Pasca gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang mengakhiri agresi 15 bulan di Gaza pada 19 Januari 2024, perhatian militer Israel beralih ke wilayah pendudukan Tepi Barat. Serangan besar-besaran, yang dikenal sebagai operasi ofensif “Iron Wall” di Jenin, dimulai hanya dua hari setelah gencatan senjata dan telah menyebabkan sedikitnya 12 korban jiwa Palestina, termasuk seorang anak, serta pengungsian besar-besaran warga di kamp pengungsi.
Strategi iron wall ini berakar dari ideologi Zionis yang berkembang antara 1918–1920, ketika para pemimpin Zionis seperti Zeev Jabotinsky menyerukan penguasaan Palestina melalui kekuatan militer. Konsep ini bertujuan untuk membangun dominasi Yahudi di Palestina dengan memaksa penduduk Arab menerima kenyataan kekuasaan otoritas Israel melalui dinding besi kekuatan militer.
Pada saat ini, penyerangan ke Jenin tidak hanya mencerminkan strategi militer, tetapi juga permainan politik dalam koalisi pemerintahan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meluncurkan serangan ini untuk mengakomodasi tekanan dari Menteri Keuangan sayap kanan, Bezalel Smotrich, yang menentang gencatan senjata dengan Hamas. Netanyahu, yang menghadapi tudingan genosida, menggambarkan operasi ini sebagai langkah untuk memperkuat “keamanan di Yudea dan Samaria,” sebutan Israel untuk Tepi Barat.
Serangan selama tiga hari ini melibatkan penggalian jalan oleh buldoser lapis baja, penggerebekan, dan penghancuran rumah-rumah warga, memaksa ratusan keluarga meninggalkan rumah mereka dengan membawa sedikit barang. Di tengah kehancuran, kelompok hak asasi manusia Palestina melaporkan Israel melakukan eksekusi lapangan, penangkapan massal, dan penghancuran infrastruktur secara sistematis. Hingga kini, sedikitnya 873 warga Palestina terbunuh di Tepi Barat sejak Oktober 2023, dengan ribuan lainnya terluka.
Operasi militer ini memicu kecaman internasional. Prancis dan Yordania memperingatkan potensi eskalasi kekerasan di Tepi Barat, yang telah menjadi pusat perlawanan bersenjata Palestina selama bertahun-tahun. Sementara itu, pernyataan Israel yang mengklaim operasi bertujuan “melindungi warga” dibantah oleh kesaksian para korban yang dipaksa mengungsi.
Serangan di Jenin ini menunjukkan bagaimana strategi “Iron Wall” yang diwarisi dari ideologi awal Zionisme terus menjadi alat politik dan militer untuk mempertahankan kendali atas tanah Palestina, meskipun harus mengorbankan nyawa dan hak asasi manusia.
Wakil Gubernur Jenin, Mansour al-Saadi, mengatakan bahwa kampanye militer Israel yang terus berlangsung di kamp pengungsi bisa menjadi “pengulangan dari apa yang terjadi di Jalur Gaza utara, sebuah kampanye pemusnahan yang sistematis.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








