Kendaraan militer Israel dilaporkan kembali memasuki sejumlah wilayah di Kamp Pengungsi Jabalia, Gaza utara, pada Ahad (21/12), dalam pelanggaran terbaru terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Aksi ini disertai tembakan intens dan pengerahan buldoser militer.
Menurut saksi mata, invasi tersebut menyasar kawasan Al-Trans, Al-Hawja, Nassar, dan sekitar Bundaran Zayed. Pasukan Israel meratakan lahan dan memasang balok beton kuning baru, yang semakin mempersempit area tempat ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi diizinkan bertahan.
Militer Israel juga memindahkan batas ilegal “garis kuning” di beberapa titik di Jabalia, melampaui batas yang sebelumnya disepakati. Di sejumlah lokasi, pergeseran mencapai lebih dari 500 meter, bahkan hingga 800–1.000 meter di area lain, yang berarti perampasan wilayah baru.
Langkah ini merupakan bagian dari invasi darat berulang dan perluasan zona militer secara bertahap. Pasukan Israel dilaporkan menembaki warga sipil hampir setiap hari di luar garis kuning, dengan tujuan mengosongkan permukiman dan mempermudah penguasaan wilayah tambahan.
Pada awal bulan ini, Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, menyebut garis kuning tersebut sebagai “perbatasan baru” antara Israel dan Gaza, serta menegaskan bahwa militer harus bersiap menghadapi kemungkinan perang mendadak.
Sumber:
Qudsnen








