Para pejabat medis di Gaza mengatakan Israel telah menghancurkan sembilan dari 10 klinik kesuburan di Gaza. Selain itu, embrio yang tersisa masih dalam bahaya, meskipun ada gencatan senjata. Ini terjadi karena adanya kekurangan bahan bakar dan nitrogen cair untuk menjaga suhu embrio tetap optimal.
Serangan yang Menghancurkan Impian untuk Mendapatkan Keturunan
Seorang perempuan Gaza, Maysera al-Kafarna, menyortir baju bayi berwarna biru yang akan ia bawa untuk anak yang seharusnya ia lahirkan. Namun, impiannya untuk menjadi seorang ibu telah pupus oleh genosida Israel di Gaza. Genosida telah menghancurkan sistem perawatan kesehatan yang menyelamatkan nyawa, serta pusat-pusat kesuburan untuk merencanakan kehamilan.
Setelah bertahun-tahun mencoba, al-Kafarna dan suaminya beralih ke fertilisasi in vitro (IVF). Mereka membekukan embrio di sebuah pusat kesuburan, sembari menunggu genosida berakhir. Akan tetapi, Israel menyerang klinik tersebut.
“Kami menyimpan empat embrio yang layak di sana pada bulan-bulan pertama genosida. Kami terkejut mengetahui bahwa embrio-embrio itu hancur ketika Israel menyerang klinik tersebut,” kata al-Kafarna. “Itu sangat menyakitkan. Kami merasa seperti kehilangan sebagian dari diri kami sendiri. Kami menunggu kesempatan untuk memiliki bayi kami.”
Serangan yang Berupaya untuk Mencegah Kelahiran
Para pembela hak asasi manusia mengatakan bahwa serangan Israel terhadap kesehatan reproduksi di Gaza adalah contoh nyata dari tindakan genosida. Hal tersebut juga sesuai dengan definisi genosida dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tahun lalu, para penyelidik PBB menyimpulkan bahwa serangan Israel terhadap klinik kesuburan dan bangsal bersalin merupakan bagian dari upaya Israel untuk menghancurkan rakyat Palestina.
Pada September 2024, Komisi Penyelidikan PBB menemukan bahwa Israel terlibat dalam empat dari lima tindakan genosida di Gaza, termasuk upaya untuk mencegah kelahiran. “Serangan terhadap fasilitas kesehatan, termasuk yang menawarkan layanan kesehatan seksual dan reproduksi, telah memengaruhi sekitar 545.000 perempuan dan anak perempuan yang berada dalam usia reproduksi di Gaza,” tulis para penyelidik PBB
Para penyelidik PBB secara khusus meninjau serangan Israel terhadap klinik IVF Al-Basma di Kota Gaza pada Desember 2023. Serangan itu menghancurkan ribuan embrio, sampel sperma, dan materi reproduksi lainnya. “Komisi menemukan bahwa pihak berwenang Israel mengetahui bahwa pusat medis itu adalah klinik kesuburan. Namun, mereka bermaksud untuk menghancurkannya,” kata penyelidik PBB. “Oleh karena itu, Komisi menyimpulkan bahwa penghancuran klinik IVF Al-Basma merupakan tindakan yang bertujuan untuk mencegah kelahiran di kalangan warga Palestina di Gaza.”
Serangan yang Menyebabkan Turunnya Angka Kelahiran
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan penurunan angka kelahiran sebesar 41 persen di Gaza pada semester pertama tahun 2025. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya. Di luar serangan langsung terhadap fasilitas perawatan kesehatan reproduksi, blokade Israel terhadap pasokan medis dan makanan semakin merugikan bayi baru lahir dan memperburuk angka kelahiran.
“Ketidakmampuan mengakses perawatan medis dan nutrisi yang tepat telah merusak kapasitas reproduksi. Hal tersebut menyebabkan kemandulan, keguguran, komplikasi, dan kematian ibu, serta kesehatan yang buruk bagi bayi baru lahir,” menurut sebuah studi oleh Physicians for Human Rights.
Terlepas dari kondisi buruk yang terus berlanjut, dokter spesialis kesuburan Abdel Nasser al-Kalhout mengatakan dia berharap dapat melanjutkan pekerjaannya sesegera mungkin setelah kondisi memungkinkan. “Kami berharap setelah genosida berakhir, kami dapat memulai kembali. Kami berharap dapat memulihkan harapan orang-orang yang kehilangan embrio mereka. Juga, bagi pasangan yang telah memulai perawatan tetapi tidak dapat berlanjut karena genosida,” kata al-Kalhout.
Sumber: Al Jazeera








