Oktober seharusnya menjadi bulan penuh keberkahan bagi keluarga-keluarga Palestina yang memanen buah zaitun, simbol keteguhan, warisan, dan kehidupan. Namun, bagi banyak petani di Tepi Barat, musim panen tahun ini kembali berubah menjadi musim ketakutan.
Pekan lalu, Afaf Abu Alia (53 tahun) diserang secara brutal oleh lebih dari 20 pemukim Israel saat ia dan keluarganya memanen zaitun di Turmus Ayya, dekat Ramallah. Para pemukim kolonial
memukulinya dengan tongkat hingga mengalami pendarahan otak dan harus dirawat intensif selama dua hari. “Mereka mencoba membunuh saya. Pukulan mereka diarahkan ke kepala,” ujarnya dengan suara lemah.
Serangan itu bukan yang pertama. Dalam dua tahun terakhir, kekerasan terhadap petani Palestina semakin meningkat, selalu dengan perlindungan tentara Israel. Hari itu, keluarga Afaf harus melarikan diri, meninggalkan peralatan dan hasil panen mereka. Ketika mereka kembali, mobil mereka hancur dan zaitun hasil panen mereka telah dicuri.
Keluarga Abu Alia bahkan tidak sedang berada di lahan milik mereka sendiri. Mereka terpaksa menyewa kebun zaitun di desa tetangga setelah kebun mereka di al-Mughayyir diserang dan pohon-pohonnya ditebangi. “Saat mereka menebang pohon zaitun kami, rasanya seperti mereka mencungkil mata kami,” kata Afaf sambil menangis.
Sepupunya, Ayman Abu Alia, mengatakan keluarga mereka kehilangan 400 pohon zaitun pada Agustus lalu ketika buldoser Israel dan pemukim menghancurkannya dalam satu hari. “Itu pembantaian terhadap pohon zaitun,” katanya. “Mereka tahu betapa dalamnya hubungan kami dengan pohon zaitun, itulah sebabnya mereka menghancurkannya, agar kami pergi dari tanah kami.”
Menurut Komisi Perlawanan terhadap Tembok dan Kolonisasi Palestina, sejak awal musim panen tahun ini (Oktober–Desember), lebih dari 158 serangan pemukim yang dilindungi tentara Israel telah dilaporkan di Tepi Barat. Akibat kekerasan itu, para petani kehilangan akses ke sekitar 110.000 dunam (27.000 hektar) lahan.
Palestina memiliki sekitar 12,5 juta pohon zaitun, dan sektor ini menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 110.000 keluarga, atau sekitar setengah juta jiwa. Namun, dengan 10.000 pohon yang dibakar atau dicabut pemukim kolonial sejak Januari, panen tahun ini diperkirakan hanya mencapai 7.000 ton—terendah dalam puluhan tahun—kerugian ekonomi telah melampaui 70 juta dolar AS.
Bagi masyarakat Palestina, zaitun bukan sekadar tanaman, tetapi lambang warisan leluhur. “Pohon-pohon ini bahkan lebih tua dari Israel,” ujar Mohammad Abu al-Rabb, seorang petani dari Jenin yang sudah tiga tahun tidak dapat mengakses kebunnya karena tembok pemisah Israel. “Mereka menargetkan pohon zaitun karena tahu ikatan spiritual kami dengannya. Ini bukan hanya pohon, tapi amanah dari leluhur kami.”
Hamzeh Aqrabawi, peneliti warisan dan identitas Palestina, menjelaskan bahwa hubungan ini memiliki makna religius dan peradaban yang mendalam. “Bagi umat Islam dan Kristen Palestina, pohon zaitun memiliki kesucian seperti masjid atau gereja,” katanya. “Ketika orang Palestina menanam pohon zaitun, mereka melakukannya untuk cucu-cucu mereka — sebagai wujud kesinambungan hidup setelah kematian.”
Meski pohon-pohon mereka ditebang dan tanah mereka dirampas, semangat rakyat Palestina tidak padam. Seperti akar zaitun yang menembus batu, mereka terus bertahan, mewariskan bukan hanya tanah, tapi juga keyakinan bahwa kehidupan, seperti pohon zaitun, akan tumbuh kembali meski berkali-kali ditekan dan dihancurkan.
Sumber: MEE








