Layanan telepon dan internet kembali tersedia di Gaza setelah pemadaman komunikasi memutus wilayah terpenjara itu dari dunia luar. Paltel Group, yang menyediakan layanan komunikasi di Jalur Gaza, mengatakan layanan telekomunikasi secara bertahap dipulihkan.
“Kami dengan bangga mengumumkan bahwa layanan telekomunikasi (telepon rumah, seluler, dan internet) di Jalur Gaza, yang terganggu pada hari Jumat (27/10), karena agresi yang sedang berlangsung, secara bertahap dipulihkan,” katanya dalam sebuah pernyataan di X. “Tim teknis kami dengan tekun mengatasi kerusakan pada infrastruktur jaringan internal dalam kondisi yang menantang.”
Secara terpisah, pemantau internet Netblocks mengatakan “data jaringan real-time menunjukkan bahwa konektivitas internet sedang dipulihkan di Jalur Gaza.”
Gaza hampir mengalami pemadaman komunikasi total selama hampir 36 jam menyusul intensifnya serangan udara Israel pada hari Jumat (27/10), yang menurut penyedia telekomunikasi Palestina menghancurkan jalur dan menara komunikasi.
Kepala hak asasi manusia PBB pada Sabtu (28/10) memperingatkan bahwa pengeboman infrastruktur telekomunikasi menempatkan warga sipil di Jalur Gaza dalam “bahaya besar.” “Pengeboman dan operasi darat tadi malam di Gaza oleh pasukan Israel dilaporkan merupakan yang paling intensif, sehingga membawa krisis mengerikan ini ke tingkat kekerasan dan penderitaan baru,” kata Volker Turk.
“Memperparah kesengsaraan dan penderitaan warga sipil, serangan Israel terhadap instalasi telekomunikasi dan penutupan Internet secara efektif telah membuat warga Gaza tidak mengetahui apa yang terjadi di Gaza dan memutus hubungan mereka dengan dunia luar,” lanjut Turk.
Warga sipil tidak lagi dapat menerima informasi terkini mengenai di mana mereka dapat mengakses bantuan kemanusiaan dan di mana tingkat bahaya yang lebih kecil, katanya, sementara jurnalis tidak dapat lagi melaporkan situasi tersebut.
Mengingat kantor hak asasi manusia kehilangan kontak dengan staf di Gaza, dia berkata: “Tidak ada tempat yang aman di Gaza dan tidak ada jalan keluar. Saya sangat khawatir dengan rekan-rekan saya, sama seperti saya khawatir dengan semua warga sipil di Gaza.”
Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengatakan serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 7.703 orang, sebagian besar warga sipil dan banyak dari mereka adalah anak-anak. Sebanyak 2,3 juta penduduk Gaza juga bergulat dengan kekurangan makanan, air, dan obat-obatan akibat blokade Israel terhadap wilayah tersebut. Hanya sedikit truk bantuan yang menyeberang ke Gaza sejak pembukaan titik penyeberangan Rafah akhir pekan lalu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu (28/10) mengatakan pasukan darat memasuki “gerbang Gaza,” dalam “perang tahap kedua” untuk menghancurkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas, serta membawa pulang para sandera.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها









