• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Berita Kemanusiaan

Habaybna, Situs Web Arab Pertama Bagi Orang Tua dari Teman (Difabel)

by Adara Relief International
November 10, 2022
in Berita Kemanusiaan, Sosial EKonomi
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Habaybna, Situs Web Arab Pertama Bagi Orang Tua dari Teman (Difabel)
10
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Reem Al Farangi pernah mengalami masa-masa yang suram. Ibu dari dua anak yang menderita autis itu pernah berada ‘di titik terendah‘ dalam hidupnya. Namun, sekarang ia begitu berseri-seri dan penuh optimisme. Ia punya sesuatu yang berarti bagi banyak difabel di dunia. Berangkat dari  keprihatinan pribadi, perempuan Palestina yang berusia hampir kepala empat itu membangun web “Habaybna” (secara harfiah dapat diartikan: “orang yang kita cintai”) platform digital Arab pertama untuk orang tua dari anak-anak difabel. Sejak tahun 2017, website Habaybna telah memberikan informasi penting tentang pengenalan dan terapi dini, dukungan keuangan,  upaya swadaya, peningkatan kesadaran,  dan kehidupan sehari-hari  terkait anak-anak difabel.

Mulai dari konten tentang  gangguan konsentrasi hingga down syndrome, kesulitan belajar hingga cerebral palsy (lumpuh otak), situs web ini mencakup spektrum luas menyangkut persoalan difabel. Sekitar seribu video pendek di situs ini menawarkan saran berharga dalam bahasa yang mudah dipahami bagi mereka yang berbahasa Arab. Sejauh ini masih ada kebutuhan besar akan informasi yang dapat diandalkan di suatu wilayah mengenai perawatan terapeutik untuk para difabel, terlebih di tempat yang belum dapat menyediakan informasi secara menyeluruh.

Baca Juga

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak

Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Habaybna adalah buah dari kepedihan Reem dan suaminya, Mohammed,  pada masa-masa sulit yang pernah mereka lalui. Mereka berdua berasal dari Gaza yang diblokade dan telah berulang kali dilanda agresi Israel. Di Gaza itulah, setelah perjalanan nan panjang, mereka akhirnya menerima kepastian medis bahwa kedua putra mereka Amro dan Aboud –yang saat itu berusia empat dan enam tahun–menderita Autistic Spectrum Disorder. Pasangan itu awalnya berpikir bahwa kondisi peranglah yang bertanggung jawab atas kesulitan yang dihadapi anak-anak mereka dalam membangun percakapan dan interaksi sosial, tetapi mereka tidak dapat tinggal diam. 

Pada akhir tahun 2008 dan awal 2009, bom Israel mulai berjatuhan di Gaza lagi. Saat itu, bom juga berjatuhan di sekitar apartemen keluarga Al Farangi. Anaknya yang kedua berhenti berbicara sama sekali. Setelah bolak-balik pemeriksaan medis, dokter akhirnya menyampaikan diagnosis mereka pada tahun 2011. “Saya terkejut dan benar-benar bingung,” kenangnya. Tidak ada terapi yang tersedia di Gaza untuk kedua anaknya. “Kala itu saya sedang dalam proses membangun studio fotografi untuk perempuan.” Situasi itu sangat menghantam dirinya. 

Orang-orang di sekitar acuh tak acuh terhadap kondisi anak-anaknya. Taman kanak-kanak menolak menerima bocah-bocah tersebut, sementara tetangga mengalihkan pandangan mereka dan menghentikan anak-anak mereka bermain jika ada Aboud dan Amro. “Masih ada rasa malu dan stigma terhadap difabel di sini, bahkan sampai saat ini,” kata Reem. Di Gaza, masih ada juga kasus difabel yang dikurung, papar Reem lebih lanjut. Dalam keputusasaan, Reem dan suaminya Mohammed mencari informasi penanganan anak autis di internet, tetapi tidak menemukan apa pun yang cocok dengan situasi mereka di Timur Tengah.

Pada 2011, keluarga itu berhasil pindah ke Amman, Yordania, untuk mendapatkan perawatan bagi anak-anak. Mereka mendapatkan izin tinggal di negara itu dan mendapatkan perawatan kesehatan yang relatif baik di Yordania, “Saya merasa seperti tokoh dongeng Alice di Negeri Ajaib.” Anak laki-lakinya ditempatkan di sekolah untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus, mereka merasa nyaman dan kebutuhan pribadi mereka terpenuhi. Reem juga menemukan kelompok orang tua di sekolah. “Pertukaran  pandangan dengan orang tua lain sangat membantu saya,” katanya dengan tegas. “Mereka masih menjadi jaringan saya, sampai hari ini.”

Lalu muncul gagasan untuk menghubungkan para orang tua dari Gaza dan menyediakan informasi yang selama ini sulit mereka dapatkan. Dalam membangun jaringannya, Reem memikirkan orang tua dari anak-anak difabel yang mengharapkan bantuan, khususnya di daerah yang dilanda krisis seperti Gaza, Libya, Yaman, Suriah, dan daerah pedesaan di Mesir atau Yordania. Dia memberi nama proyek websitenya dengan  “Habaybna” – “Orang yang kita cintai” – dengan tagline yang menunjukkan anak-anak dengan segala kemampuan akan tetap menjadi orang yang kita cintai.

Pada November 2017, dia memenangkan penghargaan yang diberikan oleh Bank Etihad di Yordania untuk proyeknya. Hadiahnya berupa uang yang dia gunakan untuk  menyewa kantor, memperluas situs web dan mempekerjakan dua orang lainnya. Berbekal gelar bisnisnya dari Universitas Gaza, dia belajar bagaimana membangun start-up. Dia membuat konten-konten video bermanfaat untuk para orang tua yang membutuhkan informasi. Suami Reem mendukungnya dan ikut bertanggung jawab dalam segi teknis organisasi. Reem sekarang juga melakukan sesi pelatihan untuk perusahaan telekomunikasi Yordania yang ingin menyekolahkan karyawannya dalam menangani difabel. UNICEF juga tertarik untuk bekerja sama dengan Reem.

Proyek ini beresonansi dengan sejumlah besar orang. “Saya mendapat banyak umpan balik positif dari orang tua, dari seluruh wilayah.” Baru-baru ini, katanya, seorang ibu dari Mesir menulis kepadanya: putrinya yang berusia tiga tahun menderita kondisi langka yang disebut Sindrom Angelman (gangguan berupa kondisi  hiperaktif dan keterbatasan kognitif). Perempuan itu meminta bantuannya, karena dia merasa ditinggalkan. Reem mampu menghubungkan ibu dari anak itu dengan seorang perempuan Yordania yang anaknya memiliki masalah serupa. “Mereka senang akhirnya bisa saling ‘curhat‘ dan bertukar saran.”

Seorang ayah dari bocah laki-laki dengan autisme menulis di situs web itu: “Habaybna telah memberi saya informasi yang dapat dipercaya, yang membantu saya menghadapi berbagai fase kehidupan keluarga kami.” “Habaybna” tidak dapat membantu setiap kasus. Situs web tidak dapat menggantikan dokter, atau memberikan informasi komprehensif untuk kecacatan langka. Tetapi situs web ini dapat menghubungkan orang-orang dalam situasi yang sulit,memberi mereka petunjuk untuk membantu diri sendiri dan, dengan itu, membuahkan harapan baru.

Pada akhir Oktober 2018, “Habaybna” menambahkan layanan lain. Dalam sesi pelatihan jarak jauh gratis, orang tua dapat mengajukan pertanyaan mereka kepada spesialis yang memberikan pelatihan sesuai keahlian mereka secara pro bono. “Untuk pertama kalinya, saya merasa bahwa saya tidak sendirian dalam perjalanan panjang ini dengan putra saya,” kata Zeinah Zawahneh, ibu dari seorang anak laki-laki yang memiliki masalah cerebral palsy, setelah percakapannya dengan seorang spesialis. “Saya mendapat banyak tips untuk menangani tantangan sehari-hari dalam hidup bersama putra saya, dan jauh merasa lebih percaya diri.”

Tujuan paling penting dari proyek ini adalah untuk mempromosikan pendekatan yang lebih inklusif, dan penerimaan yang lebih besar terhadap para difabel.  “Habaybna” berfokus bukan pada kekurangan anak-anak, tetapi pada potensi individu mereka.

Sumber:

https://en.qantara.de

https://www.ogunte.com

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: Internasional
ShareTweetSendShare
Previous Post

Sambut HKN ke-58, Menkes Budi Gunadi dan Tim Kemenkes Ziarah ke TMP Kalibata Kenang Jasa Pahlawan Kesehatan

Next Post

UNICEF: Anak-Anak Paling Menderita Akibat Krisis Iklim, 30 Juta Anak di 27 Negara Terkena Banjir Dahsyat

Adara Relief International

Related Posts

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak
Berita Kemanusiaan

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
13

Presiden AS Donald Trump secara resmi menguraikan struktur "Dewan Perdamaian", yang diharapkan dapat "memenuhi" 20 poin rencana Trump untuk Gaza,...

Read moreDetails
Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Januari 19, 2026
12
Angka Kelahiran di Gaza Turun 41 Persen, Keguguran dan Kelahiran Prematur Meningkat

Angka Kelahiran di Gaza Turun 41 Persen, Keguguran dan Kelahiran Prematur Meningkat

Januari 19, 2026
11
Zionisme Kristen Ancam Keberadaan Umat Kristen di Palestina

Zionisme Kristen Ancam Keberadaan Umat Kristen di Palestina

Januari 19, 2026
15
Kampanye Vaksinasi Gelombang Kedua di Gaza Targetkan Anak di bawah Usia Tiga Tahun

Kampanye Vaksinasi Gelombang Kedua di Gaza Targetkan Anak di bawah Usia Tiga Tahun

Januari 19, 2026
11
Laporan Haaretz: AS Berpotensi Danai Pabrik Kendaraan Tempur Baru Israel hingga US$2 Miliar

Laporan Haaretz: AS Berpotensi Danai Pabrik Kendaraan Tempur Baru Israel hingga US$2 Miliar

Januari 15, 2026
20
Next Post
UNICEF: Anak-Anak Paling Menderita Akibat Krisis Iklim, 30 Juta Anak di 27 Negara Terkena Banjir Dahsyat Saat COP27 berlangsung di Mesir, UNICEF memperingatkan banjir besar tahun ini telah berdampak terhadap setidaknya 27,7 juta anak di 27 negara di seluruh dunia. Sebagian besar dari 27,7 juta anak yang terkena dampak banjir pada 2022 termasuk yang paling rentan dan berisiko tinggi terhadap berbagai ancaman, termasuk kematian karena tenggelam, wabah penyakit, kekurangan air minum yang aman, kekurangan gizi, gangguan dalam belajar, dan kekerasan. Akibat penyerta dari bencana banjir seringkali lebih mematikan bagi anak-anak daripada banjir itu sendiri. Pada 2022, banjir telah berkontribusi pada peningkatan penyebaran pembunuh utama anak-anak, seperti malnutrisi, malaria, kolera, dan diare: Di Pakistan, lebih dari 1 dari 9 anak balita yang dirawat di fasilitas kesehatan di daerah yang terkena banjir di Sindh dan Balochistan ditemukan menderita kekurangan gizi akut. Di Chad, 465.030 hektar lahan pertanian hancur sehingga memperburuk situasi kerawanan pangan yang sudah mengerikan. Di Malawi, hujan lebat dan banjir oleh badai tropis Ana pada Januari 2022 menyebabkan kerusakan parah terhadap sistem air dan sanitasi, yang menciptakan kondisi sempurna untuk wabah kolera untuk berkembang. Wabah ini telah merenggut nyawa 203 orang, 28 di antaranya adalah anak-anak. Hingga saat ini, 1.631 anak telah terinfeksi kolera. Bersamaan dengan guncangan iklim dan konflik, banjir menyebabkan proyeksi jumlah anak-anak di Sudan Selatan yang menghadapi kerawanan pangan tingkat tinggi melampaui tingkat yang terlihat selama konflik pada 2013 dan 2016. Selain itu, PBB baru-baru ini memperingatkan bahwa beberapa komunitas mungkin menghadapi kelaparan jika bantuan kemanusiaan tidak dipertahankan dan langkah-langkah adaptasi iklim tidak ditingkatkan. Selain mengancam kehidupan jutaan anak, banjir telah mengganggu layanan penting dan membuat banyak keluarga terpaksa mengungsi: Banjir baru-baru ini di Pakistan merusak dan menghancurkan hampir 27.000 gedung sekolah, memaksa 2 juta anak tidak sekolah. Di Sudan Selatan, 95 kantor layanan nutrisi yang didukung UNICEF telah terkena dampak banjir sehingga menghambat pengiriman layanan bagi 92.000 anak penderita malnutrisi. Diperkirakan 840.000 anak mengungsi akibat banjir di Nigeria dalam beberapa bulan terakhir. 126 sekolah di Kamerun terkena dampak banjir, membuat 38.813 anak kehilangan akses ke pendidikan. Hujan lebat dan banjir di Yaman memicu banjir yang menyebabkan kerusakan parah pada tempat-tempat penampungan di lokasi-lokasi pengungsian. 73.854 rumah tangga terkena dampak dan 24.000 rumah tangga mengungsi. Selain mendesak pemerintah dan perusahaan besar untuk mengurangi emisi dengan cepat, UNICEF mendesak para pemimpin untuk mengambil tindakan segera dalam melindungi anak-anak dari kerusakan iklim dengan mengadaptasi layanan sosial penting yang mereka andalkan. Langkah-langkah adaptasi, seperti menciptakan sistem air, kesehatan dan pendidikan yang tahan terhadap banjir dan kekeringan, akan menyelamatkan nyawa. Tahun lalu, negara-negara maju sepakat untuk menggandakan dukungan untuk adaptasi menjadi $40 miliar per tahun pada 2025. Pada COP27, mereka harus menyajikan peta rencana yang kredibel dengan tonggak yang jelas tentang bagaimana hal ini akan disampaikan, sebagai langkah untuk memberikan setidaknya $300 miliar per tahun untuk adaptasi pada 2030. Setidaknya setengah dari semua pendanaan iklim harus mengalir menuju adaptasi. UNICEF juga mendesak pihak-pihak agar menemukan solusi untuk mendukung mereka yang akan menghadapi kerugian dan kerusakan iklim di luar batas yang dapat diadaptasi oleh masyarakat. UNICEF menyerukan kepada pemerintah untuk menutup kesenjangan keuangan untuk mengatasi perubahan yang tidak dapat diubah ini untuk anak-anak. Di COP27, UNICEF menyerukan semua pihak untuk: MENCEGAH. Tinjau kembali rencana iklim nasional mereka untuk mengurangi emisi secara drastis dan mendesak untuk mencegah bencana iklim. MELINDUNGI. Menyiapkan tindakan yang jelas tentang adaptasi yang melindungi setiap anak dari percepatan dampak perubahan iklim melalui Global Stocktake dan Global Goal on Adaptation. MEMPERSIAPKAN. Tingkatkan pendidikan perubahan iklim dan partisipasi yang berarti untuk mempersiapkan anak-anak dan remaja melalui rencana Action for Climate Empowerment (ACE) PRIORITASKAN. Memprioritaskan anak-anak dan remaja dengan mempercepat investasi pendanaan iklim dalam layanan sosial tahan iklim yang menjangkau anak-anak yang paling berisiko dan membuka kemajuan dalam kerugian dan kerusakan Berkomitmen pada aksi iklim yang peka terhadap anak dengan menyelaraskan dan mengoperasionalkan Deklarasi tentang Aksi Anak, Pemuda dan Iklim Tanggapan kemanusiaan langsung UNICEF untuk negara-negara yang terkena dampak banjir sangat luas di semua sektor: kesehatan, nutrisi, air, sanitasi dan kebersihan (WASH), perlindungan anak, dan pendidikan. Namun, kurangnya dana telah menghambat respons di banyak negara. Misalnya, kesenjangan pendanaan untuk respon kemanusiaan di Pakistan saat ini mencapai 85%. Sumber: https://reliefweb.int/report/world/over-27-million-children-risk-devastating-floods-set-records-across-world

UNICEF: Anak-Anak Paling Menderita Akibat Krisis Iklim, 30 Juta Anak di 27 Negara Terkena Banjir Dahsyat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630