Serangan mematikan Israel yang terus berlangsung di Gaza telah memberikan dampak sangat buruk pada infrastruktur kesehatan, terutama di bagian utara wilayah tersebut, menurut laporan Anadolu Agency. Setelah 350 hari pengeboman terus-menerus, bank darah pusat yang berafiliasi dengan Rumah Sakit Al-Shifa, hancur. Akibatnya, sektor kesehatan hampir tidak mungkin memenuhi kebutuhan darah yang mendesak bagi warga Palestina.
Dalam upaya mengurangi krisis, sebuah laboratorium darah telah didirikan di Rumah Sakit Sahaba di Kota Gaza. Di RS tersebut, sumbangan darah dikumpulkan untuk mereka yang membutuhkan. Namun, kekurangan donor darah di wilayah utara tetap menjadi tantangan besar karena banyak orang terlalu lemah akibat kelaparan sehingga tidak dapat mendonorkan darah.
Dampak kelaparan luas terhadap sumbangan darah
Rami Abu Sidu, seorang ahli di laboratorium darah, menjelaskan bahwa setelah bank darah Rumah Sakit Al-Shifa tidak lagi beroperasi akibat serangan udara Israel, mereka mendirikan fasilitas untuk menyediakan darah bagi mereka yang terluka dan sakit.
“Kami mengumpulkan antara 20 hingga 30 kantong darah setiap hari,” katanya. “Namun dibandingkan dengan jumlah korban luka yang dibawa ke rumah sakit di Gaza utara – seperti Rumah Sakit Indonesia, Kamal Adwan, dan RS Al-Ahli – jumlah ini sangat kecil.” Laboratorium di sini hanya dapat menyediakan sekitar 10 persen dari pasokan yang diberikan oleh bank darah di Al-Shifa. “Al-Shifa berfungsi sebagai penyelamat bagi lima hingga enam rumah sakit di utara, dengan menyediakan darah, trombosit, dan plasma,” tambah Abu Sidu.
Dia juga menjelaskan bahwa laboratorium baru ini beroperasi dengan peralatan dan sumber daya yang sangat minim. “Kami kekurangan peralatan medis penting seperti kursi donor darah dan lemari es untuk penyimpanan,” tambahnya, menekankan tantangan besar yang mereka hadapi. Dia juga menyoroti dampak kelaparan yang meluas pada sumbangan darah. “Para donor datang dalam keadaan lemah karena mereka tidak makan dengan baik. Kebanyakan dari mereka mengalami pusing setelah mendonorkan darah karena malnutrisi parah di Gaza utara.”
Pasien kronis, termasuk mereka yang menderita leukemia dan penyakit ginjal, sangat membutuhkan darah setiap minggu. “Sumbangan yang kami terima jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan. Saat ini kami hanya memiliki 100 kantong darah dalam penyimpanan, tetapi kami membutuhkan setidaknya 500 hingga 600 kantong untuk menutupi kebutuhan yang terus berlanjut,” kata Abu Sidu.
Seiring dengan serangan Israel yang terus berlanjut dan kelangkaan makanan yang semakin memburuk, situasi pasokan darah yang sudah kritis di Gaza semakin mendekati ambang kehancuran. Hal tersebut tentu membuat penduduk Palestina di Gaza semakin rentan.
Serangan Israel telah menyebabkan hampir seluruh penduduk wilayah tersebut mengungsi di tengah blokade yang menyebabkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah. Israel menghadapi tudingan genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di Gaza. Krisis ini diperparah oleh kelaparan luas yang melanda wilayah tersebut, yang menyebabkan bahkan mereka yang bersedia mendonorkan darah tidak mampu melakukannya karena malnutrisi.
Menurut laporan PBB pada Juli yang berjudul “Situasi Ketahanan Pangan dan Gizi di Dunia 2024”, setiap penduduk Gaza menderita ketidakamanan pangan yang parah. Krisis paling parah terjadi di wilayah utara karena penduduknya sangat kekurangan gizi, sehingga tidak dapat mendonorkan darah. Hancurnya bank darah Al-Shifa telah menyebabkan kekurangan darah yang parah, membuat korban luka dan penderita penyakit kronis menghadapi risiko kematian karena kekurangan darah.
Sumber: https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








