Militer Israel tengah bersiap untuk mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan guna memperluas serangan militer di Jalur Gaza. Langkah ini diambil di tengah krisis kekurangan pasukan dan meningkatnya ketegangan publik terkait nasib para tahanan Israel yang berada di Gaza.
Menurut harian Yedioth Ahronoth, Divisi ke-36 Israel terus melancarkan serangan di Rafah, Gaza Selatan. Militer Israel dikabarkan akan meningkatkan operasi militernya pekan depan jika negosiasi gencatan senjata tidak mencapai kemajuan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dijadwalkan mengadakan konsultasi keamanan tingkat tinggi bersama para menteri senior dan pejabat militer, sementara Kabinet Keamanan akan menggelar pertemuan pada Ahad malam untuk mengambil keputusan akhir.
Hamas telah menawarkan pertukaran semua sandera Israel dengan gencatan senjata penuh, penarikan total pasukan Israel dari Gaza, serta pembebasan para tawanan Palestina di penjara-penjara Israel. Namun, Tel Aviv menolak proposal ini.
Beberapa perwira cadangan telah memberi peringatan kepada unit mereka untuk bersiap menghadapi panggilan mendadak. Dalam pernyataan akhir pekan lalu, militer Israel menyatakan bahwa mobilisasi pasukan cadangan akan dilakukan “dengan hati-hati dan berdasarkan pertimbangan profesional.”
Ketegangan meningkat tajam ketika Netanyahu menyatakan bahwa menyelesaikan agresi di Gaza lebih penting daripada menyelamatkan para sandera. Pernyataan ini memicu kemarahan keluarga para tahanan, yang mendesak pemerintah Netanyahu agar mengutamakan pembebasan kerabat mereka meski harus menghentikan perang. Pada 21 April, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich juga memancing kemarahan publik dengan mengatakan bahwa membebaskan para sandera “bukan tujuan terpenting.”
Israel memperkirakan ada 59 warganya yang masih disandera di Gaza, dengan 24 orang diyakini masih hidup. Di sisi lain, lebih dari 9.900 warga Palestina ditahan di penjara-penjara Israel, mengalami penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis yang menyebabkan banyak kematian, menurut kelompok hak asasi Palestina dan Israel.
Krisis Kekurangan Tentara dan Ketegangan Politik
Sementara itu, militer Israel menghadapi krisis serius dalam jumlah pasukan. Kepala Staf Umum Eyal Zamir memperingatkan bahwa militer tidak dapat menjalankan misinya tanpa penguatan besar dari pasukan cadangan.
Awalnya, militer Israel merencanakan agar masa tugas setiap pasukan cadangan dibatasi hingga dua setengah bulan pada 2025. Namun, batas tersebut telah dilampaui sejak tiga pekan lalu, menyusul pemanggilan ulang dua batalion karena tekanan operasional yang meningkat.
Di tengah “kekurangan kekuatan” yang parah, Zamir menyerukan penerapan “sanksi sipil bagi penghindar wajib militer,” merujuk pada banyaknya pengecualian yang diberikan kepada pemuda ultra-Ortodoks (Haredi) dari wajib militer. Militer diperkirakan akan mengirim sekitar 24.000 surat panggilan awal kepada pemuda Haredi hingga akhir Juni. Namun, sejauh ini baru sekitar 300 panggilan yang diproses secara resmi, sementara penegakannya lemah akibat aturan pemerintah.
Netanyahu dilaporkan tengah mendorong legislasi untuk memberikan pengecualian menyeluruh bagi kalangan Haredi, yang menuai penolakan keras dari militer dan lawan politiknya.
Sumber:
https://www.#/20250502-israel-prepares-mass-reserve-call-up-to-expand-gaza-offensive/








