Hampir satu juta warga Palestina yang mengungsi di Gaza menghadapi ancaman serius cuaca dingin dan hujan ekstrem pada musim dingin ini. Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa hanya 23% dari kebutuhan bantuan musim dingin yang telah terpenuhi, sehingga 945.000 orang berisiko besar terkena dampaknya.
“Para pengungsi di Gaza membutuhkan perlindungan dari hujan dan dingin. Bantuan sangat dibutuhkan untuk mengatasi kebutuhan yang sangat besar seiring dengan semakin dalamnya krisis,” kata UNRWA. Sementara itu, banyak warga sipil di Deir al-Balah dan seluruh Gaza masih menggali puing-puing rumah mereka yang hancur akibat serangan udara Israel, demi menyelamatkan sisa-sisa kehidupan mereka.
Kondisi di lapangan semakin buruk. Ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal kini terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat, bahkan di pesisir pantai Gaza. Pantai yang dulunya menjadi tempat rekreasi kini menjadi saksi penderitaan warga Gaza yang terpapar kerasnya musim dingin di pesisir pantai Gaza.
“Tidak ada yang tersisa di tenda kami—tidak ada kasur, perlengkapan tidur, atau makanan. Laut mengambil semuanya,” kata Mohammed al-Halabi, warga Deir al-Balah, yang bahkan harus menyelamatkan seorang bayi dua bulan dari terjangan ombak.
Sembilan dari sepuluh pengungsi tinggal di tenda-tenda rapuh tanpa perlindungan memadai dari angin, hujan, atau banjir. “Kaki dan kepala anak-anak saya membeku,” ungkap Shaima Issa dari Khan Younis. “Kami basah kuyup saat hujan, dan semua orang di sini sakit.” Warga lainnya, Salwa Abu Nimer, menambahkan, “Kami tidak punya tempat berteduh, makanan, atau air bersih. Apa gunanya hidup seperti ini?”
Krisis ini diperparah oleh antrean panjang untuk mendapatkan bantuan yang sangat terbatas, seperti roti dari toko-toko di Gaza tengah dan selatan. “Setiap hari saya datang ke sini hanya untuk mencari roti bagi anak yatim yang saya asuh, tapi sering kali saya pulang dengan tangan kosong,” kata Hanan al-Shamali. Sementara itu, pejabat PBB memperingatkan kekurangan bahan makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan tempat tinggal di seluruh Gaza, menggambarkan situasi ini sebagai “bencana besar.”
Bantuan kemanusiaan yang masuk melalui perbatasan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) juga terhambat. Truk bantuan sering kali tertahan akibat pemeriksaan keamanan dan penjarahan oleh kelompok bersenjata. UNRWA bahkan terpaksa menghentikan penggunaan rute tersebut karena masalah ini. Antoine Renard, kepala lokal Program Pangan Dunia (WFP) PBB, menyatakan, “Tingkat kehancuran, kelaparan, dan penderitaan yang kita lihat di Gaza saat ini lebih buruk dari sebelumnya. Orang-orang tidak mampu bertahan lagi.”
Di tengah penderitaan yang luar biasa ini, agresi masih berlanjut tanpa tanda-tanda berakhir, sementara cuaca dingin yang kian mendekat hanya menambah kekhawatiran akan lebih banyak korban jiwa dan kehancuran.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








