Malam tadi Israel melancarkan serangan terhadap sistem pertahanan udara dan depot amunisi Suriah dalam upaya berkelanjutan untuk melumpuhkan kemampuan militer Suriah menyusul lengsernya Presiden Bashar al-Assad baru-baru ini.
Lembaga Pemantau Perang Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), mengatakan pada Senin bahwa Israel menargetkan lokasi militer di wilayah pesisir Tartous, Suriah, termasuk unit pertahanan udara dan gudang rudal, dan mengatakan serangan itu merupakan “serangan terberat” di wilayah itu dalam lebih dari satu dekade.
“Ledakan di Tartous sangat keras,” kata Resul Serdar dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Ibu Kota Suriah, Damaskus. “Beberapa ahli mengatakan bahwa kemungkinan besar ledakan itu mengenai rumah produksi senjata kimia.”
Penargetan Tartous adalah “penting”, mengingat perannya sebagai pangkalan bagi pasukan angkatan laut Suriah, katanya, seraya menambahkan bahwa militer Israel telah meluluhlantakkan “seluruh armada” hanya dengan tiga hari sebelumnya.
Pada suatu malam, Israel juga mengebom sejumlah lokasi di dalam dan sekitar Damaskus, khususnya di sekitar Gunung Qasioun, yang mengenai “sistem radar” dan “sistem pertahanan udara”, menurut Serdar.
Serangan semalam di Tartous dan Damaskus menandai bahwa penyerangan Israel untuk melumpuhkan militer Suriah sudah memasuki tahap akhir, setelah menyaksikan Israel menggempur negara itu dengan sekitar 600 serangan dalam delapan hari sejak jatuhnya al-Assad.
“Israel sedang menjalankan strategi untuk mengurangi kemampuan pertahanan udara negara ini dan juga angkatan udaranya,” kata Serdar.
Ahmed al-Sharaa, kepala de facto pemerintahan baru Suriah, mengatakan negaranya tidak dalam posisi untuk terlibat dalam konflik apa pun “karena ada kelelahan umum di Suriah.”
Sumber: https://aljazeera.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








