Di dunia yang serba digital seperti sekarang, pernahkah kamu membayangkan berapa lama kamu bisa bertahan tanpa ponsel dan internet? Apakah hitungan menit, hitungan jam, hitungan hari, atau bahkan minggu? Apa yang kamu bayangkan akan terjadi jika kamu tidak bisa menggunakan ponselmu untuk mengakses internet selama satu hari saja? Kira-kira, akankah kamu merasakan cemas, bosan, atau bahkan frustrasi?
Meski kondisi setiap orang berbeda-beda, kemungkinan besar kebanyakan orang tidak akan bisa bertahan lama tanpa ponsel dan internet. Sebab, ponsel dan internet saat ini telah memiliki fungsi yang kompleks, baik itu untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, informasi, hiburan, dan tentunya yang paling utama: komunikasi. Tanpa ponsel dan internet, mungkin dapat dikatakan kita terputus dari dunia, juga terputus dari orang-orang terdekat kita.
Akan tetapi, di Palestina, penduduknya sudah mengalami kondisi buruk tersebut di tengah agresi yang tidak kunjung berhenti. Tidak ada internet, ditambah dengan pemadaman listrik berhari-hari, Gaza yang dijuluki ‘penjara terbuka terbesar di dunia’ telah sempurna terputus dari dunia luar, bahkan keterhubungan antara penduduknya pun terputus satu sama lain. Berikut adalah beberapa kisah penduduk Gaza mengenai apa yang mereka rasakan saat Israel memutus akses internet ketika Gaza sedang berada di titik kritis.
Mereka Masih Berada di Bawah Reruntuhan

Butuh waktu dua hari bagi Samira Sabre untuk mengetahui apakah ada kerabatnya yang terbunuh ketika rumah pamannya di Gaza dibom pada Jumat (27/10). Setelah menanti kabar seharian, ia baru bisa mendapatkan informasi saat saudara laki-lakinya menyampaikan kabar tersebut pada Sabtu pagi (28/10). Namun, ketika saudaranya harus pergi lagi untuk melanjutkan pembagian bantuan, Sabre tidak memiliki pilihan selain duduk di tangga rumah tempat dia berlindung dan menangis.
Setelah berada dalam kegelapan karena sebagian besar aliran listrik padam, lebih dari 2,3 juta warga Palestina diisolasi sepenuhnya pada hari Jumat (27/10) sore sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Israel mematikan layanan komunikasi, termasuk semua koneksi telepon dan internet, bersamaan dengan meningkatnya serangan udara dan darat Israel di Jalur Gaza. Penyedia telekomunikasi Palestina Jawwal mengatakan bahwa pengeboman Israel telah menghancurkan “semua koneksi internasional yang tersisa yang menghubungkan Gaza ke dunia luar”. Akibatnya, 2,3 juta warga Palestina di Gaza tidak hanya terputus dari dunia luar – tetapi juga terputus dari satu sama lain.
Lebih dari 60 orang pengungsi yang juga tinggal di sebuah rumah di Deir al-Balah, Gaza tengah, berkumpul untuk menghibur Sabre. “Mereka masih berada di bawah reruntuhan. Bayangkan, sudah dua hari berlalu dan mereka masih berada di bawah reruntuhan? Mereka tidak mungkin masih hidup, saya harap mereka syahid,” kata Sabre kepada Middle East Eye. “Bagaimana saya tahu kalau mereka sudah ditarik dari reruntuhan? Bagaimana saya bisa menunggu sampai [saudara laki-laki saya] lewat lagi besok atau lusa?”
Sebagai sopir bus yang membagikan distribusi bantuan, saudara laki-laki Sabre dianggap memiliki “hak istimewa” untuk bisa mengakses teman dan keluarganya sebagai bagian dari tugasnya. Kesempatan tersebut amatlah langka, terutama saat Israel memutus semua pasokan bahan bakar, makanan, dan air dari luar Gaza, sehingga hampir mustahil bagi sebagian besar warga Palestina untuk berpindah antarwilayah.
“Dia mengatakan kepada saya bahwa paman saya, istri, dan anak-anak mereka berada di bawah reruntuhan, dan tidak ada petugas pertahanan sipil yang dapat segera menghubungi mereka ketika rumah mereka menjadi sasaran pada malam hari,” kata Sabre. “Mereka baru berhasil menemukan bangunan tersebut pada pagi hari saat menjelajahi daerah sasaran untuk mencari rumah yang dibom.”
Pada Minggu pagi (29/10), saat sekitar 35 persen layanan telekomunikasi Gaza telah kembali beroperasi, hal pertama yang dilakukan Sabre adalah menelepon kerabatnya untuk mencari tahu apakah keluarga pamannya selamat. “Paman saya ditarik hidup-hidup dari reruntuhan. Namun, istri dan salah satu gadis kembarnya tewas–sementara seorang gadis kembar lainnya berhasil ditarik keluar hidup-hidup, tetapi kakinya terbakar habis,” kata Sabre.
Jika Kami Kehilangan Nyawa, Setidaknya Kami Tetap Bersama

Sekitar pukul enam sore pada hari Jumat, ketika seluruh Gaza kehilangan kontak dengan dunia luar dan satu sama lain, keluarga saya dan keluarga paman saya berkumpul di satu ruangan di sebuah rumah di Kamp Maghazi. Kami telah meninggalkan rumah kami di bagian barat dan pindah ke Gaza selatan sesuai perintah Israel. Israel, tentu saja, mengklaim bahwa perintahnya agar kami pergi adalah demi keselamatan kami, namun sebagai orang yang selamat dari agresi biadabnya di Gaza, saya dapat memastikan bahwa itu hanyalah mitos.
Alasan utama kami berkumpul dalam satu ruangan sederhana saja: jika kami menjadi sasaran pengeboman dan, yang terburuk, kami kehilangan nyawa, kami masih bersama-sama. Tak satu pun dari kami ingin salah satu dari kami menanggung sakitnya hidup sendirian.
Seperti rutinitas biasanya, malam itu saya mengambil laptop untuk memastikan baterainya terisi penuh, sehingga saya bisa melanjutkan pekerjaan sebagai jurnalis. Beberapa saat sebelumnya, saya terlibat dalam percakapan dengan seorang jurnalis Kanada, membahas keadaan yang mengerikan di Jalur Gaza. Sementara itu, ayah saya sedang menelepon saudara laki-laki saya, Adham, yang tinggal di Amerika, mencoba meyakinkan dia tentang keselamatan kami.
Di ruangan yang sama, sepupu saya Reem dengan rajin membaca berita yang dia ikuti di Telegram. Dia memberitahu kami informasi terkini tentang lokasi-lokasi yang diserang di dalam dan sekitar Jalur Gaza, sehingga kami bisa memantau orang-orang yang kami cintai yang tinggal di wilayah tersebut. Di sudut lain, adik laki-laki saya, yang baru berusia 13 tahun, sedang bermain dengan putra sepupu saya, Hammoud, yang akan berusia dua tahun bulan depan.
Lalu, tiba-tiba, koneksi internetku terputus, sehingga aku bertanya dengan suara gemetar, “Apakah ada masalah dengan internet?” Pada saat yang sama, ayahku berkata, “Aku kehilangan kontak dengan Adham,” pamanku menambahkan, “Aku tidak punya sinyal telepon sama sekali!” Hari itu, kami hanya punya radio sebagai alat komunikasi. Ketika kami menyalakan radio dan mendengar penyiar radio Al Jazeera melaporkan bahwa Israel telah memutus komunikasi dan akses internet di seluruh Jalur Gaza, kami semua terkejut dan terdiam. Kami mulai merenungkan motif Israel di balik isolasi kami dari dunia luar.
Di antara kami, ada yang percaya bahwa mereka bertujuan untuk mengisolasi kami agar dapat melakukan kejahatan lebih lanjut, jauh dari pengawasan komunitas internasional. Beberapa bahkan bertanya-tanya apakah ini mungkin malam terakhir kami hidup. Pikiranku dipenuhi oleh kekhawatiran terhadap teman-temanku di luar Gaza, membayangkan penderitaan yang mereka rasakan karena tidak bisa menerima kabar terbaru tentang keselamatanku. Kekhawatiran saya juga meluas ke kerabat saya yang memilih untuk tetap tinggal di wilayah yang lebih berbahaya di Gaza, dan menolak untuk pindah ke selatan.
Beban tanggung jawab saya sebagai jurnalis sangat membebani pikiran saya, karena saya sadar bahwa saya tidak berdaya untuk menyampaikan kebenaran ke seluruh dunia karena pemadaman listrik dan hilangnya konektivitas internet. Saya tidak dapat membayangkan perasaan yang lebih menyakitkan daripada kombinasi rasa tidak berdaya dan ketakutan yang menyelimuti saya.
Kami membaca Al-Qur’an, mencari ketenangan bagi jiwa kami, dan kami membacakan doa, memohon kepada Tuhan untuk melindungi kami, rumah kami, dan orang-orang yang kami sayangi. Tidur pada malam itu adalah suatu hal yang mustahil karena tembakan artileri terus berlanjut tanpa henti, tanpa jeda sedikit pun. Pecahan ledakan bahkan sampai ke taman rumah kami. Suara-suara misil tersebut sungguh menakutkan, namun yang lebih mengerikan lagi adalah kurangnya pengetahuan kami mengenai siapa sasarannya dan siapa yang menjadi korban kekerasan yang tidak masuk akal ini.
Coba pahami hal ini: Kegelapan total, artileri dan pengeboman darat yang tak henti-hentinya, isolasi dari kerabat dan teman, dan terputusnya hubungan dengan seluruh dunia. Malam itu adalah malam terpanjang dalam hidup kami, ditandai dengan isolasi mendadak kami dari dunia. Hal ini terjadi setelah pengeboman besar-besaran di daerah Maghazi, sebuah daerah yang jauh dari utara Gaza yang telah diperingatkan Israel untuk dikosongkan.
Ketika Gaza akhirnya mendapatkan kembali konektivitas internet, saya tidak merasakan kegembiraan seperti yang dialami kebanyakan orang. Sebaliknya, saya diliputi rasa takut. Saya segera meraih ponsel saya untuk memeriksa teman-teman dan kerabat saya, takut kalau-kalau mereka terluka atau lebih buruk lagi. Saya punya alasan untuk takut: Pada tanggal 22 Oktober, dalam serangan udara Israel yang mengerikan yang menargetkan rumahnya, rekan saya, calon penerjemah, Mahmoud, secara tragis kehilangan nyawanya. Seluruh keluarganya dibunuh tanpa ampun – ayahnya, saudara laki-lakinya, saudara perempuannya, dan anak-anak mereka.
Saya membuka akun X saya, untuk mengetahui kejadian di Gaza selama dua hari ketika saya terputus dari dunia luar. Saya membaca postingan teman-teman yang menggambarkan kengerian yang mereka alami selama pengeboman yang tiada henti. Saya sangat ingin mengetahui perkembangan politik dan tingkat kehancuran di Gaza, berharap untuk mendengar berita tentang gencatan senjata dan berakhirnya pembantaian tanpa henti terhadap warga Palestina di Jalur Gaza, sementara Israel terus melanjutkan agresinya tanpa dimintai pertanggungjawaban. Sungguh menyedihkan mendengar bahwa kebrutalan Israel masih berlanjut, dan tidak ada indikasi penyelesaian.
Penderitaan akibat terisolasi dari dunia luar, di tengah gempuran artileri, angkatan laut, dan pengeboman udara Israel yang tiada henti, merupakan sebuah pengalaman yang di luar imajinasi. Bahkan beberapa hari menjelang kesepakatan gencatan senjata pada penghujung November, listrik juga tidak dipulihkan hingga banyak rumah sakit tumbang dan Kementerian Kesehatan tidak bisa menghitung jumlah korban.
Israel mungkin merasa bisa menutupi kejahatan genosidanya dari dunia dengan memutus Gaza dari dunia luar, tetapi melupakan fakta bahwa meskipun penduduk Gaza sepenuhnya terputus dari dunia, mereka tidak pernah terputus dari kekuatan terbesar, pencipta alam semesta.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-war-gaza-blackout-wondering-families-alive-dead
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-war-gaza-blackout-leaves-loved-ones-dark
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








