• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Berita Kemanusiaan

Jika Kalian Ingin Membangun Sebuah Negara, Maka Mulailah dengan Pikiran Mereka 

by Adara Relief International
Juli 1, 2024
in Berita Kemanusiaan, Hukum dan HAM
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Peneliti AS: Gaza Membutuhkan Beberapa Dekade untuk Pulih akibat Serangan Israel 
18
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Di jalan-jalan yang dilanda perang di Gaza, ketika gema bom dan dengungan drone menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, berdiri sebuah ruang kelas darurat yang baru dipasang, dihiasi dengan poster berwarna-warni, mainan, dan gambar-gambar.

“Meskipun ruang kelas ini tidak dapat menahan bom dan serangan udara Israel, tetapi ruangan ini menjadi tempat teraman bagi para murid”, kata Ahmed Abo Rizik, seorang guru bahasa Inggris yang berusia 27 tahun dan juga seorang ayah.

Kelas-kelas ini adalah salah satu langkah yang diambilnya untuk melindungi anak-anak dari agresi Israel dan mengurangi dampak kehancuran dari serangan Israel pada generasi muda yang kehilangan hak atas pendidikan mereka.

“Pendidikan adalah bentuk dari perlawanan. Ketika anak-anak dididik, mereka diberdayakan. Mereka belajar untuk berharap, bermimpi, dan percaya pada masa depan yang lebih baik,” tegas Ahmed.

Jalan-jalan di Gaza dipenuhi dengan tenda darurat dan anak-anak tanpa alas kaki yang mencari kebutuhan dasar, melukiskan gambaran yang menyedihkan tentang kepolosan yang hilang. Pemandangan anak-anak yang berebut satu kilogram beras atau gula, membangkitkan rasa bersalah yang mendalam dalam diri Ahmed. Sebagai seorang guru, ia merasa harus melakukan apa pun untuk mengembalikan kesan normal bagi pikiran-pikiran muda ini.

“Ini adalah pemandangan yang sangat buruk bagi saya sebagai guru melihat anak-anak duduk di jalanan tanpa sepatu, tinggal di sekolah dan tenda. Ini membantu saya mendapatkan ide untuk memulai sekolah tenda Gaza Great Minds. Saya juga telah bersumpah kepada diri sendiri setelah kehilangan lima murid saya dalam perang ini bahwa saya akan memulai sesuatu.”

“Saya bertanya kepada seorang anak laki-laki yang mencari perlindungan di sekolah apakah dia ingin belajar, tetapi dia mengatakan tidak. Setelah saya bertanya mengapa, dia mengatakan dia membenci sekolah karena sekarang menjadi tempat perlindungan yang tidak nyaman baginya. Dia membenci bahwa lingkungan belajar tidak lagi ada, jadi saya memutuskan untuk membuat tenda yang lokasinya jauh dari sekolah.”

Pada 1 Mei, Ahmed mulai merencanakan Gaza Great Minds. Rencananya terwujud pada Pada 14 Mei ketika tenda pertama didirikan menggunakan parasut dan sumber daya apa pun yang bisa dikumpulkan di Kota Gaza. Kursi didapatkan dari uang pribadi sang guru, dan kelas pertama dimulai. Tujuannya sederhana namun mendalam, yaitu untuk menyediakan pendidikan dan dukungan psikologis dalam lingkungan yang aman dan mendukung, jauh dari trauma akan sekolah yang dijadikan sasaran serangan Israel dan tempat penampungan yang hancur.

Gaza Great Minds lebih dari sekadar visi Ahmed; ini adalah upaya kolaboratif yang melibatkan berbagai pendidik dan sukarelawan. Para pendidik ini, termasuk seorang ibu Ukraina dan putrinya yang telah menjadi bagian integral dari inisiatif ini, membawa keterampilan dan perspektif yang beragam.

“Sebagai guru bahasa Inggris yang telah lama tinggal di utara, saya mendapatkan beberapa kenalan dari pusat-pusat yang beroperasi sebelum perang ini. Jadi kami bekerja sama dengan staf dari Teachers Without Borders yang bergabung untuk mengajar para siswa,” jelas Ahmed.

Hari pembukaan Gaza Great Minds menciptakan kegembiraan dan ketakutan bagi Ahmed. Biasanya dia memiliki kekuatan ajaib untuk membuat setiap anak tersenyum; tetapi trauma perang telah meninggalkan bekas emosional yang terlalu dalam sehingga anak-anak sangat sulit untuk tersenyum. Ketika ia meminta bantuan dari seorang ahli kesehatan mental, Ahmed diberitahu bahwa anak-anak tidak akan tersenyum untuk sementara waktu.

Namun, seiring waktu, suasana berubah. Kepercayaan dan hubungan yang terbentuk menghasilkan senyuman dan akhirnya, menciptakan tawa. “Jika Anda pergi ke tenda sekarang, Anda akan melihat mereka banyak tawa dan tersenyum, karena sekarang mereka percaya pada kami, dan kami memiliki hubungan,” kata Ahmad dengan bangga. Hari-hari hiburan pekanan yang diisi dengan menyanyi dan menari menjadi kegiatan yang paling dicintai, memberikan pelarian yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak sebagai ekspresi dalam proses penyembuhan trauma mereka.

Kelas bahasa Inggris, Arab, dan Matematika diadakan setiap hari, bersama dengan sesi psikologi. 

Dalam konteks ini, guru lebih dari sekadar pendidik; mereka adalah orang tua pengganti dan terapis. “Sebagian besar siswa kehilangan setidaknya satu anggota keluarga,” kata Ahmed. Guru sering menemukan diri mereka menghibur anak-anak yang memanggil mereka ‘ibu’ atau ‘ayah’, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh perang. Ahmed berbagi cerita mengharukan tentang anak-anak yang kehilangan orang tua mereka dan bagaimana ia mencoba memberikan sedikit kenyamanan, seperti menyelipkan cokelat ke dalam tas mereka, berpura-pura bahwa itu adalah hadiah dari ayah mereka yang hilang.

Seorang anak laki-laki kehilangan ayahnya tepat di depan matanya dan akan menangis setiap kali dia mulai berbicara tentang ayahnya. Seorang gadis lain, Loah, menceritakan bagaimana tentara Israel menyerbu sekolah tempat mereka berlindung dan membawa ayahnya serta menembaknya hingga syahid. Kemudian tentara memberi mereka biskuit, tetapi dia menangis dan mengatakan bahwa dia tidak ingin biskuit, dia ingin ayahnya kembali.”

Ahmed menggambarkan perang saat ini tidak seperti sebelumnya. Perang ini mengakibatkan kehancuran massal, kesunyian global, dan kehilangan nyawa yang mencengangkan. “Ini bukan hanya perang; ini genosida,” tegasnya dengan lugas.

Selain drone dan pengeboman yang mengancam nyawa mereka setiap hari, Ahmed mengatakan salah satu aspek yang paling menyedihkan yang dihadapi timnya adalah kelaparan yang merajalela di kalangan anak-anak. “Banyak dari anak-anak ini datang ke kelas kami tanpa sarapan,” jelasnya. “Ketika mereka tiba, mereka lelah, kelelahan, dan tidak bisa fokus.” Awalnya, dia berhasil menyediakan tiga sandwich sehari untuk para siswa, tetapi ini harus dihentikan karena kurangnya dana.

Inisiatif ini telah menarik perhatian dan dukungan, tetapi kebutuhan sangat besar dan berkelanjutan. Ahmed menekankan peran kritis kesadaran internasional dan bantuan, mendesak komunitas global untuk tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga bertindak.

Bahaya yang mengelilingi Ahmed, rekan-rekannya, dan murid-muridnya selalu hadir. Selama wawancara dengan Middle East Monitor, drone berdengung di latar belakang hingga ada kesunyian yang memekakkan telinga diikuti oleh ledakan besar. “Serangan ini bisa saja menimpa saya,” kata Ahmed ketika sebuah F-16 menargetkan rumah-rumah di dekatnya.

“Jika saya harus mati, Anda harus hidup, untuk menceritakan kisah saya,” lanjutnya, menggemakan baris terakhir puisi yang ditulis oleh gurunya, Dr. Refaat Alareer, seorang penulis yang dibunuh dalam serangan udara Israel yang menargetkan flat saudara perempuannya di utara Gaza pada bulan Desember.

Namun setinggi apa pun risiko yang ia tanggung, tekad Ahmed tetap tak tergoyahkan. “Apa pun yang terjadi, kami akan terus maju. Bahkan jika mereka menghancurkan tenda, kami akan membangun yang lain. Bahkan jika saya mati, guru lain akan melanjutkan misi ini karena jika Anda ingin membangun kembali sebuah negara, Anda harus memulainya lewat pikiran mereka.”

sumber: https://www.#

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca Juga

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak

Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: Update Palestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Pelapor PBB: Tidak Ada Istilah Selain Genosida yang Dapat Digunakan untuk Menggambarkan Situasi di Gaza

Next Post

Anggota Parlemen AS Menyensor Jumlah  Warga Palestina di Gaza yang Terbunuh untuk Menutupi Kejahatan Perang Israel

Adara Relief International

Related Posts

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak
Berita Kemanusiaan

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
13

Presiden AS Donald Trump secara resmi menguraikan struktur "Dewan Perdamaian", yang diharapkan dapat "memenuhi" 20 poin rencana Trump untuk Gaza,...

Read moreDetails
Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Januari 19, 2026
12
Angka Kelahiran di Gaza Turun 41 Persen, Keguguran dan Kelahiran Prematur Meningkat

Angka Kelahiran di Gaza Turun 41 Persen, Keguguran dan Kelahiran Prematur Meningkat

Januari 19, 2026
11
Zionisme Kristen Ancam Keberadaan Umat Kristen di Palestina

Zionisme Kristen Ancam Keberadaan Umat Kristen di Palestina

Januari 19, 2026
23
Kampanye Vaksinasi Gelombang Kedua di Gaza Targetkan Anak di bawah Usia Tiga Tahun

Kampanye Vaksinasi Gelombang Kedua di Gaza Targetkan Anak di bawah Usia Tiga Tahun

Januari 19, 2026
11
Laporan Haaretz: AS Berpotensi Danai Pabrik Kendaraan Tempur Baru Israel hingga US$2 Miliar

Laporan Haaretz: AS Berpotensi Danai Pabrik Kendaraan Tempur Baru Israel hingga US$2 Miliar

Januari 15, 2026
21
Next Post
Anggota Parlemen AS Menyensor Jumlah  Warga Palestina di Gaza yang Terbunuh untuk Menutupi Kejahatan Perang Israel

Anggota Parlemen AS Menyensor Jumlah  Warga Palestina di Gaza yang Terbunuh untuk Menutupi Kejahatan Perang Israel

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630