Pemerintah Israel menyetujui proyek jalan baru bernama “Fabric of Life” di Tepi Barat. Proyek ini akan memaksa warga Palestina menggunakan terowongan bawah tanah untuk bepergian, sekaligus memberi akses eksklusif bagi pemukim Israel ke wilayah strategis antara Al-Quds (Yerusalem) dan blok permukiman Ma’ale Adumim.
Jalur ini dirancang untuk memotong konektivitas Palestina antara wilayah utara dan selatan, sekaligus membuka jalan bagi pembangunan permukiman di kawasan E1, wilayah kunci yang memisahkan Tepi Barat dan menghambat terbentuknya negara Palestina yang berdaulat.
Komunitas seperti Al-Eizariya, Abu Dis, dan Az-Za’im terancam terisolasi, sementara warga Badui di Khan al-Ahmar dan Jabal al-Baba semakin terancam pengusiran. Israel mengklaim proyek ini akan “memudahkan” mobilitas Palestina, namun nyatanya, jalur utama hanya untuk Israel, dan Palestina dipaksa masuk ke “jalan tikus” yang berada di bawah tanah.
Menurut para ahli, proyek ini bagian dari rencana lama Israel untuk menguasai penuh Area C dan mencegah pertumbuhan kota-kota Palestina. Sejak agresi Gaza dimulai, Israel mempercepat proyek-proyek ini di bawah radar, sambil memperketat kontrol dan memperluas permukiman.
Kini, lebih dari 849 hambatan fisik telah diterapkan Israel di Tepi Barat, membatasi 3,3 juta warga Palestina dalam kantong-kantong terpisah yang kian menyerupai ghetto.
Sumber:
https://www.newarab.com/analysis/new-israeli-tunnel-project-will-divide-west-bank-two








