persoalan Palestina. Kita tentu harus menjadikan kedua sumber utama dalam Islam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadis) sebagai rujukan kita. Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang tanah yang diberkahi, yaitu Baitul Maqdis dan sekelilingnya, demikian juga di dalam hadis, sehingga dapat dikatakan bahwa Baitul Maqdis memiliki keutamaan dalam Islam.
Ada sebuah buku yang dapat memudahkan kita mengetahui keutamaan Masjid Al Aqsa melalui Hadis Nabi. Judul buku tersebut adalah Hadits Arbain Maqdisiyah karya agung Syaikh Prof. Dr. Muraweh Musa Naser Nassar. Beliau adalah seorang ulama asal Palestina dan salah satu pendiri Ikatan Ulama Palestina, juga sebagai Sekretaris Komite Al-Quds dalam Ikatan Ulama Internasional. Beliau memperkenalkan kepada kaum Muslimin akan keutamaan Masjid Al Aqsa melalui buku dengan 40 tema hadis terkait Masjid Al-Aqsa sehingga dapat dijadikan rujukan bagi setiap Muslim untuk memahami permasalahan Palestina.
Syaikh Muraweh menjelaskan dalam bukunya bahwa beliau menemukan 162 hadis Nabi Saw. yang menjelaskan keistimewaan Baitul Maqdis. Dari 162 hadis, beliau pilih yang terkuat kesahihannya menjadi 50 hadis. Angka tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan tema menjadi 40 tema terkait Masjid Al-Aqsa.
Palestina atau Baitul Maqdis memiliki kedudukan yang istimewa di lubuk hati kaum Muslimin. Di sana terdapat Masjid Al-Aqsa yang memiliki berbagai keistimewaan. Dalam buku tersebut, Syaikh Muraweh mengutip salah satu Hadis Nabi tentang Masjid Al Aqsa sebagai kiblat Muslim pertama.
عن البراء بن عازب أن النبي صلى الله عليه وسلم كانَ أوَّلَ ما قَدِمَ المَدِينَةَ نَزَلَ علَى أجْدَادِهِ، أوْ قالَ أخْوَالِهِ مِنَ الأنْصَارِ، وأنَّهُ صَلَّى قِبَلَ بَيْتِ المَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا، أوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وكانَ يُعْجِبُهُ أنْ تَكُونَ قِبْلَتُهُ قِبَلَ البَيْتِ، وأنَّهُ صَلَّى أوَّلَ صَلَاةٍ صَلَّاهَا صَلَاةَ العَصْرِ، وصَلَّى معهُ قَوْمٌ فَخَرَجَ رَجُلٌ مِمَّنْ صَلَّى معهُ، فَمَرَّ علَى أهْلِ مَسْجِدٍ وهُمْ رَاكِعُونَ، فَقالَ: أشْهَدُ باللَّهِ لقَدْ صَلَّيْتُ مع رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قِبَلَ مَكَّةَ، فَدَارُوا كما هُمْ قِبَلَ البَيْتِ أنكروا ذلك. وفي رواية سمعت البراء رضي الله عنه قال: ((صلينا مع النبي صلي الله عليه وسلم نحو بيت المقدس ستة عشر أو سبعة عشر شهرا ثم صرفه نحو القبلة)).
(متفق عليه)
Dari Al Barra’, bahwa Nabi SAW ketika pertama kali tiba di Madinah, beliau singgah kepada nenek moyangnya atau paman-pamannya dari Anshar. Dan beliau melakukan salat menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh belas bulan. Baitul Maqdis dijadikan kiblat sebelum Ka’bah membuat beliau takjub. Salat pertama yang beiau lakukan adalah salat ashar, dilakukan bersama kaumnya. Salah seorang yang salat bersama beliau keluar dari masjid menemui para jemaah masjid ketika sedang posisi ruku seraya berkata, “Saya bersaksi dengan nama Allah, saya telah salat bersama Rasulullah SAW menghadap ke Ka’bah. Dalam riwayat lain, saya mendengar Al Barra’ ra. Berkata, “Kami salat bersama Nabi SAW menghadap Baitul Maqdis enam belas atau tujuh belas bulan kemudian mengubah arah kiblat.”[1]
(Muttafaq ‘Alaih)
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sebelum umat Islam menghadap kiblat ke Ka’bah di Masjidil Haram, dahulu umat Islam pernah menghadapkan wajah mereka ke arah Masjid Al Aqsa. selama kurang lebih enam belas atau tujuh belas bulan lamanya. Hal ini menjadikan Masjid Al Aqsa sebagai warisan umat Islam karena pernah menjadi kiblat pertama umat Islam di seluruh dunia.
[1] Al Bukhari (4492). Muslim (525, 12). At Tirmidzi (340). An Nasa’I (487). Musnad Ahmad (2252). Penahkik mengatakan, hadis ini sahih (2991). Terdapat juga hadis ini dengan nomor 3270, hadis ini sanadnya sahih, 3270 hadis sahih dan perawinya juga sahih. Malik bin Anas, Al Muwaththa’ (547). Al Baihaqi, Sunan Al Baihaqi (2232, 2234). (Muttafaq ‘Alaih).
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








