Israel dilaporkan telah meminta pembatalan Perjanjian Philadelphia yang ditandatangani dengan Mesir setelah penarikan diri sepihaknya dari Jalur Gaza pada tahun 2005, Al-Araby Al-Jadeed melaporkan pada Selasa (20/8), mengutip sumber yang terpercaya. Entitas penjajah tersebut juga ingin memperkenalkan amandemen terhadap perjanjian damai Mesir-Israel yang dikenal sebagai Perjanjian Camp David untuk mempertahankan kendali atas jalur perbatasan antara Mesir, Naqab (Negev), dan Jalur Gaza.
Permintaan Israel tersebut disampaikan selama putaran perundingan tripartit antara Israel, Mesir, dan AS pada hari Ahad (18/8) dan Senin (19/8) di Kairo. Perundingan tersebut merupakan upaya lain untuk mencapai kesepahaman keamanan terkait Koridor Philadelphia dan Penyeberangan Rafah sebagai bagian dari upaya untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tawanan antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza.
Laporan itu mengatakan bahwa pembicaraan itu gagal membuat kemajuan yang signifikan; karena Israel bersikeras untuk menyelesaikan pengaturan keamanan baru yang akan memastikan keberadaan pasukan militernya di Koridor Philadelphia. Sumber-sumber itu mengatakan bahwa Mesir telah dengan tegas menolak permintaan Israel dan bersikeras agar tentara Israel ditarik sepenuhnya dari daerah itu.
Mereka juga mengonfirmasi bahwa delegasi Israel mengajukan permintaan resmi untuk meninjau Perjanjian Camp David. Permintaan tersebut bertujuan untuk melegitimasi kendali negara pendudukan atas Koridor Philadelphia dan mengizinkannya untuk campur tangan kapan saja dalam menghadapi apa yang dianggapnya sebagai ancaman terhadap keamanannya tanpa perlu izin terlebih dahulu dari Mesir.
“Israel telah menuntut amandemen tertulis yang menjamin “pengawasan situasi keamanan di wilayah perbatasan dari pihak Palestina,” kata sumber tersebut.
Kairo menolak tuntutan yang “mengejutkan” tersebut dan memperingatkan bahwa, “Membuka diskusi tentang amandemen Perjanjian Camp David dapat menyebabkan krisis baru yang mungkin tidak dapat diatasi oleh perjanjian tersebut, terutama mengingat meningkatnya kemarahan di Mesir atas penjajahan Israel di Gaza.
Pejabat Mesir menekankan bahwa Kairo akan memberikan jaminan untuk mencegah eksploitasi wilayah perbatasan untuk tujuan perlawanan Palestina.
Saluran berita resmi Kairo pada Senin membantah laporan media Israel yang mengklaim bahwa Mesir telah setuju untuk mengizinkan pasukan pendudukan tetap berada di Koridor Philadelphia dan mengonfirmasi kepatuhan Mesir terhadap tuntutan penarikan penuh Israel dari Penyeberangan Rafah dan Koridor Philadelphia.
Pada bulan September 2005, Israel dan Mesir menandatangani Perjanjian Philadelphia sebagai lampiran keamanan Perjanjian Camp David setelah Israel menarik pasukannya dari Jalur Gaza. Perjanjian tersebut mengatur penempatan 755 tentara Mesir di perbatasan dengan Jalur Gaza yang misinya adalah untuk “memerangi terorisme, infiltrasi melintasi perbatasan, penyelundupan, dan mendeteksi terowongan.”
Selama berbulan-bulan, AS, Qatar, dan Mesir telah berupaya mencapai kesepakatan antara Israel dan Hamas untuk memastikan pertukaran tawanan dan gencatan senjata, serta mengizinkan bantuan kemanusiaan memasuki Gaza.
Namun, upaya mediasi terhenti karena Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak memenuhi tuntutan Hamas untuk menghentikan perang. Israel memilih untuk mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, dengan terus melanjutkan serangan brutalnya di Gaza yang kini telah memasuki bulan kesebelas.
Serangan Israel telah membunuh hampir 40.200 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 93.000 orang. Diperkirakan 11.000 orang hilang, diduga terbunuh, di bawah reruntuhan rumah mereka dan infrastruktur sipil lainnya yang dihancurkan oleh Israel. Sebagian besar wilayah Gaza telah hancur di tengah blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan.
Sumber: https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








