Tawanan Palestina dan aktivis terkemuka Sheikh Khader Adnan telah melakukan mogok makan tanpa henti selama 81 hari berturut-turut sebagai protes terhadap penahanannya oleh otoritas pendudukan Israel, terang Perhimpunan Tawanan Palestina (PPS).
Terlepas dari keadaan darurat medis yang diderita Adnan, otoritas pendudukan Israel pekan ini telah menolak untuk membebaskannya meski dengan jaminan, kata PPS. Lembaga tersebut mencatat bahwa penolakan Israel untuk menanggapi permintaannya adalah “hukuman mati” karena kondisinya saat ini dalam keadaan “berbahaya.” Dalam pertemuan dengan pengacaranya pada Selasa di penjara Ramla, Adnan pingsan dan kemudian tidak ingat apa yang terjadi padanya. Selama sidang video pengadilan pada Minggu, Adnan pingsan beberapa kali dan menderita kejang-kejang parah.
PPS mengatakan bahwa Adnan menderita gejala kesehatan yang sangat serius, antara lain sering muntah darah, lemah dan kurus parah, sering kehilangan kesadaran, sulit berbicara, bergerak, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, dan mengalami sakit parah di sekujur tubuhnya. Baru-baru ini, dia bahkan sangat sulit minum. Adnan baru-baru ini dipindahkan ke Klinik Penjara Ramla karena kondisinya kritis.
“Suami saya sedang sekarat dan administrasi penjara Israel menolak untuk memindahkannya ke rumah sakit sipil,” kata istri Adnan dalam konferensi pers di Ramallah pada Rabu. “Sebaliknya, ia menjadi tertahan di penjara Ramla yang minim fasilitas kesehatan. Kami telah meminta berkali-kali untuk memindahkannya ke rumah sakit, tetapi permintaan itu selalu ditolak.”
Mohammed Adnan, saudara laki-laki Khader Adnan, mengatakan selama konferensi pers bahwa seorang pengacara dari Dukungan Tawanan Addameer dan Asosiasi Hak Asasi Manusia telah mengunjungi Adnan di Klinik Penjara Ramla pada Selasa. Pengacara memberitahu keluarga tentang kondisi kesehatannya. “Selain sering pingsan, saudara laki-laki saya juga mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan, tekanan berat di dada, kejang di sekujur tubuh, dan muntah,” kata Mohammed Adnan.
Sekitar dua pekan lalu, Adnan juga pingsan, jatuh ke tanah, menyebabkan kepala serta bahu bagian bawahnya terbentur. Dia tetap berbaring di tanah untuk waktu yang lama tanpa bantuan dari penjaga, meskipun ada kamera pengintai di selnya, kata pengacara kepada keluarga. “Itulah mengapa kami menuntut agar dia dipindahkan ke rumah sakit sipil. Selain itu, para sipir dengan sengaja mengganggu dan melarangnya tidur dengan menyerbu selnya setiap setengah jam dan membiarkan lampu tetap bersinar di dalamnya,” kata Mohammed Adnan. “Israel sejauh ini menolak untuk mengizinkan saya, istrinya, dan sembilan anaknya untuk mengunjunginya, dengan dalih larangan keamanan.” ia menambahkan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








