Terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 telah membawa nuansa gegap gempita di Timur Tengah. Ajang pertandingan bola tingkat dunia ini pada akhirnya memberikan kesempatan kepada Timur Tengah sekaligus dunia Islam untuk menunjukkan bagaimana budaya dan agama mereka (Islam) dalam realita sebenarnya; bukan dari framing media selama ini. Piala Dunia kali ini juga menjadi sejarah bagi negara Arab lainnya yaitu Maroko yang mengalahkan Spanyol sang mantan legenda juara dunia dengan adu penalti 3-0, kemudian menaklukkan Portugal 1-0.
Kemenangan Maroko atas Portugal di babak perempat final disambut dengan meriah di Timur Tengah, bahkan di Afrika. Orang-orang turun ke jalan dengan teriakan kegembiraan, kibaran bendera, tangis keharuan, tarian kemenangan, dan suara klakson bersahutan. Semuanya diliputi kebanggaan karena sepanjang 92 tahun sejarah penyelenggaraan piala dunia, untuk pertama kalinya negara Afrika-Arab, berhasil melesat ke babak semifinal.

Selebrasi pemain Maroko setelah memenangkan pertandingan perempat final Piala Dunia FIFA Qatar 2022 melawan Portugal di Stadion Al Thumama pada 10 Desember 2022 di Doha, Qatar.
[Evrim Aydın – Anadolu Agency]
Namun, ada hal luar biasa lainnya yang terjadi di pertandingan paling bergengsi tingkat dunia ini, yakni dukungan terhadap kemerdekaan Palestina yang selalu digaungkan pada setiap pertandingan, baik melalui kibaran bendera Palestina di tribun penonton,maupun oleh para pemain, yang setiap memenangkan pertandingan, selalu mengibarkan bendera Palestina di lapangan. Tidak ada satu pertandingan yang dilewatkan tanpa adanya teriakan dukungan terhadap Palestina.

Para pemain dan pelatih Maroko berpose dengan bendera Palestina setelah mengalahkan Spanyol.
(Sumber: nytimes.com)
Ajaibnya, dukungan ini tidak hanya dilontarkan oleh warga Arab, tetapi juga warga dunia lainnya seperti Inggris, Meksiko, Brazil, Argentina, Jepang dan negara-negara non-Arab lainnya. Besarnya dukungan terhadap Palestina dapat terlihat ketika kemenangan Inggris melawan Senegal 3-0. Dengan slogan ‘Welcome Home’-nya, para suporter yang ditanya oleh reporter berita mengenai perasaan mereka terhadap kemenangan Inggris, mengatakan bahwa selain rasa suka cita atas kemenangan tim Inggris, yang terpenting juga adalah “Kebebasan Palestina.”

Fans memegang bendera Palestina sebelum pertandingan Spanyol vs Jerman di Stadion Al Bayt pada 27 November 2020 [Showkat Shafi/Al Jazeera]
Dukungan terhadap Palestina juga ditunjukkan ketika reporter berita Israel berupaya untuk mewawancarai suporter di berbagai stadion. Banyak di antara mereka yang menolak untuk diwawancarai dan mengemukakan berbagai alasan penolakan, salah satu alasannya adalah tidak ada negara Israel, yang ada hanyalah Palestina. Ada pula momen ketika reporter Israel sedang mengudara untuk mengabarkan jalannya pertandingan, para suporter yang berada di belakangnya meneriakkan “Free, Free, Palestine!”
Salah seorang mantan tentara militer Israel, Guy Hochman, memasuki Qatar dengan berpura-pura menjadi seorang komedian untuk membuat konten-konten video lucu. Namun, seorang jurnalis Palestina-Amerika, Dahmash Jarrah, membongkar identitas palsunya ke publik, mengatakan bahwa Hochman adalah seorang mantan tentara Israel. Jarrah juga mengomentari video buatan Hochman yang memperkenalkan diri sebagai, “pembawa perdamaian sementara ia sebenarnya adalah seorang tentara pembunuh.”
Kemenangan Palestina dan Gagalnya Normalisasi
Ditandatanganinya Abraham Accord oleh sejumlah negara Arab pada 2020 yang berisikan perjanjian damai dengan Israel membuat gempar dunia. Tidak hanya bangsa Palestina yang merasa terluka dan dikhianati oleh sejumlah pemimpin Arab tersebut, tetapi masyarakat Arab sendiri merasa kecewa dengan pemimpin negara mereka. Normalisasi tersebut tidak hanya membuka jalur diplomasi Arab dengan Israel, tetapi juga mengurangi secara signifikan–jika tidak ingin dikatakan menghentikan–bantuan kemanusiaan mereka terhadap Palestina 
Namun demikian, fenomena masifnya dukungan terhadap negara Palestina di kalangan penggemar Piala Dunia 2022, di tengah fakta normalisasi bangsa Arab terhadap Palestina, menjadi sebuah pertanda dukungan yang masif dari warga dunia, termasuk dukungan dari warga negara-negara Arab yang melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.
Perjanjian yang dilakukan oleh para pemimpin negara Arab dan Israel pada kenyataan hanya berada di atas kertas. Dukungan hanya diberikan oleh para elitis, tetapi tidak demikian dengan suara yang berada di kalangan akar rumput. Bahwa Palestina, meski diabaikan oleh para pemimpin dunia, tetapi tetap menempati ruang yang besar di hati mereka.
From Match to the Reality
Meskipun kompetisi ini akan segera berakhir pada 18 Desember mendatang, gegap gempita dukungan terhadap Palestina tidak boleh dibiarkan menguap begitu saja. Kibaran bendera dan teriakan free Palestine, tanpa usaha konkret, akan memudar bahkan menghilang jika hanya berpangku pada gelaran-gelaran selebrasi tingkat dunia.
Pertandingan sepak bola dunia 2022 ini menandakan kegagalan normalisasi hubungan Israel yang dilakukan oleh para pemimpin Arab, dan besarnya dukungan masyarakat dunia. Bendera Palestina yang dibawa dan dikibarkan oleh setiap orang dari berbagai negara menjadi penanda bahwa bendera ini telah mengikat solidaritas masyarakat dunia, dan isu perjuangan Palestina telah menjadi isu lintas bangsa.
Kepada Maroko kita berkaca, bahwa kemenangan Maroko hingga memasuki semifinal piala dunia yang tidak banyak diprediksi oleh dunia menandakan bahwa harapan bagi kemerdekaan Palestina masih ada. Namun, tentu saja itu bukan hal instan yang dapat terwujud begitu saja. Sebagaimana Maroko mempersiapkan tim-nya dengan penuh kedisiplinan dan doa-doa yang dilantunkan oleh ibu para pemainnya, yang menjadi penentu penting kemenangan tim Maroko. Demikian pula Palestina, penting untuk mempersiapkan secara detail dan masif, dan tentu lantunan doa yang tiada terputus.
Kita harus tetap optimis, dan tidak pernah tertunduk kepada siapapun, kecuali Allah, Rabb Semesta Alam, sebagaimana lagu yang dilantunkan para suporter Maroko ketika tim mereka memenangkan pertandingan:
Ye le le le laa
Dale ohh e dale ohh
Kepada engkau hati ini merana
Bertahun-tahun lamanya mata ini menangis
Wahai Palestinaku tercinta…
Di mana bangsa Arab? Mereka tengah tidur terlelap
Wahai negara yang indah, teruslah melawan.
Semoga Tuhan melindungimu…
Dari kezaliman para musuh dan Yahudi yang serakah.
Tak akan kami biarkan engkau sendiri wahai Gaza…
Meski engkau jauh dari kami.
Wahai Rafah dan Ramalah.
Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P.
Penulis merupakan Ketua Departemen Resource Development and Mobilization Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








