Israel pada Kamis kembali mengancam akan menghalangi armada bantuan Global Sumud Flotilla yang berlayar menuju Gaza, dengan alasan wilayah tersebut berada di dalam “zona operasi tempur.” Rombongan kapal ini membawa bantuan kemanusiaan dan ratusan aktivis internasional dari berbagai negara, termasuk aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, sebagai bentuk penentangan terhadap blokade Israel yang telah berlangsung selama 19 tahun.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menegaskan melalui media sosial X bahwa Tel Aviv tidak akan mengizinkan kapal masuk ke zona perang. Ia mengklaim Israel sudah menerima usulan Italia untuk menurunkan kargo flotilla di Administrasi Siprus Yunani sebelum dialihkan ke Gaza, namun ditolak oleh penyelenggara. Menurutnya, penolakan itu menunjukkan tujuan flotilla hanyalah “provokasi dan melayani Hamas.”
Sementara itu, Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto meminta penyelenggara flotilla menerima rencana tersebut, meski hingga kini belum ada tanggapan resmi. Di sisi lain, para aktivis menegaskan misi ini bersifat kemanusiaan sekaligus simbolik, karena datangnya rombongan kapal secara langsung di Gaza merupakan perlawanan terhadap blokade laut Israel yang tidak sah menurut hukum internasional. Amnesty International menyebut blokade itu sebagai bentuk hukuman kolektif yang melanggar hukum internasional.
Sejak 2 Maret, Israel sepenuhnya menutup perlintasan Gaza, menghentikan masuknya pangan dan bantuan, sehingga memperdalam kondisi kelaparan. Bantuan yang terbatas hanya sesekali diizinkan masuk, namun kerap dijarah kelompok bersenjata yang ditengarai dilindungi Israel. Pada Rabu, penyelenggara flotilla melaporkan sembilan kapal mereka mengalami 12 ledakan akibat serangan drone, meski tidak menyebutkan pelakunya. Israel memilih bungkam, meski sebelumnya berulang kali mengancam akan menghentikan flotilla.
Israel telah beberapa kali mencegat kapal menuju Gaza, menyita dan mendeportasi para aktivis, termasuk kapal al-Dhamir, Madleen, dan Handala pada awal tahun ini. Namun, ini merupakan pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir puluhan kapal berlayar bersama secara terkoordinasi untuk menembus blokade Gaza, tempat tinggal 2,4 juta warga Palestina.
Sejak Oktober 2023, serangan militer Israel telah membunuh lebih dari 65.500 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Pengeboman tanpa henti membuat Gaza tidak lagi layak huni, memperparah kelaparan, serta memicu merebaknya penyakit.
Sumber:
Anadolu Agency, MEMO







