Hijrah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dari Kota Makkah ke Madinah diniatkan atas nama cinta kepada Allah Swt. Bukankah banyak diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. begitu cinta dengan Kota Makkah, tanah kelahirannya, tetapi beliau memilih untuk meninggalkannya dan membangun peradaban Islam di Yatsrib (sebutan lama untuk Kota Madinah). Rasulullah meninggalkan apa yang beliau cintai demi Tuhan yang dikasihinya, dan itu menjadikan Rasulullah sebagai kekasih Allah. Tidak mudah untuk meninggalkan tanah kelahiran dan menetap di tanah asing. Namun, keyakinan Rasul dan para sahabatnya atas janji Allah berupa pertolongan dan pengampunan dosa serta Surga-Nya, membuat mereka begitu antusias menyiapkan dan menetapkan strategi agar berhasil melakukan perjalanan menuju tanah keselamatan iman.
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ
“ Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ” (QS. At-Taubah: 40)
Peristiwa hijrah bukanlah semata-mata perintah Allah pada awal dakwah Rasulullah di Makkah, melainkan muncul setelah rangkaian peristiwa dakwah Rasulullah ditolak dan dimusuhi oleh orang-orang Quraisy, termasuk oleh kerabat Nabi sendiri. Kita diingatkan oleh banyak buku sirah, salah satunya Kitab Raqhiiqul Makhtum karya Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, bahwa setiap kali beliau menyeru penduduk Makkah, selalu ada provokator kedengkian yang mencoba menggagalkan dakwahnya.
Kaum Quraisy juga melakukan penyerangan dan gangguan terhadap Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Dalam perjalanan dakwah selanjutnya, terjadilah ‘Aamul Huzn atau Tahun Kesedihan bagi Nabi atas wafatnya dua sosok pelindung dan penyokong dakwah Islam, yakni Abu Thalib, pamannya, dan Sayyidah Khodijah radhiyallahu’anha, istri yang sangat dicintainya. Sejak itu, siksaan dan gangguan dari orang-orang Quraisy semakin menjadi, keberanian mereka untuk menyebarkan kedengkian semakin besar, keselamatan iman mulai terancam, dan Rasulullah khawatir akan eksistensi tauhid dalam diri umatnya.
Berbagai hal tersebut membuat Rasulullah berpikir dan memohon kepada Allah agar diizinkan untuk menyusul rombongan hijrah lainnya[1]. Beliau tahu bahwa yang dibenci dan dimusuhi kaum Quraisy adalah dirinya dan ajarannya, bahkan orang-orang Quraisy ketika itu merencanakan pembunuhan terhadap dirinya. Di sisi lain, perlu sebuah bi’ah (lingkungan) yang mendukung perkembangan dakwah Islam. Oleh sebab itu, setelah Allah mengizinkan Nabi Muhammad untuk berhijrah, beliau menyiapkan strategi menuju Kota Yatsrib, dibantu oleh kerabat dan sahabat beliau yang masih tersisa di Makkah. Abu Bakr As-Shiddiq dipilih sebagai pendamping yang menemani perjalanan hijrah Rasulullah. Ia menemani Rasulullah dengan setia dan penuh penjagaan hingga tiba di kota Yatsrib[2].
A. Makna Hijrah Rasulullah
Kata “hijrah” telah diserap ke dalam bahasa Indonesia dan umumnya dipakai atau disematkan pada sebuah konteks atau orang yang berproses menuju kebaikan. Sementara itu, dalam kamus bahasa Arab dan juga pendapat ulama, hijrah di jalan Allah (al-hijrah asy-syar’iyyah) dimaknai sebagai perpindahan dari negeri atau keadaan yang penuh kesyirikan menuju keselamatan atau keimanan. Hijrah dilakukan apabila iman seseorang atau sekelompok orang menjadi terancam, terbatasi ketika beribadah, serta dakwah Islam tidak dapat berkembang atau justru hilang. Dengan berhijrah, umat Islam dapat melaksanakan perintah Allah dengan aman dan dakwah Islam dapat berkembang di dalamnya.
Hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah adalah upaya untuk menyelamatkan diri dari tekanan dan intimidasi orang kafir Quraisy. Hijrah inilah yang kita ingat sebagai awal terbentuknya masyarakat madani yang merupakan cikal bakal negara dengan syariat Islam sebagai pedomannya. Hijrah Rasulullah juga menjadi penanda ditetapkannya sistem penanggalan hijriah, yang biasa diperingati oleh umat Islam ketika datang bulan Muharam. Hijrah Rasul inilah yang menggambarkan cinta beliau kepada Allah dan Islam, serta gambaran cinta umat Islam di Makkah yang rela meninggalkan harta benda, relasi, sanak saudara, keluarga, juga meninggalkan kota kelahiran tempat mereka hidup dan tumbuh. Mereka rida terhadap keadaan yang mengharuskan mereka berhijrah, bahkan menyambutnya dengan bahagia. Mereka keluar dari Makkah berbekal keyakinan akan pertolongan dan janji Allah bagi siapa pun yang berhijrah. Allah berfirman dalam surah An-Nisa ayat 100,
وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرَٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ ٱلْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Menjawab keyakinan Rasulullah dan kaum muhajirin atas janji Allah tersebut, terdapat hikmah besar dari peristiwa hijrah bagi keberlangsungan dakwah Islam di generasi mereka ke generasi selanjutnya, bahkan hingga saat ini. Hikmah ini sangat layak kita renungi agar berdampak bagi kontribusi visi ustadziatul ‘alam atau mendunianya syariat Islam di bumi ini. Di antara hikmah yang layak kita renungi dan ambil dari hijrah Rasulullah adalah:
1. Cinta Rasulullah terhadap Kota Makkah tidak mengalahkan cinta beliau kepada Allah subhanahu wa ta’ala
Ini terbukti ketika beliau pergi dari tanah Makkah yang amat dicintainya untuk berhijrah ke Kota Madinah, yang pada gilirannya menjadi kota yang juga sangat Rasulullah cintai. Imam Syafi’i mengatakan, “Merantaulah kalian, maka akan kautemukan pengganti dari yang kautinggalkan di negerimu”.
2. Cinta Rasulullah kepada keselamatan umatnya
Bagaimana tidak, ketika pengikutnya menerima siksaan, Rasulullah selalu membesarkan hati mereka, menyemangati mereka, dan menolong mereka. Ingatkah kita dengan apa yang dialami keluarga Ammar bin Yasir, Mush’ab bin Umair, dan intimidasi kaum Quraisy terhadap sahabat lainnya? Hal tersebut menjadi salah satu titik tolak yang membuat Rasulullah memerintahkan mereka untuk pergi meninggalkan Makkah, mencari jaminan keamanan bagi iman mereka, seperti ketika Rasulullah merekomendasikan sahabat untuk hijrah ke Habasyah (Etiopia). Sikap Rasulullah ini kita ambil sebagai sikap menentukan langkah bagi keselamatan mad’u (objek dakwah) dan keberlangsungan dakwah di generasi selanjutnya.
3. Cinta Rasulullah dalam kesabaran dan menghargai proses menuju kebaikan dan cita-cita Islam.
Hijrah Rasulullah mengajarkan kita agar selalu mencintai proses dalam dakwah sehari-hari. Ada begitu banyak rintangan yang dihadapi Rasulullah ketika akan berhijrah ke Madinah. Beliau dihadapkan dengan rencana pembunuhan dirinya oleh kaumnya, bahkan sanak keluarganya. Pengepungan rumah oleh kaum kafir Quraisy, pengejaran di tengah padang pasir yang panas, bersembunyi di Gua Tsur, dan sebagainya. Rasulullah menghadapi kesulitan tersebut dengan sabar dan tawakal.
4. Cinta melakukan strategi dalam dakwah.
Hijrah adalah salah satu strategi untuk kemajuan dakwah Islam. Proses hijrah menuju Kota Madinah ini pun beliau rencanakan dengan sangat detail untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy dan anteknya. Pertama, beliau memilih teman seperjalanan yang baik, yaitu Abu Bakar, yang memiliki sifat shidqu (kejujuran), kemurnian hati beliau dan kecintaan beliau kepada Rasulullah amatlah besar.
Kedua, ketika rumah Rasulullah dikepung, beliau tetap melakukan perjalanan hijrah, dengan memilih waktu saat penduduk Makkah beristirahat pada siang hari. Jalur perjalanan yang beliau pilih bukan ke utara yang langsung mengarah ke Madinah, melainkan melalui selatan Makkah. Rasulullah terlebih dahulu bersembunyi di Gua Tsur yang jaraknya 4 km dari Masjidil Haram dan menunggu di dalam gua selama tiga hari.
5. Cinta akan persaudaraan
Setibanya di Madinah, Rasul mempersaudarakan pengikutnya yang berhijrah (muhajirin) dengan penduduk asli Madinah (anshar). Selain bertujuan agar kehidupan kaum yang berhijrah ini terjamin karena mereka meninggalkan hartanya di Makkah, Rasul juga ingin agar cinta dan rasa kekeluargaan tumbuh di antara mereka, sehingga bertambahlah ikatan hati dan rasa sepenanggungan, serta mampu merealisasikan kehidupan bermasyarakat yang baik.
6. Cinta akan keberlangsungan sistem ekonomi yang dapat menyokong kehidupan dakwah
Langkah selanjutnya yang dilakukan Rasulullah adalah membangun pasar untuk Muslim di Madinah. Di sana mereka berdagang dan berinteraksi secara aman, bebas riba, dan terhindar dari penipuan.
7. Cinta sikap bergotong royong dan kerjasama yang solid
Perjalanan hijrah ini juga menggambarkan kerja sama antara Nabi Muhammad dan Abu Bakr as-Ashiddiq. Abu Bakar begitu sigap mempersiapkan keluarga dan maulanya untuk membantu perjalanan tersebut. Asma binti Abu Bakar, bertugas mempersiapkan dan mengantar perbekalan, Abdullah bin Abu Bakar menyelidiki informasi dan menyampaikan berita yang beredar di kalangan orang Quraisy. Sementara itu, Amir bin Fuhairah, maula Abu Bakar, berjasa besar dalam menghapus jejak-jejak Nabi dan Abu Bakar agar tidak terendus oleh orang Quraisy.
Ada pula seorang nonmuslim penyembah patung Latta yang membantu keberhasilan hijrah Rasulullah. Ia adalah Abdullah bin Uraiqith yang disewa oleh Abu Bakar sebagai penunjuk jalan. Ia juga dititipi tunggangan selama Rasulullah dan Abu Bakar berada di Gua Tsur. Tunggangan tersebut diantarkan setelah tiga hari.
Selama perjalanan, Abu Bakar menjaga Rasulullah, hingga dalam sirah dikisahkan bahwa Abu Bakar berkata: “Suatu ketika aku berjalan di sebelah kiri Rasul karena takut musuh datang dari sisi kiri beliau. Lalu aku berjalan di sisi kanan beliau karena takut musuh datang dari kanannya. Kadang aku berjalan di depan Rasulullah karena takut musuh datang dari arah depan, dan pada saat lain aku berjalan di belakang beliau karena takut musuh datang dari belakang beliau”.
Kecintaan Rasulullah akan kerja sama semakin terlihat saat pembangunan Masjid Quba, Masjid Nabawi, serta rumah tempat tinggal beliau. Ketika itu, muslimin dari kalangan muhajirin dan anshar bergotong-royong untuk membangunnya. Demi Allah, sungguh sirah beliau penuh dengan pelajaran dan teladan yang wajib kita terapkan dalam perjalanan hidup kita, terutama perilaku dakwah yang akan kita lakukan.
Maka, siapa lagi yang akan kita jadikan contoh selain Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah nabi kita, pembimbing kita, murabbi kita, sang pemberi syafa’at kelak di hari kiamat, yang perkataan dan perbuatannya telah dijamin Allah dalam Al-Qur’an. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya” dan “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.
Wallahu a’lam bishawab.
[1]Hijrah ummat islam yang pertama adalah ke Negeri Habasyah yang dipimpin oleh seorang Raja Nasrani yang adil dan mengimani ajaran Nabi Isa ‘alaihissalam. Lalu setelah Bai’atul Aqabah kedua, kaum muslimin yang tersisa berhijrah secara berkelompok menuju kota Yatsrib.
[2] Setelah sampai di kota ini, Rasul menyebutnya Al-Madinah Al-Munawwaroh artinya kota yang bercahaya.
Penulis: Farda Aulia, S.Ag
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








