Pemerintah Gaza melaporkan bahwa Israel telah melakukan sedikitnya 497 pelanggaran gencatan senjata sejak kesepakatan itu mulai berlaku pada 10 Oktober. Serangkaian serangan terbaru pada Sabtu kembali membunuh sedikitnya 24 warga Palestina, termasuk anak-anak, serta melukai 87 orang di berbagai wilayah Jalur Gaza.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, pelanggaran-pelanggaran tersebut telah menyebabkan 342 korban jiwa dan 875 luka-luka, sebagian besar perempuan, anak-anak, dan lansia. Otoritas Gaza menyatakan bahwa Israel sengaja merusak kesepakatan gencatan senjata melalui serangan mematikan dan eskalasi berulang.
Serangan terbaru pada Sabtu dimulai dengan hantaman terhadap sebuah mobil di Gaza utara, disusul serangan tambahan di Deir al-Balah dan Kamp Pengungsi Nuseirat. Seorang saksi, Abdelrahman Shabaan, mengatakan kepada Quds News Network: “Ledakannya sangat kuat. Tidak ada ketenangan atau gencatan senjata di Gaza. Ini hanya gencatan senjata dalam nama saja.” Ia menambahkan bahwa warga kini takut keluar rumah akibat pelanggaran yang terus berlanjut.
Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat rangkaian tindak pelanggaran yang dilakukan Israel sejak 10 Oktober, termasuk:
- 142 tembakan langsung terhadap warga sipil, rumah, dan tenda pengungsi
- 21 kali penetrasi darat melampaui “garis kuning”
- 228 serangan udara, artileri, dan darat
- 100 penghancuran rumah dan bangunan sipil, yang disebut sebagai bentuk hukuman kolektif
- 35 warga Palestina ditangkap dalam penggerebekan dan serangan
Otoritas Gaza menyebut pola agresi ini sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap hukum humaniter internasional dan protokol kemanusiaan gencatan senjata.
Di tengah meningkatnya serangan, Israel dikabarkan masih menduduki lebih dari 50% wilayah Gaza, dengan lintasan “garis kuning”, batas ilegal antara pasukan Israel dan warga Palestina. Dalam beberapa pekan terakhir, tentara Israel meningkatkan serangan di sebelah timur garis tersebut, menghancurkan area luas dan menjadikannya sangat berbahaya bagi warga.
Pemerintah Israel mengklaim pelanggaran pada Sabtu terjadi setelah seorang pejuang Hamas menyerang pasukan Israel di Rafah, wilayah yang berada di bawah kendali Israel. Namun, Hamas menolak tuduhan itu dan menyatakan bahwa Israel melanggar gencatan senjata “dengan dalih yang dibuat-buat” dan meminta mediator termasuk AS, Mesir, dan Qatar untuk segera turun tangan.
Hamas juga menegaskan bahwa Israel bergerak melampaui batas yang ditetapkan dalam kesepakatan dan berupaya mengubah zona kendali di Gaza. “Setiap hari Israel terus melanggar kesepakatan secara sistematis,” kata anggota Biro Politik Hamas, Izzat al-Risheq.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah membunuh hampir 70.000 warga Gaza dan melukai lebih dari 170.800 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta meratakan sebagian besar wilayah kantong tersebut sebelum dihentikan melalui kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat.
Sumber: MEMO, Qudsnen








