Komunitas Muslim di Delhi mengalami ketertinggalan dari orang-orang sezaman mereka, pada sebagian besar parameter sosial-ekonomi. Mereka memiliki tingkat pengangguran dan kematian ibu tertinggi, serta terbatas dalam hal perwakilan politik. Hal ini berdasarkan temuan dari Institute of Policy Studies and Advocacy (IPSA) yang berbasis di Delhi dan Forum Intelektual Muslim India (IMIF). Laporan penelitian ini berjudul ‘Muslim Delhi: Sebuah Studi tentang Status Sosial-Ekonomi dan Politik mereka’ yang dirilis di New Delhi, Minggu (30/4).
Menurut laporan tersebut, distribusi lembaga pendidikan pemerintah di kantong Muslim belum membaik. Di bawah pemerintahan saat ini dilaporkan ada rata-rata empat sekolah per-lingkungan yang dijalankan oleh pemerintah negara bagian dan Municipal Corporation of Delhi (MCD), tetapi di lingkungan konsentrasi Muslim hanya ada 10 di semua lingkungan.
Dilansir dari The Hindu, Senin (1/5), dilaporkan kesenjangan gender yang besar antara laki-laki Muslim (15%) dan perempuan (30%) dalam hal buta huruf. Angka ini bertentangan dengan rata-rata nasional yang lebih rendah. “Dengan kata lain, persentase perempuan Muslim yang buta huruf menjadi perhatian serius di tengah semua pembicaraan tentang “Beti Bachao, Beti Padhao”,” kata mereka dalam laporan tersebut.
Di samping itu, studi tersebut juga menggarisbawahi porsi fiskal dalam keseluruhan anggaran negara untuk pengembangan departemen SC/ST/OBC/Minorities, yang secara langsung menangani 83 persen populasi NCT Delhi, termasuk Muslim. Angka ini telah turun dari 0,98% di 2013–2014 menjadi hampir 0,60% sejak 2015, meskipun jumlah sebenarnya telah meningkat sebagian selama bertahun-tahun seiring dengan keseluruhan anggaran negara.
Seperti halnya pendidikan, umat Islam tampaknya juga tertinggal dalam indeks kesehatan. Angka Kematian Ibu (MMR) di Delhi, meskipun ada klaim perbaikan yang tinggi dalam sistem perawatan kesehatan dan proliferasi klinik mohalla, telah meningkat dari 37 pada tahun 2015 menjadi 54 pada tahun 2020. Perempuan di komunitas Muslim harus menjadi penderita terburuk dari situasi ini, dengan Persalinan Non-Institusional adalah yang tertinggi untuk mereka (13,7%) dibandingkan dengan yang lainnya.
Dalam hal kondisi kehidupan, laporan tersebut mendasari bahwa hanya 69,70% Muslim yang dapat memanfaatkan air minum perpipaan. Angka ini jauh lebih rendah dari 76,3% dari keseluruhan penduduk Delhi.
Laporan itu juga mengungkapkan badan-badan otonom seperti Komisi Minoritas Delhi, Dewan Wakaf Delhi, Akademi Urdu, dan lainnya tidak berfungsi secara optimal. Ini dikaitkan dengan penampilan suram komunitas mereka, dengan tidak adanya perwakilan Muslim di berbagai tingkat pemerintahan.
“Jumlah anggota legislatif (MLA) Muslim di Delhi tetap statis sekitar 5,5%, sedangkan populasi Muslim tiga kali lipat jumlahnya. Representasi di MCD bahkan lebih sedikit,” kata laporan itu. Sebagian besar partai politik tampaknya enggan memberikan kursinya kepada kandidat Muslim, untuk mengikuti pemilihan dari kursi dengan mayoritas non-Muslim.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








