Israel memperketat kendali atas Tepi Barat yang diduduki sekaligus semakin mengisolasi Al-Quds (Yerusalem) dari lingkungan Palestina di sekitarnya. Salah satu langkah utama adalah rencana pembangunan sekitar 9.000 unit permukiman ilegal di utara Al-Quds (Yerusalem), di kawasan sekitar bekas bandara dan wilayah sekitarnya. Proyek ini secara langsung mengancam kesinambungan geografis dan demografis antara Al-Quds (Yerusalem) dan Ramallah.
Pemerintah Provinsi Al-Quds (Yerusalem) pada Senin (15/12) memperingatkan bahwa rencana tersebut merupakan “proyek berbahaya” yang akan memutus keterhubungan dengan kawasan Palestina. Pembangunan permukiman itu ditujukan ke kawasan padat penduduk Palestina, termasuk Kafr Aqab, Qalandiya, al-Ram, Beit Hanina, Bir Nabala, dan lingkungan sekitarnya. Otoritas Al-Quds (Yerusalem) menilai proyek ini akan memperdalam isolasi dan segregasi, serta menggagalkan prospek politik apa pun.
Komite Perencanaan dan Pembangunan Distrik Israel dijadwalkan menggelar pertemuan pada Rabu untuk membahas percepatan proyek tersebut, termasuk kemungkinan menyetujui prinsip-prinsip inti seperti alokasi ruang komersial dan fasilitas publik. Jika terlaksana, proyek ini akan membentuk kantong permukiman yang memutus Al-Quds (Yerusalem) bagian utara dari lingkungan Palestina di sekitarnya.
Sebelumnya, Komisi Palestina untuk Perlawanan terhadap Tembok dan Permukiman melaporkan bahwa Israel menyita sekitar 2.800 dunam (1 dunam = 1000 m²) lahan di Tepi Barat pada November lalu melalui perintah militer, perampasan aset, dan perubahan batas “tanah negara”.
Di sisi lain, harian Haaretz melaporkan rencana tentara Israel membangun tembok pemisah baru jauh di wilayah Lembah Yordan bagian utara, yang dikenal sebagai proyek “Garis Merah”. Tembok ini akan membentang sekitar 22 kilometer dengan lebar mencapai 50 meter, menyerupai tembok pemisah di wilayah Tepi Barat lainnya.
Proyek tersebut bertujuan mengisolasi komunitas Palestina dari lahan pertanian dan area penggembalaan, serta mencakup pembongkaran rumah, kandang ternak, rumah kaca, gudang, jaringan air, sumur, dan lahan pertanian di sepanjang jalurnya. Hingga kini, Israel belum mempublikasikan peta rute lengkap proyek kolonial tersebut.
Pejabat pemeriksa berkas Lembah Yordan di Pemerintah Provinsi Tubas, Moataz Bisharat, menjelaskan bahwa pembangunan tembok dimulai dari Ein Shibli, lokasi pembangunan pos militer baru yang akan dijadikan penyeberangan permanen, lalu melintasi dataran al-Buqeia, lahan Tammoun dan Tubas, hingga ke timur Tayasir. Menurutnya, di beberapa titik, lebar tembok melebihi satu kilometer.
Bisharat memperingatkan dampak paling berbahaya berupa pemisahan total akibat lebih dari 190.000 dunam lahan di sebelah timur jalan menjadi terisolasi. Ribuan dunam yang ditanami sayuran, zaitun, dan pisang terancam dihapus bersama jaringan saluran irigasi.
Sebanyak 22 desa Palestina yang dihuni sekitar 600 keluarga kini menghadapi risiko serius setelah Israel mengeluarkan pemberitahuan terhadap rumah dan kandang ternak. Ia menegaskan, rencana ini bertujuan mengakhiri keberadaan Palestina di kawasan tersebut dan menghancurkan lumbung pangan Palestina.
Sumber: Qudsnen








