Pemerintah kota di Jalur Gaza memperingatkan bahwa layanan dasar mereka terancam berhenti total akibat krisis bahan bakar yang memburuk di wilayah yang hancur akibat agresi Israel.
Peringatan ini disampaikan dalam sebuah pernyataan resmi yang dibacakan Wali Kota Khan Yunis, Alaa al-Batta, dalam konferensi pers di Khan Yunis, Gaza selatan.
Menurut pemerintah kota, krisis ini disebabkan oleh penolakan Israel untuk mengizinkan masuknya pasokan diesel dalam jumlah yang memadai untuk mengoperasikan fasilitas dan peralatan vital di Gaza.
Mereka menjelaskan bahwa sejak gencatan senjata dimulai 50 hari lalu, Gaza hanya menerima pasokan bahan bakar yang cukup untuk lima hari kerja, yang digunakan untuk membuka jalan, membersihkan puing, dan mendukung pergerakan para pengungsi.
Jumlah bahan bakar yang sangat terbatas itu berada di bawah pengelolaan United Nations Office for Project Services (UNOPS), yang kini dinilai tidak mampu lagi memenuhi bahkan kebutuhan minimum diesel agar layanan kota tetap berjalan.
Pemerintah kota menyerukan negara-negara Arab—termasuk Arab Saudi, Mesir, Qatar, UEA, Kuwait, Oman, Aljazair, Libya, dan Bahrain—untuk segera turun tangan memasok bahan bakar bagi pemerintah kota di Gaza. Mereka menekankan bahwa intervensi mendesak sangat dibutuhkan guna mencegah tumbangnya seluruh sistem layanan kota di tengah situasi kemanusiaan yang semakin katastrofis di wilayah pesisir tersebut.







![Konferensi pers Palestine Festival yang diselenggarakan di Gudskul, Jagakarsa, pada Ahad [30/11] sebagai rangkaian menuju event kemanusiaan akhir tahun 2025. Acara ini memperkenalkan teater bertema keteguhan rakyat Gaza dalam menghadapi genosida. Konferensi pers turut dihadiri para pemain teater: David Chalik, Bella Fawzi, Robert Chaniago, dan Cholidi Asadil Alam.](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/12/DSC00773-75x75.jpg)
