Melalui pengeboman, penghancuran, dan perataan wilayah dengan buldoser, pasukan pendudukan Israel terus berupaya memaksakan sebuah realitas baru di Jalur Gaza—realitas yang memperkuat pendudukan mereka yang keji dan meneruskan pelaksanaan rencana genosida terhadap rakyat Palestina. Tindakan ini mengabaikan kebenaran sejarah, yang pada akhirnya selalu berpihak pada keteguhan mereka yang mempertahankan tanahnya.
Upaya terbaru Israel yang diumumkan pada Rabu ini mencakup pembangunan sebuah koridor baru yang membelah Khan Yunis bagian timur dan barat. Langkah ini dilakukan setelah berminggu-minggu pengeboman brutal dan penghancuran total terhadap rumah-rumah, gedung-gedung, dan infrastruktur, menjadikannya sebagai salah satu kampanye pembersihan etnis terhadap kehidupan perkotaan terbesar dalam sejarah modern.
Koridor baru yang diberi nama “Poros Magin Oz” oleh Israel ini bermula dari wilayah Morag di selatan Khan Yunis dan membentang ke utara mengikuti Jalan Salah al-Din. Koridor ini secara efektif memisahkan wilayah Jorat al-Lout, al-Fukhari, Khuza’a, Bani Suheila, Abasan al-Kabira, Abasan al-Jadida, sebagian al-Satar, hingga mencapai al-Qarara di Khan Yunis bagian utara.
Berdasarkan pengamatan dan penilaian lapangan, ini bukan sekadar jalan taktis, melainkan bagian dari rencana untuk membagi kembali wilayah dan memaksakan realitas baru yang menguntungkan tujuan pendudukan—terutama di tengah negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Banyak pihak meyakini bahwa pengumuman pembangunan koridor di tengah intensitas pembicaraan gencatan senjata ini merupakan bentuk tekanan dan pemerasan terhadap pihak Palestina, sekaligus bagian dari hukuman kolektif serta kelanjutan dari genosida yang sedang berlangsung di Gaza.
Dalam konteks ini, penulis dan analis politik Wissam Afifeh menekankan bahwa waktu pengumuman pembangunan koridor ini menunjukkan langkah tersebut lebih merupakan taktik tekanan politik daripada kebutuhan militer. Mengingat sifat sementara dari operasi Israel, mereka bisa saja menyebut area mana pun sebagai “koridor”.
Dalam pernyataannya kepada Palestinian Information Center, Afifeh menambahkan bahwa langkah ini juga tampak sebagai bentuk balas dendam dan hukuman kolektif atas operasi perlawanan terbaru di Khan Yunis. Ia memperingatkan bahwa pendudukan sedang mencoba memperkuat eksistensi kantong-kantong terisolasi di berbagai wilayah.
Ia juga menegaskan bahwa aspek paling berbahaya dari rencana ini adalah penghancuran total yang dilakukan oleh pasukan pendudukan, yang pada dasarnya menyadari bahwa mereka tidak dapat mempertahankan kehadiran penuh dan permanen di koridor-koridor tersebut.
Penilaian lokal menunjukkan bahwa pendudukan Israel berniat mengubah Khan Yunis bagian timur menjadi zona tak berpenghuni, tanpa aktivitas perlawanan dan terputus dari jalur pasokan. Namun, semua upaya ini dipastikan akan gagal. Warga sipil tetap berusaha bertahan di wilayah tersebut, meski hanya dalam jumlah kecil. Sementara itu, kelompok perlawanan terus mengejutkan dunia dengan kemampuannya untuk menyerang—baik dari atas maupun bawah tanah—di setiap jengkal Jalur Gaza.
Sebelumnya, pasukan Israel sempat membangun koridor Netzarim yang memisahkan Kota Gaza dan wilayah Gaza tengah, namun terpaksa menarik diri setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata pada Januari. Setelah itu, mereka kembali ke sebagian wilayah tersebut dan membangun koridor lain yang menghubungkan Khan Yunis dan Rafah, yang sepenuhnya mengisolasi Rafah.
Sumber-sumber lapangan mengonfirmasi bahwa pengumuman pembangunan koridor ini tidak lebih dari simbol belaka dan tidak memiliki nilai strategis nyata. Pasukan Israel telah menghancurkan sebagian besar bangunan di wilayah timur Gaza, termasuk di al-Qarara, Ma’an, dan al-Satar—semuanya diratakan hingga rata tanah—dan penghancuran itu masih berlanjut. Mereka membangun jalan di atas puing-puing untuk mempermudah pergerakan, tetapi tidak dapat mempertahankan pijakan mereka karena takut akan serangan kelompok perlawanan, yang masih terus terjadi bahkan di wilayah yang dekat dengan pagar perbatasan.
Sumber:
Corridors, isolation zones: Colonial strategy to complete a plan of destruction and genocide








