Dilahirkan Tanpa Harapan

Tubuh-tubuh mungil itu dijejerkan berdempetan, hanya mengenakan popok yang ukurannya lebih besar dari tubuh mereka. Selang-selang dimasukkan ke tubuh mungil mereka, mengalirkan cairan agar mereka bisa bertahan. Dengung pelan peralatan medis berusaha membuat inkubator–yang masih tersisa–agar tetap hidup, demi mempertahankan nyawa-nyawa yang baru saja dilahirkan ke dunia.
Demikianlah keadaan rumah sakit Al-Aqsa, dan rumah sakit-rumah sakit lainnya di Jalur Gaza saat ini. Agresi yang telah berlangsung lebih dari sebulan telah membuat situasi kemanusiaan di wilayah kantong yang diblokade tersebut sangat memprihatinkan, sekaligus mengerikan dalam satu waktu. Tidak ada tempat yang benar-benar aman, sebab pengeboman Israel menargetkan bangunan-bangunan sipil seperti rumah penduduk, sekolah, bahkan rumah sakit.
Kembali ke ruangan departemen intensif neonatal tempat bayi-bayi yang baru lahir di Gaza dikumpulkan, seorang perawat bernama Warda Al-Awawda berdiri di atas inkubator, memeriksa bayi-bayi yang tergeletak tak berdaya di dalamnya. Ia mengatakan, unit perawatan intensif kini penuh sesak karena tidak hanya merawat bayi prematur, tapi juga bayi baru lahir yang terluka akibat pengeboman.
Ia menceritakan, bayi-bayi yang dibawa ke rumah sakit Al-Aqsa seringkali datang dengan kondisi digendong oleh seseorang yang menyelamatkan mereka dari bawah reruntuhan. Beberapa kasus lainnya ada yang cukup beruntung karena diantar sendiri oleh ibu mereka, tetapi kondisinya tetap tidak lebih baik karena menempuh perjalanan yang jauh dan tak jarang hanya menggunakan moda transportasi yang terbatas seperti gerobak yang ditarik oleh keledai.
Khalil al-Dakran, juru bicara rumah sakit, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa “Jika listrik dan air padam dan bahan bakar habis, sementara agresi terus berlanjut, para pasien akan dipindahkan ke kuburan massal,” al-Dakran memperingatkan. “Dan dunia [hanya] menyaksikan,” lanjutnya dengan getir.
Di rumah sakit Al-Shifa, situasinya jauh lebih buruk. Bayi-bayi baru lahir dibaringkan berdampingan, hanya dibungkus dengan kain hijau yang dililitkan di tubuh mereka, beberapa bahkan hanya mengenakan popok tanpa pembungkus lain yang bisa menghangatkan tubuh mereka.
Bayi-bayi tersebut rata-rata prematur, yang masing-masing beratnya kurang dari 1,5 kg (3,3 pon) dan, dalam beberapa kasus, hanya 700 atau 800 gram. Mereka seharusnya ditempatkan di inkubator yang suhu dan kelembapannya dapat diatur sesuai kebutuhan masing-masing untuk mempertahankan nyawa mereka. Akan tetapi, sebaliknya, mereka kini terpaksa dipindahkan ke tempat tidur biasa karena rumah sakit kekurangan listrik. Mereka ditempatkan berdampingan, dikelilingi bungkusan popok, kardus berisi kain kasa steril, dan kantong plastik.
Di Al-Shifa, bayi-bayi tersebut berada di bawah pengawasan petugas medis yang kewalahan karena jumlah pasien yang membludak. Kondisi tersebut diperparah dengan pengeboman terus-menerus dan tank-tank Israel yang mengepung area rumah sakit, membuat rumah sakit Al-Shifa nyaris terputus sama sekali dari listrik, air, obat-obatan, dan bahan bakar. Dan yang lebih parah lagi, bantuan sama sekali tidak bisa mencapai rumah sakit tersebut, karena Israel akan menembak siapa pun yang bergerak masuk maupun keluar dari area rumah sakit Al-Shifa.
“Kemarin saya merawat 39 bayi dan hari ini menjadi 36 bayi,” kata Dr. Mohamed Tabasha, Kepala Departemen Pediatri di Al Shifa, dalam wawancara telepon dengan Al-Jazeera. “Saya tidak bisa mengatakan berapa lama mereka bisa bertahan. Saya bisa saja kehilangan dua bayi lagi hari ini, atau dalam satu jam,” katanya, menggambarkan situasi bayi-bayi yang meninggal perlahan karena inkubator tidak lagi berfungsi. Mereka dilahirkan hanya untuk berpindah ke kuburan massal.
Di Mana Saya Akan Melahirkan?

Dalam agresi Gaza yang sedang berlangsung ini, bahkan bayi yang masih berada di dalam kandungan ibu mereka pun turut menjadi sasaran, tentunya melalui penderitaan yang dialami oleh ibu mereka. Niveen al-Barbari (33) sangat mengkhawatirkan anaknya yang belum lahir. Setiap kali Israel menjatuhkan serangan udara di dekatnya, punggung dan perutnya bergejolak karena ketakutan dan rasa sakit.
Sebelum serangan Israel dimulai pada tanggal 7 Oktober, al-Barbari rutin mengunjungi dokter spesialis karena dia menderita diabetes gestasional dan tekanan darah tinggi. Namun, pengeboman yang terus terjadi memaksanya mencari perlindungan di rumah keluarganya, sehingga dia kehilangan kontak dengan dokternya.
“Setiap hari,” katanya, “Saya bertanya-tanya bagaimana saya akan melahirkan dan di mana. Bom-bom tidak berhenti berjatuhan, dan tidak ada manusia, pohon atau batu yang selamat. Kami tidak tahu rumah siapa yang akan hancur atau siapa yang akan mati. Saya hanya berharap saya dan anak saya selamat.”
Al-Barbari akan melahirkan anak pertamanya dalam waktu dekat. Ia adalah satu dari ribuan perempuan di Jalur Gaza yang tengah mendekati akhir masa kehamilan mereka. Menurut Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNPF), terdapat 50.000 wanita hamil di Gaza yang tercatat selama agresi ini. Banyak dari mereka menderita karena kurangnya pemeriksaan dan pengobatan rutin karena sistem layanan kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran akibat blokade Israel di Gaza.
Menurut Walid Abu Hatab, seorang konsultan medis di bidang kebidanan dan ginekologi di Nasser Medical Complex di Khan Younis, akses terhadap pusat kesehatan menjadi sangat sulit, terutama mengingat adanya pengungsian massal yang terjadi pada separuh dari 2,3 juta penduduk Jalur Gaza selama beberapa waktu terakhir.
“Para perempuan mengungsi dari tempat tinggalnya ke daerah lain, artinya berpindah dari fasilitas kesehatan yang sebelumnya memantau kondisi mereka,” ujarnya kepada Al Jazeera. “Hal ini membuat akses terhadap layanan kesehatan menjadi sangat sulit karena mereka memerlukan perawatan primer dan sesi tindak lanjut selama berbagai periode kehamilan.”
Hancurnya jalan-jalan utama di Jalur Gaza telah meningkatkan waktu yang dibutuhkan perempuan hamil untuk mencapai beberapa rumah sakit yang berfungsi untuk melahirkan. Perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit dengan mobil kini dapat memakan waktu berjam-jam, sehingga membahayakan kesehatan para ibu. Begitu sampai di fasilitas kesehatan pun, listrik dan sumber daya yang tidak tersedia terpaksa membuat para ibu yang melahirkan melalui operasi caesar harus menahan sakit karena tindakan dilakukan tanpa anestesi sama sekali.
Menurut Asosiasi Keluarga Berencana dan Perlindungan Palestina, lebih dari 37.000 wanita hamil akan terpaksa melahirkan tanpa listrik atau pasokan medis di Gaza dalam beberapa bulan mendatang sejak agresi dimulai, sehingga berisiko mengalami komplikasi yang mengancam jiwa tanpa akses ke layanan obstetrik darurat.
Beberapa perempuan yang hamil setelah berjuang melalui banyak siklus IVF yang menyakitkan juga khawatir mereka akan mengalami keguguran. Laila Baraka (30) yang, tengah hamil tiga bulan setelah menjalani program IVF bertahun-tahun untuk mencoba memiliki anak kedua. “Sepanjang hari, saya takut dengan suara bom, dan pada malam hari, suaranya semakin intens dan menakutkan,” katanya. “Saya memeluk putra saya yang berusia lima tahun erat-erat sambil mencoba menelan rasa takut saya, namun saya tidak bisa. Apa yang kami dengar bahkan membuat batu ketakutan, bukan hanya manusia.”
Baraka, yang berasal dari Bani Suhaila, sebuah kota di sebelah timur Khan Younis, pindah ke pusat kota yang lebih besar karena berpikir akan lebih aman. Namun, pusat kesehatan yang dia kunjungi sebelumnya tidak menanggapi panggilannya setelah penduduk di wilayah timur dekat pagar perbatasan Israel semuanya telah mengungsi. “Bahkan dokter saya telah diusir dari rumahnya dan sangat sulit berkomunikasi dengannya,” katanya. “Saya beruntung ibu saya selalu berada di sisi saya dan berusaha dengan caranya sendiri untuk membuat saya merasa tenang dan mengurangi stres.”
Namun hal itu tidak berhasil bagi Baraka, yang merasa lelah karena berduka atas gambar dan rekaman kematian anak-anak yang diberitakan. Momen tersulit bagi Baraka adalah menyaksikan seorang dokter di TV melihat cucunya yang masih bayi, yang terbunuh dalam serangan udara Israel dan lahir tahun ini setelah lima tahun menjalani perawatan IVF. “Bisakah Anda bayangkan seperti ini nasib anak-anak kami?” dia berkata. “Apa yang dialami para ibu di Gaza tidak pernah bisa dijelaskan.”
Pedihnya Menjadi Perempuan di Gaza

Selain perempuan hamil, perempuan dan anak perempuan juga menghadapi tantangan yang berat selama agresi. Menghadapi pengungsian, kondisi tempat tinggal yang terlalu padat, dan kurangnya akses terhadap air dan produk kebersihan menstruasi seperti pembalut wanita dan tampon, banyak perempuan Palestina yang terpaksa meminum pil penunda menstruasi karena kondisi buruk yang mereka hadapi akibat serangan Israel yang terus berlanjut di Gaza.
Para perempuan di Gaza terpaksa mengonsumsi tablet norethisterone – yang biasanya diresepkan untuk kondisi seperti perdarahan menstruasi yang parah, endometriosis, dan nyeri haid – untuk menghindari rasa tidak nyaman dan nyeri saat menstruasi. Menurut Dr Walid Abu Hatab, seorang konsultan medis kebidanan dan ginekologi di Nasser Medical Complex di selatan Kota Khan Younis. Tablet tersebut menjaga kadar hormon progesteron tetap tinggi untuk menghentikan rahim melepaskan lapisannya, sehingga menunda menstruasi. Pil tersebut memiliki efek samping seperti pendarahan vagina yang tidak teratur, mual, perubahan siklus menstruasi, pusing, dan perubahan suasana hati. Namun, sebagian wanita seperti Salma Khaled mengatakan mereka tidak punya pilihan selain mengambil risiko di tengah gencarnya pengeboman dan blokade Gaza.
Salma meninggalkan rumahnya di lingkungan Tel al-Hawa di Kota Gaza dua pekan lalu dan tinggal di rumah kerabatnya di kamp pengungsi Deir el-Balah di Gaza tengah. Wanita berusia 41 tahun ini mengatakan bahwa dia terus-menerus berada dalam ketakutan, ketidaknyamanan dan depresi, yang berdampak buruk pada siklus menstruasinya. “Saya mengalami hari-hari tersulit dalam hidup saya selama perang ini,” kata Salma. “Saya mendapat menstruasi dua kali dalam bulan ini – yang sangat tidak teratur bagi saya – dan mengalami pendarahan hebat.”
Salma mengatakan tidak tersedia cukup pembalut di beberapa toko dan apotek yang masih buka. Sementara itu, berbagi rumah dengan puluhan kerabat di tengah kekurangan air telah membuat kebersihan rutin menjadi sebuah kemewahan – bahkan mustahil. Penggunaan kamar mandi harus dijatah, dan mandi dibatasi beberapa hari sekali. Apotek dan toko sama-sama menghadapi berkurangnya persediaan karena blokade total yang diberlakukan oleh Israel. Tanpa sarana untuk mengatur menstruasinya seperti biasanya, Salma memutuskan untuk mencoba mencari pil agar tidak menstruasi.
Menurut Nevin Adnan, seorang psikolog dan pekerja sosial yang berbasis di Kota Gaza, perempuan biasanya mengalami gejala psikologis dan fisik pada hari-hari sebelum dan selama menstruasi, seperti perubahan suasana hati dan nyeri perut bagian bawah dan punggung. Gejala-gejala ini dapat memburuk pada saat stres, terlebih dalam keadaan perang seperti yang sedang berlangsung, kata Adnan.
“Perpindahan (karena mengungsi) juga menyebabkan stres yang ekstrem dan itu memengaruhi tubuh wanita serta hormonnya,” jelasnya. “Bisa juga terjadi peningkatan gejala fisik yang berhubungan dengan menstruasi, seperti sakit perut dan punggung, sembelit, dan kembung,” ujarnya. Para perempuan mungkin mengalami insomnia, rasa gugup terus-menerus, dan ketegangan ekstrem, tambah Adnan. Saat ini, dia mengatakan lebih banyak perempuan yang bersedia meminum pil penunda menstruasi untuk menghindari rasa malu karena kurangnya fasilitas kebersihan, privasi, dan produk kesehatan yang tersedia.
Meski begitu, meskipun dia memahami kesulitan yang ada saat ini, Adnan mengatakan bahwa dalam keadaan normal, berkonsultasi dengan dokter sebelum meminum tablet ini penting untuk mengetahui apa efek pil ini dan penggunaannya yang berkelanjutan terhadap kesehatan fisik wanita. “Hal ini dapat memengaruhi perubahan hormonal alami seorang perempuan, tanggal menstruasi pada bulan berikutnya, jumlah darah yang keluar, dan apakah menstruasinya berhenti,” katanya kepada Al Jazeera.
Selain Salma, Samira al-Saadi, yang mengungsi bersama keluarganya di sebuah sekolah yang dikelola PBB di sebelah barat Khan Younis, berharap dia bisa berbuat lebih banyak untuk putrinya yang berusia 15 tahun yang mendapat menstruasi pertamanya beberapa bulan lalu. Putrinya kewalahan karena baru saja mulai menstruasi dan harus mengatur menstruasinya di tempat penampungan yang padat, kata wanita berusia 55 tahun itu.
“Dia membutuhkan pembalut dan air untuk mencuci, tapi kebutuhan dasar ini tidak tersedia.” Samira ragu untuk membelikan putrinya pil penunda menstruasi karena dia khawatir pil tersebut akan berdampak pada kesehatan anaknya. “Dia tidak mengerti kenapa dia harus melalui semua ini,” kata Samira. “Saya mencoba membantunya, tapi apa yang dia butuhkan tidak ada.”
Ruba Seif juga tinggal di tempat penampungan bersama keluarganya. “Tidak ada privasi, kamar mandi tidak memiliki air mengalir, dan kami tidak bisa keluar dengan mudah untuk mencari apa yang kami butuhkan.” Ruba yang sibuk mengasuh keempat anaknya, yang tertua berusia 10 tahun dan yang bungsu berusia dua tahun, akhirnya meminta kakaknya untuk mencarikan obat penunda haid. Setelah mencari di beberapa apotek akhirnya dia menemukannya.
“Wanita lain di sekitar saya di sekolah meminta pil ini kepada saya,” kata Ruba. “Salah satu dari mereka mengatakan kepada saya bahwa dia telah melalui masa terburuk dalam hidupnya. Saya tahu efek samping negatifnya, tapi pil ini tidak akan jauh lebih berbahaya daripada misil, kematian, dan kehancuran di sekitar kita.”
Ini Kuburan Massal, Bukan Rumah Sakit
![People stand outside the emergency ward of Al-Shifa hospital in Gaza City on November 10, 2023 [KHADER AL ZANOUN/AFP via Getty Images]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2023/11/people-stand-outside-the-emergency-ward-of-al-shif.jpeg)
Rumah sakit bukanlah tempat yang aman di Gaza. Tak peduli aturan hukum internasional mengenai larangan menyerang fasilitas-fasilitas publik, Israel terus membombardir rumah sakit di Jalur Gaza, bahkan hingga detik-detik terakhir menjelang gencatan senjata.
Rumah Sakit Al-Shifa, Rumah Sakit Al-Quds, Rumah Sakit Al-Rantisi, dan Rumah Sakit Indonesia barulah beberapa nama rumah sakit yang dikabarkan kehabisan bahan bakar dan tidak bisa beroperasi. Para korban yang terluka dibawa menggunakan kereta papan yang ditarik oleh seekor keledai karena ambulans telah dibom. Saat sampai di rumah sakit pun, seringkali tak ada harapan apa pun. Pasien terpaksa dirawat di lantai rumah sakit karena keterbatasan kasur, dioperasi tanpa anestesi karena kehabisan peralatan medis, hingga akhirnya banyak yang meninggal perlahan sebelum sempat diobati karena tenaga kesehatan juga banyak yang terbunuh.
Sebelum gencatan senjata dilakukan pada tanggal 14 November 2023, jumlah korban tewas tercatat telah menembus angka 15.000 jiwa, termasuk 6.150 anak-anak dan lebih dari 4.000 perempuan. Ini merupakan imbas dari hancurnya 22 rumah sakit dan 49 pusat kesehatan, serta penargetan 53 ambulans yang dilaporkan pada pertengahan November oleh Anadolu Agency.
Ketika Perbatasan Rafah dibuka untuk para pengungsi pun, nyawa mereka tidak serta merta terselamatkan. Ambulans-ambulans dibom di dekat perbatasan, bayi-bayi prematur dihalangi hingga meninggal di perjalanan, dan tak terhitung ratusan pasien yang meregang nyawa ketika berusaha menyeberang. Pengeboman yang menghancurkan jasad korban ditambah dengan pemadaman listrik di fasilitas kesehatan membuat penghitungan korban menjadi terhambat, lapor Kementerian Kesehatan.
Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan seharusnya menjadi tempat yang penuh akan harapan. Para pasien seharusnya datang dengan keyakinan dan kepercayaan kepada tenaga medis, bahwa mereka akan mengusahakan apa yang mereka bisa untuk menyembuhkan. Tapi di Gaza, bahkan harapan sekecil itu terus dimusnahkan oleh pengeboman, dikubur dalam-dalam di bawah reruntuhan.
Di Gaza, gencatan senjata bukanlah solusi. Puluhan ribu nyawa telah berpulang, sedangkan yang lainnya masih membutuhkan perawatan. Rumah sakit-rumah sakit yang hancur bukanlah tempat yang pantas bagi mereka untuk memulihkan diri. Apa yang mereka butuhkan adalah kebebasan dan kemerdekaan, sebuah janji bahwa mereka bisa hidup di Palestina sebagai jiwa-jiwa yang berharga, bukan menjadi kumpulan angka tanpa nama.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.#/20231016-unfpa-50000-pregnant-women-in-gaza-without-basic-services/
https://english.wafa.ps/Pages/Details/139170
https://www.#/20231112-gazas-al-quds-hospital-out-of-service-due-to-lack-of-fuel-power-outage/
https://www.#/20231112-650-patients-in-danger-due-to-catastrophic-situation-in-al-shifa-hospital/
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








