Jalur Gaza kini berada di ambang bencana kelaparan besar-besaran. Menurut peringatan terbaru dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC), dua dari tiga indikator kelaparan telah terlampaui di sebagian wilayah Gaza. Organisasi PBB seperti FAO, WFP, UNICEF, dan UN Women memperingatkan bahwa waktu semakin menipis untuk menyelamatkan lebih dari dua juta jiwa yang terjebak dalam kondisi kemanusiaan yang kian memburuk.
Lebih dari 500.000 orang–hampir seperempat dari populasi Gaza–menghadapi kondisi mirip kelaparan, sementara 39 persen lainnya kerap melewatkan hari-hari tanpa makanan. Di Gaza City, tingkat malnutrisi akut pada anak-anak melonjak empat kali lipat dalam dua bulan terakhir, mencapai 16,5 persen. Krisis ini menandai peningkatan tajam risiko kematian akibat kelaparan dan kekurangan gizi.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut situasi ini sebagai “bencana kemanusiaan dalam skala epik” dan mendesak segera diberlakukannya gencatan senjata permanen, akses kemanusiaan penuh, serta pembebasan seluruh tawanan.
Direktur Jenderal FAO, QU Dongyu, menegaskan bahwa kelaparan ini bukan karena makanan tidak tersedia, melainkan karena akses yang diblokir, sistem pangan lokal yang hancur, dan keluarga yang tak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar. “Kita butuh akses kemanusiaan yang aman dan berkelanjutan, serta dukungan untuk memulihkan produksi pangan lokal,” ujarnya.
Cindy McCain, Direktur Eksekutif WFP, menambahkan: “Orang-orang di Gaza sudah sekarat karena kelaparan. Menunggu konfirmasi resmi tentang kelaparan sebelum mengirim bantuan makanan berskala besar adalah tindakan yang tidak bermoral.”
Kondisi paling parah dialami oleh anak-anak. Lebih dari 320.000 anak di bawah usia lima tahun berisiko mengalami malnutrisi akut, ribuan di antaranya dalam kondisi gizi buruk yang mengancam nyawa. Layanan gizi dasar hampir lumpuh sepenuhnya—kurang dari 15 persen masih berfungsi—sementara akses terhadap air bersih, susu pengganti, dan makanan terapeutik sangat terbatas.
Sementara itu, UN Women mencatat bahwa satu juta perempuan dan anak perempuan di Gaza kini menghadapi kelaparan, kekerasan, serta ketidakpastian antara tetap bertahan di pengungsian atau berjalan untuk mencari makanan. UNICEF menyebutkan bahwa ribuan anak telah dirawat karena malnutrisi sejak Juni 2025, dan angka bulan Juli diprediksi lebih tinggi lagi.
Meskipun penyeberangan bantuan sempat dibuka sebagian, volume bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza masih sangat minim. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar saja, dibutuhkan lebih dari 62.000 ton bantuan setiap bulan, belum termasuk kebutuhan akan bahan makanan segar seperti buah, sayur, susu, dan protein hewani yang hanya dapat dipenuhi lewat impor komersial.
Tanpa bahan bakar, air bersih, dan bantuan vital lainnya,upaya penyelamatan akan terus terhambat. Meski ada komitmen untuk jeda kemanusiaan, lembaga-lembaga kemanusiaan berharap tindakan nyata segera dilakukan untuk menghentikan penderitaan massal ini sebelum korban terus bertambah.
Sumber:
https://www.wfp.org/news/un-agencies-warn-key-food-and-nutrition-indicators-exceed-famine-thresholds-gaza#:~:text=Food%20consumption%20%E2%80%93%20the%20first%20core,at%20a%20time%20without%20eating.
https://english.palinfo.com/news/2025/07/30/344400/








