Pada 7 Desember, rezim Partai Baath di Suriah kehilangan kendali atas Damaskus dan beberapa wilayah lain karena keberhasilan kelompok oposisi dalam mengambil kendali atas sejumlah besar wilayah di ibu kota. Dengan runtuhnya kekuasaan Partai Baath selama 61 tahun, Presiden Suriah Bashar al-Assad pun meninggalkan Damaskus.
Di tengah peralihan kekuasaan ini, Israel mengambil kesempatan dengan memperluas pendudukannya di Dataran Tinggi Golan Suriah. Militer Israel memasuki zona penyangga di Dataran Tinggi Golan di bawah arahan Perdana Menteri Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz.
Sejak 1967, Israel telah menduduki Dataran Tinggi Golan. Pada 1974, perjanjian pelepasan antara Israel dan Suriah ditandatangani untuk menetapkan batas-batas zona penyangga dan membentuk wilayah demiliterisasi.
Namun, kenyataannya militer Israel telah melampaui zona penyangga yang ditetapkan PBB. Pasukan Israel menduduki wilayah strategis dan terus maju hingga jarak yang tersisa hanya 25 km dari Damaskus, menurut Reuters. Israel juga terus membombardir infrastruktur militer Suriah, membuat situasi di kawasan semakin tidak stabil.
“Israel memperluas kendali dan pendudukannya atas lebih banyak wilayah di selatan Suriah, mulai dari Dataran Tinggi Golan hingga Gunung Hermon dan desa-desa lain di Quneitra,” kata analis militer Elijah Magnier kepada Anadolu.
Dengan menyatakan perjanjian 1974 batal demi hukum, Israel pada dasarnya telah menyatakan perang terhadap Suriah, tegasnya.
Menyerang lebih banyak wilayah Suriah merupakan bagian dari upaya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengejar proyek “Israel Raya” yang membayangkan Israel membentuk kembali wilayah tersebut dengan menginvasi dan menduduki wilayah yang luas di negara-negara tetangganya, termasuk Suriah, katanya.
Menurut Magnier, Israel telah menyita ratusan kilometer tanah di Suriah selama 48 jam terakhir, termasuk Gunung Hermon, Quneitra, dan bagian lain Dataran Tinggi Golan.
“Israel masih terus maju dan telah menduduki lebih dari 600 kilometer persegi (lebih dari 230 mil persegi) yang kurang lebih dua kali lipat luas Jalur Gaza,” katanya.
Israel saat ini berada dalam posisi memiliki kesempatan untuk menduduki dan merebut lebih banyak tanah di Suriah, serta Iran dan Lebanon, tambah Magnier.
Sumber: https://www.aa.com.tr
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








