Israel mengklaim bahwa wilayah kosong di Gaza tengah dan selatan mampu menampung lebih dari satu juta warga yang dipaksa mengungsi dari Kota Gaza. Namun, laporan lapangan menunjukkan sebaliknya.
Banyak lokasi yang disebut “zona aman” ternyata bukan tempat layak huni: sebagian adalah tempat pembuangan sampah, kawasan hancur penuh puing, atau tanah yang dibuldoser dan tetap menjadi sasaran tembakan harian, baik oleh tank, drone, maupun penembak jitu. Seorang perempuan baru-baru ini bahkan terbunuh ditembak quadcopter saat berada di dalam tendanya di kamp pengungsian.
Wali Kota Deir Balah, Nizar Ayash, menegaskan kotanya sudah tidak bisa menerima pengungsi lagi. Pantai sudah penuh sesak, wilayah timur menjadi zona merah, sementara infrastruktur lumpuh dan instalasi desalinasi hampir tidak berfungsi. Ia memperingatkan Gaza tengah menghadapi bencana kemanusiaan jika pengungsian terus berlangsung.
Kantor Media Pemerintah Gaza juga membantah klaim Israel tentang “lahan kosong yang luas”. Saat ini lebih dari 1,25 juta pengungsi telah menumpuk di Gaza tengah dan selatan. Daerah seperti Al-Mawasi yang ditunjuk Israel dinilai terlalu sempit dan tidak memiliki fasilitas dasar untuk menampung penduduk dalam jumlah besar.
Pejabat Gaza menegaskan bahwa menurut hukum internasional, pemindahan paksa warga sipil ini merupakan kejahatan perang sekaligus kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sumber:
Unmasking Israel’s Map: Israel’s “Safe Zones” in Gaza Are Dumps, Ruins, and Military Sites








