Sejarawan Prancis Jean-Pierre Filiu mengungkapkan bukti meyakinkan bahwa Israel secara sengaja mendukung para penjarah yang menyerang konvoi bantuan di Gaza. Filiu, profesor studi Timur Tengah di Sciences Po, menghabiskan lebih dari sebulan di Gaza pada akhir 2023 dan awal 2024. Ia menjadi saksi langsung bagaimana operasi militer Israel memfasilitasi penjarahan bantuan yang sangat dibutuhkan warga.
Dalam bukunya A Historian in Gaza, Filiu menggambarkan sebuah insiden di Al-Mawasi, wilayah yang disebut “ zona kemanusiaan” tetapi padat oleh ratusan ribu pengungsi. Setelah berminggu-minggu konvoi diserang, PBB menguji rute baru dengan pengawalan keluarga-keluarga berpengaruh yang direkrut Hamas. Namun konvoi tersebut kembali diserang. Filiu, yang berada beberapa ratus meter dari lokasi, menegaskan bahwa quadcopter Israel mendukung para penjarah dengan menyerang tim keamanan lokal. Dua tokoh masyarakat yang bertugas melindungi konvoi terbunuh, dan 20 dari 66 truk dijarah.
Menurut Filiu, Israel bertujuan mendiskreditkan Hamas dan PBB, sekaligus memberdayakan geng penjarah untuk membangun jaringan dukungan atau menjual bantuan demi mendapatkan uang tunai. Temuannya sejalan dengan memo internal PBB yang saat itu menggambarkan adanya “kebaikan pasif, bahkan aktif” dari Israel terhadap kelompok-kelompok kriminal yang menguasai konvoi bantuan.
Filiu juga menyatakan bahwa Israel mengebom rute alternatif yang dibuka oleh World Food Programme untuk menghindari titik-titik rawan penjarahan. Banyak pejabat bantuan sebelumnya telah melaporkan bahwa serangan Israel terhadap kantor polisi dan pengawal konvoi telah menciptakan kekosongan hukum, membuat distribusi bantuan sangat rentan terhadap perampokan bersenjata.
Israel membantah hal tersebut. Juru bicara militer mengklaim bahwa serangan yang disebutkan Filiu merupakan operasi terhadap “teroris bersenjata” yang berusaha merebut bantuan untuk kepentingan Hamas. Meski demikian, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pernah mengakui bahwa Israel membantu kelompok Popular Forces, milisi anti-Hamas yang diketahui melibatkan para penjarah dalam strukturnya.
Situasi penjarahan terjadi ketika Gaza berada di ambang kelaparan, sebagaimana dilaporkan lembaga-lembaga kemanusiaan internasional. Israel pada waktu itu juga memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya bantuan ke Gaza. Sementara itu, Israel menuduh Hamas mencuri bantuan, tetapi Hamas membantahnya. Ini sejalan dengan analisis USAID yang menyatakan tidak ada bukti pencurian bantuan oleh Hamas.
Filiu, yang telah mengunjungi Gaza selama beberapa dekade, menggambarkan bahwa kehancuran yang ia saksikan, belum pernah terjadi sebelumnya: “Apa pun yang pernah berdiri telah dihapus, dilenyapkan.”
Ia menyimpulkan bahwa agresi Israel tidak hanya menghancurkan Gaza secara fisik tetapi juga menandai runtuhnya seluruh batasan moral dan hukum internasional. “Ini adalah laboratorium dunia pasca-PBB, dunia pasca-Konvensi Jenewa, dunia pasca-deklarasi hak asasi manusia — dan dunia ini sangat menakutkan karena bahkan tidak rasional,” ujarnya.
Sumber:
MEMO
![Truk-truk pengangkut bantuan kemanusiaan melewati Perlintasan Perbatasan Kissufim dan menuju Gaza berdasarkan perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, dan tiba di Jalur Gaza di Deir al-Balah, Gaza pada 12 November 2025. [Mohammed Nassar – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/12/AA-20251112-39691593-39691578-TRUCKS_LOADED_WITH_HUMANITARIAN_AID_CONTINUE_TO_ENTER_GAZA-750x375.webp)






![Tentara Israel, yang melancarkan serangan besar-besaran, melanjutkan serangannya untuk hari kedua di kota Tubas di wilayah utara Tepi Barat pada 27 November 2025. [Issam Rimawi – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/12/AA-20251127-39825867-39825846-ISRAELI_ARMY_CONTINUES_ITS_RAIDS_IN_TUBAS_IN_THE_WEST_BANK-75x75.webp)
