Nyawa Pasien Gaza Terancam Akibat Blokade
Israel menyampaikan ke pengadilan tingkat kasasi bahwa mereka tidak akan mengizinkan evakuasi pasien yang kritis dari Jalur Gaza ke rumah sakit di Tepi Barat atau Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur). Haaretz melaporkan bahwa Israel mengklaim ada alasan “masalah keamanan” jika memberikan izin tersebut.
Israel menyampaikan pernyataan tersebut pada Senin (26/01) sebagai tanggapan atas petisi dari organisasi hak asasi manusia Israel yang mendesak pihak berwenang untuk mengizinkan pasien di Gaza mengakses perawatan medis di rumah sakit Tepi Barat dan Al-Quds.
Menurut Haaretz, Israel mengatakan kepada pengadilan bahwa mereka menolak untuk menyetujui pemindahan warga Gaza yang sakit parah. Hal ini terjadi meskipun tujuannya adalah untuk mendapatkan perawatan di daerah yang mereka tuju.
Israel beralasan bahwa pergerakan pasien dapat menimbulkan risiko keamanan, termasuk dugaan transfer informasi dan “ekspor infrastruktur teroris”. Sebaliknya, meskipun tetap memblokade Gaza, Israel menyarankan agar pasien melakukan perjalanan ke negara ketiga untuk menerima perawatan.
Para aktivis hak asasi manusia telah memperingatkan bahwa tindakan tersebut secara efektif menolak perawatan yang menyelamatkan nyawa banyak pasien. Penolakan terjadi di tengah sektor kesehatan Gaza yang hancur dan menghadapi kekurangan obat-obatan, peralatan, dan layanan khusus.
Puluhan Ribu Pasien Menunggu Izin Perjalanan
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan pada Selasa (27/01) bahwa lebih dari 20.000 pasien sedang menunggu izin perjalanan ke luar negeri untuk perawatan medis. Mereka memperingatkan bahwa penutupan perbatasan Rafah yang terus berlanjut merupakan ancaman langsung bagi nyawa mereka.
Kementerian tersebut mengatakan bahwa di antara pasien-pasien ini terdapat 440 kasus yang masuk klasifikasi kasus “penyelamatan jiwa”. Selain itu, sekitar 4.500 pasien adalah anak-anak yang mendapat rujukan medis untuk mendapat perawatan di luar Jalur Gaza.
Menurut kementerian, sebanyak 1.268 pasien telah meninggal dunia saat menunggu izin untuk bepergian. Pasien kanker adalah yang paling terdampak, dengan sekitar 4.000 kasus kanker saat ini berada dalam daftar tunggu. Hanya 3.100 pasien yang berhasil dievakuasi dari Gaza sejak penutupan penyeberangan Rafah pada 7 Mei 2024, meskipun mekanisme kepergian mereka masih belum jelas.
Sumber: Middle East Monitor, Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)