Perdana Menteri Palestina, Mohammed Shtayyeh, pada Minggu (27/11) mengatakan bahwa Israel mencuri 600 juta meter kubik dari 800 juta meter kubik air Palestina dan mengalihkannya ke kota-kota dan permukiman Yahudi. Shtayyeh membuat pernyataan tersebut pada Konferensi Air Arab Keempat yang diselenggarakan oleh Negara Palestina dengan judul “Arab Water Security for Life, Development and Peace“.
Shtayyeh mengatakan dua per tiga dari air tanah Palestina di Tepi Barat digunakan di Israel. Ia menjelaskan bahwa rata-rata orang Israel mengkonsumsi 430 liter air per hari, sementara orang Palestina hanya mengkonsumsi 72 liter, jauh lebih sedikit dari rata-rata global 120 liter.
“Kami berjuang untuk hak atas air kami, dan konferensi ini membuka mata untuk lebih banyak kerja sama Arab di sektor air,” kata Shtayyeh. Ia menjelaskan bahwa pemerintah Palestina menerapkan “strategi pemanenan air”, dan telah meluncurkan proyek bendungan. di Wadi Al-Far’a, serta mengerjakan pembangunan proyek desalinasi air di Gaza, dengan bantuan dana dari Uni Eropa dan donor lainnya.
Perdana Menteri menjelaskan bahwa pemerintahnya, sejak menjalankan tugasnya 3,5 tahun lalu, telah menginvestasikan sekitar $500 juta dalam proyek air dan sanitasi. Ia berterima kasih kepada mitra internasional yang telah membiayai “sektor strategis” ini. Shtayyeh memperingatkan bahwa Laut Mati terancam kekeringan total pada 2044, karena tindakan Israel, seperti mengalihkan sumber daya airnya dan menambang sumber daya mineral dan garam.
“Air di dunia Arab adalah masalah politik dan ekonomi yang memerlukan visi strategis. Negara kita menghadapi tantangan nyata terkait kelangkaan sumber daya air dan pencurian,” katanya. Shtayyeh menjelaskan bahwa air merupakan komponen utama dalam konflik Palestina-Israel, menambahkan bahwa permukiman pertanian Israel bertujuan untuk mengontrol sumber daya air sejak tahap awal.
“Solusi teknologi untuk krisis air memang sangat penting, tetapi bukanlah pengganti realisasi hak atas air berdasarkan hukum internasional, untuk memenuhi kesenjangan antara ketersediaan sumber daya air dan kebutuhan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk,” dia menambahkan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








