Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang Israel dengan keras mengutuk pemerintah Israel, menyatakan bahwa pemerintah telah menyerah dalam upaya membebaskan para sandera di Gaza dengan melancarkan serangan udara ke Gaza.
“Kekhawatiran terbesar para keluarga, para sandera, dan warga Israel kini menjadi kenyataan—pemerintah Israel telah memilih untuk menyerah terhadap nasib sandera,” demikian pernyataan forum tersebut. Mereka mengungkapkan keterkejutan, kemarahan, dan ketakutan atas gagalnya negosiasi yang seharusnya membawa kembali orang-orang tercinta mereka.
Dalam pernyataannya, forum ini memperingatkan bahwa melanjutkan agresi militer sebelum memastikan pembebasan semua sandera akan membahayakan 59 orang yang masih ditahan di Gaza. “Pemerintah Israel menolak menyatakan mengakhiri perang demi melanjutkan tahap berikutnya dalam kesepakatan gencatan senjata dan membawa pulang semua sandera,” demikian isi pernyataan tersebut.
Seruan untuk Protes dan Penghentian Serangan
Einav Zangauker, ibu dari salah satu sandera, Matan Zangauker, menyerukan aksi protes massal dan mendesak penghentian serangan militer di Gaza. Dalam unggahan di Facebook, ia mengumumkan rencananya untuk pergi ke Nir Oz, Israel selatan, guna menghalangi operasi militer secara langsung .
“Saya tidak mau menerima kabar dari petugas intelijen bahwa Matan telah terbunuh,” tulisnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk membentuk rantai manusia di sekitar Nir OZ guna mencegah serangan lebih lanjut demi menyelamatkan para sandera.
Menurut Haaretz, Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang juga menuding pemerintah Israel telah menyesatkan publik dengan klaim bahwa operasi militer terbaru ini bertujuan menekan Hamas agar membebaskan para sandera. “Ini adalah kebohongan total,” tegas mereka. Forum ini menegaskan bahwa “tekanan militer justru membahayakan sandera maupun tentara Israel.”
Kekecewaan terhadap Pemerintah
Forum ini menyerukan segera dikembalikannya gencatan senjata dan menggelar demonstrasi spontan di dekat Knesset, parlemen Israel, di Al-Quds (Yerusalem).
Emily Damari, salah satu sandera yang sebelumnya dibebaskan dalam kesepakatan gencatan senjata, juga mengungkapkan kesedihannya di media sosial atas dimulainya kembali serangan Israel di Gaza.
“Ada begitu banyak hal yang berkecamuk di pikiranku, dan aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Tapi hatiku hancur, remuk, dan kecewa,” tulisnya.
Dani Miran, ayah dari Omri, salah satu sandera yang masih ditahan di Gaza, juga menyuarakan ketakutannya terhadap serangan yang diperbarui. Dalam wawancara dengan Haaretz, ia menyatakan:
“Ini mengerikan. Setiap sandera yang telah dibebaskan menggambarkan ketakutan terbesar mereka adalah serangan bom Israel—mereka merasakannya dari dekat. Selama anakku dan yang lainnya masih di sana, aku dirundung rasa takut yang luar biasa.”
Miran juga mengkritik kurangnya komunikasi dari pihak berwenang, mengungkapkan bahwa sejak serangan dimulai kembali, tidak ada perwakilan dari militer maupun pemerintah yang menghubungi keluarganya. Ia mendesak agar negosiasi terus dilakukan, menekankan bahwa “pihak lain membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan kembali; ini harus diselesaikan tanpa perang dan tanpa kehilangan satu pun tentara.”
Kritik dari Keluarga Tentara Israel
Sementara itu, kelompok Ima Era, yang terdiri dari para ibu tentara Israel, menyoroti waktu pengambilan keputusan untuk melanjutkan serangan militer. “Memulai kembali pertempuran kurang dari 24 jam setelah pemecatan kepala Shin Bet adalah langkah yang sangat mencurigakan,” kata mereka.
Kelompok ini juga mengecam cara pemerintah dalam menangani situasi tersebut. Mereka bersumpah bahwa mereka “tidak akan membiarkan anak-anak kami menjadi tameng hidup bagi kepemimpinan yang telah kehilangan kepercayaan publik.”
Dampak Serangan ke Gaza
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa setidaknya 400 warga Palestina telah terbunuh dalam gelombang serangan brutal Israel di seluruh Jalur Gaza. Jumlah korban diperkirakan akan terus meningkat karena banyak yang berada dalam kondisi kritis atau masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat bom.
Tentara Israel, yang telah menerapkan blokade total terhadap Gaza, juga mengeluarkan perintah pengusiran paksa terbaru untuk beberapa wilayah.
Hamas menegaskan bahwa Israel melakukan serangan “pengkhianatan” pada dini hari terhadap warga sipil yang terkepung dan tak berdaya demi menggagalkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








