Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza terus berlanjut di tengah serangan militer Israel yang tak henti-hentinya. Namun, agresi ini mengungkap dua narasi yang saling bertolak belakang, yaitu pernyataan pejabat Israel yang mendukung taktik ekspansionis dan kesaksian langsung dari mereka yang menghadapi kehancuran di lapangan.
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, mengungkapkan keyakinannya bahwa agresi di Gaza akan berakhir lebih cepat jika tidak ada pengaruh dari anggota sayap kanan dalam kabinet Israel. Berbicara di sebuah konferensi nasional di Al-Quds (Yerusalem), Smotrich menegaskan kembali dukungannya terhadap pembangunan permukiman ilegal Yahudi di Jalur Gaza sebagai bagian dari visinya tentang “Israel Raya,” yang mencakup wilayah Yordania, Lebanon Selatan, dan sebagian Suriah.
“Tanpa kehadiran kami di kabinet, agresi ini sudah akan berhenti sejak lama,” katanya. Ia juga menolak usulan untuk menyerahkan pengelolaan perlintasan Rafah kepada Otoritas Palestina (PA), yang ia sebut sebagai “entitas pendukung terorisme.” Smotrich bersikeras bahwa setiap langkah pasca agresi harus mencerminkan kemenangan mutlak Israel.
Di tengah serangan yang dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 44.800 warga Palestina telah terbunuh dan 106.400 lainnya terluka. Meskipun dunia internasional menyerukan gencatan senjata, pemerintah Israel melanjutkan kampanye militernya dengan dalih keamanan.
Di sisi lain, suara dari para korban perang menggambarkan kenyataan yang jauh berbeda. Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan oleh Komite Palestina Inggris (BPC) dan Komunitas Gaza Inggris (UKGC) di London, kesaksian langsung mengungkap skala kehancuran yang sistematis di Gaza, yang diperparah oleh pembatasan akses media.
Mai Annan, seorang pemimpin proyek kemanusiaan di Gaza, menggambarkan bagaimana tentara Israel melakukan eksekusi massal terhadap pria-pria Palestina dan menggunakan gas beracun terhadap perempuan dan anak-anak. “Rencana Israel hanyalah membunuh dan membunuh lebih banyak lagi,” terangnya.
Situasi medis di Gaza semakin kritis, sementara rumah sakit kekurangan peralatan dasar dan obat-obatan. Dr. Mahim Qureshi, seorang ahli bedah yang menjadi relawan di Gaza, menyebutkan bahwa dokter terpaksa melakukan operasi tanpa anestesi. Sementara itu, Hala Sabbah, koordinator kelompok bantuan, menyoroti kelaparan yang diciptakan Israel dengan membatasi jumlah truk bantuan yang masuk ke Gaza dari 400 menjadi hanya 50 per hari.
Konferensi pers di London juga menyingkap keterlibatan Inggris dalam mendukung kampanye militer Israel. Program F-35 Inggris, yang menyediakan suku cadang vital untuk pesawat tempur Israel, dianggap sebagai salah satu faktor utama dalam keberlanjutan serangan udara di Gaza. Para ahli hukum internasional memperingatkan bahwa tindakan Israel, termasuk melaparkan penduduk secara sistematis dan penghancuran infrastruktur, sesuai dan konsisten dengan definisi genosida.
Dr. Loai Nasir melaporkan bahwa 400.000 warga Gaza yang masih terkepung di wilayah utara, menghadapi kelaparan dan penggunaan bahan kimia tidak dikenal. “Orang-orang makan rumput dan pohon untuk bertahan hidup,” ungkapnya. Amnesty International dan laporan PBB juga menyimpulkan bahwa tindakan Israel mencerminkan niat genosida.
Di satu sisi, pejabat Israel seperti Smotrich menggambarkan agresi ini sebagai perjuangan demi keamanan dan identitas nasional. Namun, kesaksian dari Gaza memberikan gambaran mengerikan tentang dampak genosida yang disengaja. Penutupan media dan pembatasan akses hanya memperparah penderitaan warga Gaza, sementara komunitas internasional menghadapi kritik karena gagal bertindak tegas.
Ketegangan ini bukan sekadar agresi militer, melainkan upaya sistematis untuk menghapus eksistensi sebuah bangsa. Narasi dari kedua sisi mengungkapkan urgensi intervensi global untuk menghentikan genosida yang sedang berlangsung dan membawa pelaku ke pengadilan internasional. Sementara Gaza terus terbakar, dunia tak bisa lagi menutup mata terhadap tragedi kemanusiaan ini.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








