Pemerintah Gaza mengecam keras perintah terbaru Israel yang melarang warga mendekati laut dan menyebutnya sebagai bagian dari taktik sistematis untuk membuat rakyat kelaparan dan menghancurkan salah satu sumber penghidupan terakhir mereka, yaitu sektor perikanan.
Dalam pernyataan kepada Quds News Network, Dr. Ismail Al-Thawabta, Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, menyatakan bahwa larangan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, termasuk hak atas pekerjaan dan hidup yang bermartabat. “Penjajah tidak hanya menutup jalur darat, tapi juga memblokade laut, mencegah ribuan nelayan mencari nafkah dan menargetkan mereka dengan tembakan langsung,” ujarnya.
Sejak Oktober 2023, Israel telah melakukan berbagai pelanggaran berat terhadap sektor perikanan Gaza:
Lebih dari 215 nelayan terbunuh di Gaza selatan.
- Seluruh pelabuhan perikanan dihancurkan dan aktivitas laut dihentikan total.
- Proyek budidaya ikan senilai jutaan dolar seperti proyek “Bahhar” dihancurkan, pekerjanya dibunuh, dan ribuan ikan mati karena tak terurus.
Akibatnya, ribuan keluarga kehilangan satu-satunya sumber pendapatan, dan keamanan pangan laut Gaza runtuh total. Al-Thawabta menegaskan, ini merupakan bentuk hukuman kolektif dan pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa Keempat serta Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya.
Menurut data awal, kerugian langsung akibat perang genosida Israel di 15 sektor vital Gaza telah melampaui $62 miliar, dengan sektor pertanian dan perikanan menanggung kerugian sebesar $2,2 miliar.
Pada Sabtu pagi, militer Israel mengeluarkan ancaman keras, “Kami memperingatkan para nelayan, perenang, dan penyelam untuk tidak memasuki laut. Memasuki laut di sepanjang Jalur Gaza membuat Anda dalam bahaya.
Bagi rakyat Gaza yang dikepung dari segala arah, yakni dengan ditutupnya jalur darat, dibombardir dari udara, dan diusir dari rumah—laut adalah satu-satunya ruang terbuka yang tersisa. Namun kini, laut pun berubah menjadi zona bahaya.
Di tengah blokade makanan yang makin ketat, banyak warga Gaza bergantung pada ikan sebagai sumber protein terakhir mereka. Warga Gaza di media sosial menyebut larangan ini sebagai “serangan terhadap nafas terakhir kebebasan mereka.”








