di Yerusalem, dan maksudku di antara tembok-tembok kuna
aku berjalan dari satu zaman ke zaman lain
tanpa ingatan yang memandu
Para nabi di sana menuliskan
sejarah suci.. yang naik ke surga
dan kembali tanpa putus asa dan melankolia, sebab cinta
dan kedamaian itu suci—dan telah tiba di kota ini
(“Di Yerusalem” Mahmoud Darwish)

Penggalan sajak “Di Yerusalem” karya Mahmoud Darwish menggambarkan betapa kota tersebut memiliki magnet yang begitu bagi umat beragama; setiap budaya dan agama telah menuturkan kisahnya, dan tembok-tembok kota telah menyimpan kenangan akan hal itu. Ingatan akan masa lalu diharapkan mampu menciptakan masa kini. Sebab, meskipun saat ini Yerusalem adalah kota yang berada di bawah penindasan dan tirani, kenangan akan Yerusalem yang dipenuhi cinta dan kedamaian, akan hadir kembali.
Yerusalem memiliki banyak sebutan , ialah Ur–Shalim, Yerushalayim (bahasa Ibrani), Yerusalam, (aramaik), Dar-Salim (bahasa Arab)—semua nama ini memiliki arti ‘kota yang damai’. Selain itu, dalam bahasa Arab juga disebut sebagai Al-Quds atau Asy–Syarif yang berarti ‘tempat suci’. Yerusalem merupakan sebuah kawasan yang berada di tepi barat Sungai Yordan. Kota ini dibagi menjadi tiga, yaitu Kota Tua, Yerusalem Timur, dan Kota Baru. Kota Tua Yerusalem disebut juga baitul maqdis atau tempat yang disucikan sebab di sinilah berdiri berbagai situs suci bagi tiga pemeluk agama, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.
Sebagaimana digambarkan dalam sajak Darwish, Al-Quds (Yerusalem) merupakan kawasan yang dikelilingi tembok-tembok purba dan gerbang kota. Corak dari tembok-tembok itu cenderung bergaya arsitektur saracenic, tetapi jelas sekali bahwa tembok kota tersebut dibangun di atas tembok lain yang lebih kuno. Pembangunan dan rehab terbaru terhadap tembok sepanjang empat kilometer dan tinggi dua belas meter ini dilakukan pada masa Utsmani oleh Sultan Suleiman Al-Qanuni pada 948 Hijriah atau bertepatan dengan 1542 Masehi[1].
Secara keseluruhan, Al Quds (Yerusalem) memiliki sebelas pintu gerbang kota. Namun pada saat ini hanya ada tujuh gerbang yang dibuka, salah satunya adalah Gerbang Damaskus (The Damascus Gate atau Baab al-Amoud). Disebut demikian sebab gerbang tersebut terbentang jalan menuju Nablus, dan jika diteruskan ke arah utara maka akan mencapai Damaskus[2]. Orang Arab menyebutnya Baab al-Amoud atau Gerbang Pilar sebab dibangun di atas sisa-sisa reruntuhan gerbang yang dibangun pada masa Romawi Kuna. Pada akhir abad ke-3, gerbang tersebut diintegrasikan ke dalam tembok yang dibangun di sekitar kota, lalu dilakukanlah restorasi ketika Al-Quds berada di bawah pemerintahan Imperium Utsmani. Gerbang yang terletak di tembok utara ini merupakan pintu kota tersibuk dan termegah di Al-Quds.
Gerbang Damaskus merupakan pintu masuk utama ke Kota Tua bagi warga Palestina di Yerusalem Timur. Melalui gerbang itu, seseorang dapat mencapai distrik Kristen di sebelah kanan, distrik Muslim di sebelah kiri, juga sebagai akses langsung bagi jamaah ke lingkungan Masjid Al-Aqsa, juga ke komplek perbelanjaan penting, semisal Pasar Khan Al-Zeit.[3] Bisa dikatakan bahwa gerbang ini memiliki nilai folklorik, sentimental, sekaligus juga sebagai jalur religius, komersial, dan bisnis warga Palestina di Yerusalem Timur.
Namun, di balik kesibukan dan kemegahan gerbang ini, tersimpan pula kisah-kisah pilu yang bergulir hingga hari ini. Gerbang Damaskus merupakan gerbang Kota Tua terbesar, paling rumit, paling dijaga ketat, dan menjadi satu-satunya gerbang yang telah digali. Beberapa tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan kehadiran Zionis di daerah sekitar Gerbang Damaskus. Puluhan keluarga Ekstrimis Yahudi dan ratusan siswa yeshiva[4] tinggal di distrik Muslim di Kota Tua Al-Quds. Dalam dekade terakhir ini pula terjadi peningkatan Yahudi ultra-Ortodoks yang menggunakan gerbang ini dalam perjalanan mereka untuk beribadah di alun-alun tembok barat.

Sejalan dengan itu, pemerintah Zionis dan Pemerintah Kota Al-Quds telah menginvestasikan sejumlah uang yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pengembangan area Gerbang Damaskus dan pusat bisnis sekitarnya di utara Kota Tua. Investasi dilakukan di dua lokasi wisata yang berdekatan dengan gerbang, yaitu Museum ‘Alun-Alun Romawi’ (The Roman Square), yang saat ini terletak di bawah Gerbang Damaskus, dan Gua Zedekiah, yang terletak beberapa puluh meter di sebelah timurnya. [5]
Keinginan Zionis untuk mendapatkan pijakan yang memungkinkannya untuk mengontrol Gerbang Damaskus, berkaitan dengan rencana pembangunan yang berhubungan dengan gerbang Kota Tua. Misalnya, pekerjaan pembangunan di Jaffa Gate, gerbang utama yang menghubungkan bagian barat kota ke Kota Tua, serta rencana baru yang bertujuan menghubungkan komplek gerbang ke pusat perbelanjaan Mamilla melalui jalur bawah tanah.
Nantinya, jalur bawah tanah ini akan menghubungkan The New Gate, Dung Gate, juga kawasan Silwan.[6] Dengan demikian, Gerbang Damaskus yang awalnya merupakan jalur komersial utama bagi warga Palestina, kini harus dibagi untuk kepentingan Zionis Israel sehingga berkali-kali menjadi episentrum dari berbagai penyerangan terhadap warga Palestina yang menjadikannya sebagai titik kumpul dari berbagai aktivitas mereka.
Serangan bertubi-tubi dan kekerasan dari Zionis terhadap warga Palestina di sepanjang gerbang ini, menciptakan julukan Martyrs Gate baginya, sebab banyaknya warga Palestina yang menjadi saksi atas pengabaian nilai kemanusiaan dan hak-hak hidup mereka.

Kembali kepada sajak “Di Yerusalem”,
Kata-kata bersemi serupa rumput dari mulut Nabi Yesasya
“Jika kau tak beriman, kau takkan aman”
Aku berjalan layaknya aku adalah orang yang lain. Dan lukaku adalah mawar putih alkitabiah, sementara tanganku bagai dua merpati di kayu salib;
melayang, membawa bumi
Kisah Al-Quds (Yerusalem) adalah kisah ketegaran. Seperti Nabi Yesaya yang senantiasa mengingatkan kaumnya untuk beriman—sekalipun kemudian ia dibunuh oleh kaumnya. Seperti kisah Isa Al-Masih yang menawarkan keselamatan bagi jiwa-jiwa pendosa—sekalipun kemudian ia dikhianati oleh pengikutnya. Namun, Al-Quds selalu menjadi rumah bagi mereka yang beriman; yang membalut lukanya dengan ayat-ayat ilahi, yang membebaskan jiwanya dari berbagai bentuk penjajahan dan penindasan.
aku tidak berjalan. Aku terbang dan menjadi yang lain, menjelma berbagai rupa
aku bukanlah aku dalam perjalanan ke langit ini,
tapi aku merenung; sendirian.
Ketika itu Nabi Muhammad berbicara dalama bahasa Arab kuna;
“Setelah ini, lalu apa?”
Lalu apa? Seorang perempuan serdadu berteriak
“Apakah itu kamu lagi?” “Bukankan kau sudah kubunuh?”
Aku pun berkata, “Ya, kau membunuhku…dan aku lupa, semisal engkau, untuk mati.
Kebebasan penduduk asli dalam sajak ini digambarkan dalam metafor kematian. Kematian yang membawanya bertransformasi menembus ruang dan waktu, hingga ia mendengar pertanyaan dalam bahasa Arab, “Setelah ini apa?” Pertanyaan tersebut kemudian membawanya kembali ke sebuah ingatan; tentang kematiannya yang disebabkan oleh seorang perempuan serdadu. Namun, bagi bangsa Palestina, tidak ada kematian sebelum tanah mereka kembali diliputi kedamaian, sebagaimana tersemat dalam nama Yerusalem (Al-Quds).
Tembok dan gerbang kota yang berdiri, setiap harinya masih menyaksikan penjajahan, penindasan, dan kematian—tetapi juga terus menyaksikan optimisme, kerja keras, dan perjuangan mereka yang terlahir dalam buaiannya untuk kembali mendapatkan apa yang selama ini dirampas. Hingga pada suatu hari nanti, semua pintu gerbang kota suci akan terbuka untuk menyapa setiap jiwa yang datang, dengan cinta dan damai.
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
[1] David Roberts, The Holy Land (Cairo: The AUC Press), hlm. 63
[2] Ibid
[3] http://i2ud.org/j/html3/monuments/sites/t170_bab_alamud/index.html
[4] institusi pendidikan Yahudi yang berfokus pada teks-teks tradisional keagamaan (manuskrip)
[5] https://emekshaveh.org/en/the-last-gate/
[6] ibid







