fbpx

Jangan Biarkan Mereka Membeku

Sejak November hingga Januari, setiap tahun, musim dingin hadir di Palestina. Dan di setiap rentang waktu itu, penderitaan rakyat Palestina semakin berlipat-lipat. Terutama di Gaza yang sudah mengalami blokade selama 14 tahun yang mengakibatkan kondisi sosial ekonomi yang kian memprihatinkan. Setiap musim dingin Israel mengurangi pasokan gas ke Gaza secara drastis. Lebih dari 20 persen rumah tangga tidak memiliki akses ke gas, dan banyak rumah sakit serta sekolah berada dalam situasi yang sama. Hal ini diperparah dengan keterbatasan listrik yang selama ini telah diputus dari 8-10 jam menjadi 4-8 jam/hari. Hasilnya adalah warga tidak dapat menghangatkan diri, memasak dan menanam kebutuhan pokok mereka.

Hal ini tentu saja sangat berat bagi warga Gaza di tengah angka kemiskinanyang terus bertambah akibat blokade dan agresi Israel. Menurut Kementerian Sosial Palestina, sebanyak 65% (1.358.134 orang) penduduk Gaza hidup miskin, 30% (626.831 orang) dalam kemiskinan ekstrim, 80% bergantung pada bantuan internasional dan 72% warga Gaza kekurangan pangan.

Bagaimana rakyat Palestina melewati musim dingin di Palestina? Musim dingin di Palestina, seringkali disertai hujan badai dan banjir besar. Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, terutama pada Januari 2015, 2016, dan 2017, Gaza mengalami banjir besar dan ribuan penduduk dievakuasi dari rumah mereka dari rumah saat terjadi badai besar.

Suhu dingin di Palestina, umumnya cukup ekstrim karena dari suhu sekitar 10°C dan di malam hari suhu turun menjadi 3 atau 4°C bahkan akan turun beberapa minus derajat saat puncak musim dingin.

Tanpa Pemanas Air dan Pemanas Ruangan

Sebagian besar negara yang beriklim salju  memiliki sistem pemanas air atau pemanas ruangan sentral (tungku) di setiap gedung atau rumah untuk menjaganya tetap hangat saat di luar dingin. Hal ini tidak berlaku di Palestina sehingga warga  tidak akan pernah benar-benar ‘melarikan diri’ dari hawa dingin. Mereka tidak memiliki pemanas air dan pemanas ruangan.

Sebagian warga Tepi Barat banyak yang menjadikan gua sebagai rumah baru mereka setelah rumah mereka dihancurkan oleh pemerintah penjajah. Seringkali rumah memiliki satu atau dua tungku tempat anggota keluarga duduk berkeliling pada malam hari untuk mendapat kehangatan. Tetapi sebagian besar rumah dan bangunan tidak memiliki pemanas (kecuali jika mereka memiliki perapian), sehingga pakaian hangat dan selimut sangat dibutuhkan.

Mengenakan Berlapis-lapis Pakaian

Penduduk Palestina harus mengenakan pakaian berlapis agar  tetap hangat, karena lantai dari batu dan dinding sangat dingin sehingga kaus kaki atau sandal yang hangat akan membuat kaki tetap hangat. Sepasang sepatu ekstra, sarung tangan, syal dan topi hangat juga sangat dibutuhkan oleh warga Palestina, terutama anak-anak.

 Meringkuk dalam Tidur yang Tak Kunjung Lelap

Sebagian besar tentu keluarga akan duduk bersama dan minum teh dan duduk di sekitar pemanas kecil sebelum tidur untuk menghangatkan diri. Sayangnya, tidak semua keluarga Palestina mampu melakukan ini. Karena tidak ada pemanas ruangan, tidur meringkuk adalah salah satu jalan walau ini seringkali tidak menjadi solusi bagi anak-anak Palestina yang kedinginan.

Begitulah. Warga Palestina mengalami masalah yang disebabkan oleh alam, seperti hujan lebat atau badai salju dan cuaca dingin yang parah. Dan sisi lain, harus menghadapi penderitaan yang sengaja disebabkan oleh manusia, seperti penangkapan dan penculikan, pembunuhan warga, agresi, penutupan akses kesehatan, perusakan fasilitas ekomuni dan sosial, pendudukan militer Israel, blokade dan pembongkaran rumah. Kombinasi keduanya membuat situasi sulit yang seringkali memakan jiwa orang-orang Palestina, khususnya anak-anak dan perempuan.

Jiwa kemanusiaan kita seharusnya tergerak untuk bertindak. Fakta bahwa penduduk miskin atau tunawisma di Tepi Barat, Gaza dan pengungsian membutuhkan bantuan segera agar tetap hangat selama bulan-bulan musim dingin yang parah ini. Gaza, khususnya, membutuhkan dukungan segera, terutama sebagai akibat dari sikap anti kemanusiaan Israel.

Beberapa kebutuhan mendesak antara lain kasur/matras/karpet, selimut, pemanas  ruangan (listrik/gas), paket kebutuhan pokok, dan baju hangat. Hanya dengan berdonasi mulai dari Rp100.000 kita sudah bisa meringankan penderitaan mereka.

Mari kirimkan cinta, doa, dan donasi terbaik untuk menghangatkan mereka. Agar mereka tak membeku.

Sri Vira Chandra (Ketua Adara Relief)

 

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar Program Bantuan Adara untuk Palestina.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk Palestina.

 

Referensi:

Facing a Harsh Winter in Palestine

Najwa Sado Safadi,

https://www.researchgate.net/publication/259550326_The_evolution_of_the_social_welfare_system_in_Palestine_Perspectives_of_policymakers_in_the_West_Bank

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas