Fakta di Balik Deklarasi Balfour dari Perspektif Yahudi Anti-Zionis – Deklarasi Balfour dikenal sebagai teks yang berisi janji Inggris untuk mendirikan “Rumah Nasional” bagi Yahudi di tanah Palestina.
Teks deklarasi ini dibuat selama periode Perang Dunia ke-1 (1914 — 1918) dan disahkan 104 tahun yang lalu tepatnya pada 2 November 1917. Teks Deklarasi Balfour berbentuk surat dari Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Arthur Balfour, yang ditujukan kepada Lionel Walter Rothschild, seorang tokoh Yahudi-Inggris. Ratusan tahun berlalu, namun masih banyak fakta-fakta tersembunyi di balik teks ini yang satu per satu mulai terungkap seiring berjalannya waktu.
Teks Deklarasi Balfour

Sumber : Haretz
Salah satu fakta menarik terungkap dari penemuan surat-surat yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Israel yang terletak di Al Quds. Surat-surat tersebut ditemukan oleh Kurator Koleksi Israel di Perpustakaan Nasional, Dr. Hezi Amiur. Ia menyebut temuannya tersebut sebagai “Harta karun besar”. Surat-surat tersebut merupakan korespondensi menarik antara Sir Philip Magnus, seorang anggota parlemen Inggris-Yahudi, dengan pemerintah Inggris dan tokoh-tokoh lainnya yang terlibat dalam perancangan teks Deklarasi Balfour.
Amiur mengatakan bahwa surat tersebut merupakan rantai korespondensi dan pembicaraan yang dilakukan oleh sejumlah tokoh Inggris dan Yahudi yang membicarakan versi final dari Deklarasi Balfour. Sepanjang tahun 1917, berbagai draf dan rumusan teks berpindah dari tangan satu ke tangan lainnya sebelum versi finalnya disahkan. Pada awalnya, Inggris tidak memberikan respon positif terhadap permintaan Zionis tersebut. Bahkan hingga Oktober 1917, draft yang dikirimkan ke sejumlah pemimpin Yahudi – termasuk Magnus – sama sekali tidak menyebutkan upaya Yahudisasi di seluruh wilayah Palestina.
Salinan Teks Asli Deklarasi Balfour di Museum Israel

Sumber : Haretz
Akan tetapi, bagi Amiur, draft Oktober ini cukup penting dan menarik. Pada draft ini, Amiur menandai kalimat “Pemerintahan mendukung pendirian Rumah Nasional untuk Ras Yahudi di Palestina.” Menurut Amiur, penggunaan istilah “Rumah Nasional” oleh Inggris bukanlah tanpa alasan. Inggris tidak menggunakan istilah “Negara” seperti yang diinginkan oleh Zionis karena memiliki maksud tertentu. Istilah “Rumah Nasional” digunakan dengan tujuan untuk menciptakan ketidakjelasan tentang tujuan negara itu sendiri.
Seorang ahli politik Israel, Dr. Shlomo Avineri juga menggarisbawahi istilah “Ras Yahudi” yang digunakan dalam teks ini. Ia mengatakan bahwa istilah “Ras” pada abad ke-19 memiliki makna netral yang setara dengan “Rakyat”. Akan tetapi, makna tersebut menjadi berkonotasi negatif sekitar pertengahan abad ke-20. Menurut Avineri, hal itulah yang menjadi sebab istilah “Ras Yahudi” diganti menjadi “Orang Yahudi” pada versi terakhir teks ini. Tujuannya yaitu agar bahasa yang digunakan dalam teks tersebut tidak dianggap anti-semit.
Bagaimanapun juga, di dalam surat tersebut, Magnus terkesan tidak terlalu menyukai rancangan teks yang dikirimkan kepadanya. Ia mengatakan, “Saya tidak setuju bahwa orang-orang Yahudi menganggap diri mereka sebagai sebuah bangsa. Sebuah ‘Rumah Nasional’ untuk ‘Ras Yahudi’ bagi saya tampaknya tidak diinginkan dan tidak akurat secara inferensial.” Lebih lanjut, Magnus meyakini bahwa tidak semua Yahudi memiliki aspirasi yang sama. Ia menganggap bahwa satu-satunya hal yang menjadi kesamaan setiap orang Yahudi hanyalah agama mereka, sehingga orang Yahudi tidak dapat dikatakan sebagai entitas politik, apalagi sebagai sebuah ras maupun bangsa.
Magnus juga memperingatkan pemerintah Inggris bahwa Yahudi sebenarnya sama sekali tidak memiliki hak atas “Rumah Nasional” yang dijanjikan tersebut. Magnus mengatakan bahwa Zionis hanyalah gerakan baru yang muncul akibat orang-orang Yahudi di Rusia tidak diberikan hak yang sama dan tidak diizinkan untuk menjalankan kebiasaan agama mereka. Janji Inggris untuk membangun “Rumah Nasional” bagi Yahudi menurut Magnus dapat ditafsirkan sebagai dukungan dari Inggris untuk mengalihkan pemerintahan wilayah Palestina ke tangan Yahudi, yang pastinya akan menimbulkan peperangan.
Lebih lanjut, Magnus meminta kepada pemerintah Inggris untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan orang-orang Arab Palestina yang sudah sejak lama tinggal di wilayah tersebut. Segala hal harus dipertimbangkan dan didiskusikan untuk menjaga keseimbangan antara umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Dalam hal ini, Magnus gagal untuk meyakinkan pemerintah Inggris, namun pemerintah tetap mengabulkan satu permintaannya yaitu agar hak-hak sipil umat Yahudi di negara lain tidak akan dilanggar dengan didirikannya “Rumah Nasional”.
Permintaan dari Magnus tersebut berasal dari ketakutan yang juga dirasakan oleh Edwin Samuel Montagu, seorang politisi Inggris-Yahudi yang diangkat menjadi Menteri Luar Negeri untuk India. Montagu mengungkapkan ketakutannya bahwa apabila “Rumah Nasional” telah diberikan kepada Yahudi, maka ia khawatir bangsa-bangsa di seluruh dunia akan mengusir orang-orang Yahudi dari tempat mereka tinggal dan melanggar hak-hak mereka dengan dalih Yahudi telah memiliki “Rumah Nasional”. Umat Yahudi akan dianggap sebagai orang asing dan diusir dari tempat mereka tinggal karena dipaksa untuk pindah ke “Rumah” mereka.
Kekhawatiran ini bahkan membuat Montagu berani untuk mengirim sebuah memorandum kepada pemerintah Inggris pada 23 Agustus 1917. Ia berusaha sebisa mungkin untuk mencegah Deklarasi Balfour diterbitkan, bahkan menyebut deklarasi tersebut sebagai anti-semit. Montagu menganggap bahwa dokumen tersebut akan membahayakan, baik itu bagi Yahudi, dan terutama bagi muslim Palestina.
Montagu mengatakan, “Saya khawatir protes saya datang terlambat. Tetapi saya merasa bahwa sebagai satu-satunya menteri Yahudi di Pemerintahan, saya mungkin diberikan oleh rekan-rekan saya kesempatan untuk mengungkapkan pandangan yang mungkin aneh bagi diri saya sendiri, tetapi yang saya pegang sangat kuat dan harus saya ungkapkan jika memiliki kesempatan dan kemampuan.”
Akan tetapi, pada akhirnya suara-suara yang kontra terhadap Deklarasi Balfour tersebut tidak didengar sama sekali. Deklarasi Balfour tetap disahkan pada 2 November 1917 dan kini naskah deklarasi tersebut disimpan di British Library di London. Hingga kini, Deklarasi Balfour tetap diingat sebagai salah satu awal mula penjajahan yang dilakukan Israel di tanah Palestina yang masih berlangsung hingga detik ini.
Sumber :
https://interactive.aljazeera.com/aje/2017/behind-balfour/index.html
https://www.middleeasteye.net/news/balfour-declaration-dissected-67-words-changed-world
Salsabila Safitri








