Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med mengatakan Israel memanfaatkan fokus internasional pada perang dengan Iran untuk mengintensifkan tindakannya dalam membuat warga sipil di Jalur Gaza kelaparan. Mereka mencatat bahwa pasukan Israel telah menutup perbatasan yang menuju ke wilayah tersebut.
Dalam pernyataan pers pada Senin (16/03), organisasi yang berbasis di Jenewa itu mengatakan bahwa otoritas Israel menutup semua perbatasan dengan Gaza pada tanggal 28 Februari. Israel menangguhkan masuknya bantuan kemanusiaan, bahan bakar, dan pasokan komersial.
Menurut kelompok tersebut, Israel membuka kembali sebagian perlintasan Kerem Abu Salem pada tanggal 3 Maret. Ini memungkinkan sejumlah kecil bahan bakar dan pengiriman bantuan masuk ke wilayah tersebut. Namun, hingga akhir pekan lalu, hanya puluhan truk yang mendapat izin lewat, sekitar 30 truk lebih sedikit daripada rata-rata harian yang mendapat izin sebelum pecahnya perang dengan Iran.
Mereka menambahkan pula bahwa Israel belum mematuhi komitmen yang diuraikan dalam perjanjian gencatan senjata. Perjanjian ini khususnya mengenai masuknya bantuan kemanusiaan dan barang-barang komersial ke Gaza.
Berdasarkan perjanjian gencatan senjata, yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, sekitar 600 truk per hari seharusnya memasuki wilayah tersebut. Namun, data resmi menunjukkan bahwa jumlah truk yang sebenarnya mendapat izin masuk tidak melebihi 41% dari jumlah yang disepakati.
Baca juga : “WFP: Ancaman Kelaparan Katastrofik di Gaza Berisiko Kembali Meski Bantuan Meningkat“
Euro-Med juga menyoroti pelanggaran besar terkait pasokan bahan bakar. Mereka mencatat bahwa hanya 14,8% dari jumlah bahan bakar yang disepakati yang mendapat izin masuk ke Gaza. Kelangkaan bahan bakar terus melumpuhkan sektor-sektor vital, termasuk rumah sakit, jaringan air dan sanitasi, layanan bantuan, dan transportasi.
Dalam perkembangan terkait, Iyad Al-Shorbaji, kepala Otoritas Perminyakan Umum Gaza, mengatakan kepada Kantor Berita Sanad bahwa wilayah tersebut membutuhkan sekitar 8.000 ton gas masak per bulan, dengan konsumsi harian rata-rata sekitar 260 ton. Namun, jumlah yang saat ini Israel izinkan masuk tidak melebihi 20% dari kebutuhan sebenarnya.
Euro-Med Monitor juga menyatakan bahwa otoritas Israel memberikan angka yang menyesatkan mengenai volume bantuan yang masuk ke Gaza. Israel juga menolak untuk mengizinkan pemantauan internasional independen terhadap pengiriman bantuan.
Organisasi tersebut menekankan bahwa situasi ini tidak hanya merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata, tetapi juga merupakan bagian dari tindakan yang termasuk ke dalam kejahatan genosida.
Sebelumnya, otoritas Israel mengumumkan penutupan semua penyeberangan di wilayah Palestina. Ini termasuk penyeberangan Rafah di Gaza selatan, hingga pemberitahuan lebih lanjut, dengan alasan eskalasi AS-Israel yang sedang berlangsung.
Penutupan perlintasan, khususnya Rafah, telah menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan dan medis ke Jalur Gaza. Ini terjadi di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan dan kekurangan pasokan penting yang parah. Israel kemudian mengumumkan bahwa perlintasan Kerem Abu Salem akan mereka buka kembali secara bertahap untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan terbatas masuk ke wilayah tersebut.
Sumber: Palinfo








