Sebuah jajak pendapat baru-baru ini oleh Lembaga Studi Keamanan Nasional Israel menyoroti tren yang mengkhawatirkan dalam opini publik Israel terkait akuntabilitas militer Israel. Survei tersebut menunjukkan bahwa mayoritas warga Israel hanya mendukung tindakan disipliner bagi prajurit yang terekam melakukan pemerkosaan massal dan penganiayaan berat terhadap seorang tahanan Palestina, daripada menuntut mereka secara pidana.
65% responden survei di Israel percaya bahwa para prajurit harus ditangani melalui disiplin militer internal saja, alih-alih menghadapi tuntutan pidana. Sebaliknya, hanya 21% yang mendukung tuntutan pidana.
Pekan lalu, kantor pengacara militer Israel dan pengacara pembela sepakat untuk membebaskan lima tentara yang difilmkan saat memperkosa seorang pria Palestina di kamp penahanan terkenal Sde Teiman.
Jajak pendapat tersebut juga menyoroti sentimen yang lebih luas terhadap kepatuhan Israel terhadap hukum internasional dan standar moral dalam peperangan. Ketika ditanya apakah Israel harus mematuhi norma hukum internasional dan standar etika selama konflik, 47% responden mengatakan negara pendudukan tidak boleh mematuhinya.
Temuan survei menunjukkan adanya keselarasan yang signifikan antara posisi publik, resmi, dan militer di negara pendudukan terkait kebijakan impunitas Israel di panggung internasional. Selain itu, jajak pendapat tersebut juga mempertanyakan bagaimana orang Israel akan menasihati anak-anak mereka terkait dinas militer. Sebanyak 30% responden menyatakan bahwa mereka akan mendorong anak-anak mereka untuk ikut serta dalam tugas tempur.
Sumber: https://qudsnen.co
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








