Menteri Perang Israel, Israel Katz, mengeluarkan ancaman terbuka bahwa Gaza akan dihantam “badai dahsyat” hingga “dihancurkan dan dimusnahkan”. Ancaman itu segera disusul dengan serangan besar-besaran yang meruntuhkan gedung-gedung tinggi di Kota Gaza.
Sejak Ahad pagi, pasukan Israel menghancurkan lebih dari 50 bangunan dan merusak 100 lainnya, termasuk menara apartemen yang menampung ribuan warga. Juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, Mahmoud Basal, mengatakan tentara Israel secara sengaja menargetkan gedung-gedung yang dikelilingi kamp pengungsi, menyebabkan lebih dari 200 tenda hancur. Ia menyebut hal ini sebagai taktik “sistematis” untuk mempercepat pemindahan paksa.
Dalam dua hari terakhir, dua ikon Gaza yaitu Menara Mushtaha dan Menara Soussi, diratakan ke tanah. Mushtaha, gedung 12 lantai yang dikelilingi ratusan tenda pengungsi, dihantam berkali-kali hingga rata dengan tanah, menimbulkan korban sipil yang kemudian dilarikan ke Rumah Sakit al-Shifa. Sehari setelahnya, Menara Soussi yang memiliki 15 lantai di kawasan Tal al-Hawa juga dihancurkan, tanpa memberi waktu bagi warga untuk menyelamatkan harta benda mereka.
Militer Israel mengklaim menara-menara tersebut digunakan Hamas sebagai pusat pengintaian, penyimpanan senjata, dan markas komando. Namun, otoritas sipil Palestina menolak klaim itu dan menegaskan gedung-gedung tersebut hanya ditempati warga sipil. Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut tuduhan Israel hanyalah “kebohongan sistematis” untuk membenarkan agresi brutal dan pemindahan paksa yang melanggar hukum internasional.
Rencana Israel disebut mencakup penguasaan penuh atas Kota Gaza dengan memaksa sekitar satu juta penduduk mengungsi ke selatan, mengepung kota, lalu memperluas serangan ke kamp-kamp pengungsi di Gaza tengah. Para pakar hukum internasional menilai penghancuran menara-menara tinggi di kawasan padat penduduk sebagai eskalasi serius perang perkotaan yang membahayakan ratusan ribu warga sipil.
Pertahanan Sipil Palestina menyerukan komunitas internasional untuk segera bertindak menghentikan kejahatan terorganisir ini. “Berapa lama lagi warga sipil akan dibiarkan tanpa tempat aman di dunia ini?” demikian pernyataan mereka.
Sumber:








