Israel memindahkan penduduk Gaza yang berada di pusat penahanan militer di Negev ke penjara yang dikelola militer di Tepi Barat yang dijajah.
Pengacara Israel mengatakan kepada Mahkamah Agung bahwa penduduk Gaza yang ditahan di situs Sde Teiman, yang difungsikan sebagai penjara setelah tanggal 7 Oktober, akan secara bertahap dipindahkan ke fasilitas penahanan permanen. Hal ini terjadi setelah laporan CNN menemukan bahwa warga Palestina telah disiksa, termasuk dengan penyiksaan berupa operasi yang dilakukan tanpa anestesi, menahan tawanan dalam posisi yang menyakitkan selama berhari-hari, dan memborgol secara ketat hingga berujung pada amputasi, menutup mata dalam waktu lama–bahkan ketika tawanan diberikan “perawatan medis” dan buang air besar, pemukulan, dan juga pelecehan.”
Pemindahan telah dimulai dan sebagian besar tawanan akan direlokasi dalam beberapa minggu. Pengacara negara, Aner Helman, menanggapi petisi yang diajukan oleh Asosiasi Hak Sipil di Israel, mengatakan kepada pengadilan bahwa 700 narapidana telah dipindahkan ke Penjara Ofer, 500 lainnya dijadwalkan untuk ditransfer dalam beberapa pekan mendatang, sementara 200 tawanan lainnya tetap berada di Sde Teiman, yang masa depannya belum diputuskan.
Penjajah Israel telah menahan lebih dari 5.000 warga Palestina di Jalur Gaza sejak Oktober, menurut Kantor Media Pemerintah. Hal ini berarti jumlah warga Palestina yang berada di penjara Israel hampir mencapai 10.000 orang.
Tidak ada penjelasan bagaimana penjara-penjara Israel yang sudah penuh sesak akan menangani para tawanan yang baru didatangkan ini.
Pada bulan Maret, Shin Bet dan tentara pendudukan membebaskan puluhan tawanan Palestina dari Penjara Ofer secara tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, setelah penilaian situasi oleh berbagai badan keamanan, menurut pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh mereka.
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa langkah ini disebabkan oleh kurangnya ruang di dalam penjara dan masa penahanan para tahanan tersebut akan berakhir bulan depan. Oleh karena itu, langkah tersebut diambil untuk memberikan ruang bagi tawanan yang dianggap memberikan ancaman lebih besar.
Sebulan kemudian, Israel menyetujui proposal untuk membangun sekitar 936 penjara tambahan untuk menahan tawanan Palestina.
Namun, Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, mengatakan penerapan hukuman mati terhadap tawanan Palestina adalah solusi tepat untuk mengatasi masalah kepadatan penjara.
Sumber: https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








