Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med melaporkan pada Senin, 6 November 2023, bahwa Israel melakukan pembantaian terbesar sejak 1948 tadi malam selama berjam-jam serangan udara yang intens dan berkelanjutan di Jalur Gaza. Dalam sebuah pernyataan, pemantau hak asasi manusia mencatat bahwa Israel sengaja melakukan pembantaian di bawah kegelapan dan di tengah gangguan layanan komunikasi dan internet.
Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med memperkirakan bahwa serangan Israel telah mengakibatkan lebih dari 1.500 orang tewas dan terluka, serta menghancurkan ratusan unit permukiman saat para penghuninya masih berada di dalamnya.
Perlu dicatat bahwa serangan pada Minggu malam digambarkan sebagai serangan yang “belum pernah terjadi” sejak dimulainya perang di Jalur Gaza pada Oktober tahun lalu. Pemantau tersebut menerima “kesaksian yang mengejutkan” dari penduduk Kota Gaza mengenai “serangan berdarah” dan serangan udara yang dilakukan oleh pesawat militer Israel. Mereka menyatakan bahwa hal tersebut “menyebabkan kehancuran total seluruh wilayah permukiman dan mengubur puluhan warga sipil di bawah reruntuhan.”
Selain itu, pemantau menyebutkan bahwa kesaksian tersebut menunjukkan adanya ratusan korban yang terjebak di bawah reruntuhan rumah yang hancur, dengan jenazah dan potongan tubuh tergeletak di jalan pada dini hari. Pemantau hak asasi manusia mencatat bahwa serangan-serangan ini terjadi bersamaan dengan “kelumpuhan total” yang memengaruhi pekerjaan tim penyelamat, termasuk kru ambulans dan pertahanan sipil, karena gangguan komunikasi dan layanan internet yang terus menerus selama lebih dari 15 jam.
Tentara Israel telah mengumumkan bahwa mereka menargetkan lebih dari 450 sasaran pada malam itu. Israel juga terus menghasut rumah sakit, menuduhnya sebagai tempat yang digunakan untuk keperluan militer, meski Israel tidak dapat memberikan bukti apa pun. Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med memperingatkan bahwa serangan Israel telah menargetkan sejumlah besar rumah sakit di Kota Gaza dan wilayah utaranya, termasuk Kompleks Medis Al-Shifa, Rumah Sakit Indonesia, Rumah Sakit Mata, Rumah Sakit Yerusalem, dan satu-satunya rumah sakit jiwa di Jalur Gaza.
Sejak dimulainya agresi di Gaza, 16 dari 35 rumah sakit telah berhenti beroperasi, dan lebih dari 75% dari semua fasilitas kesehatan primer di seluruh Gaza telah ditutup karena kerusakan yang disebabkan oleh serangan Israel.
Kekurangan bahan bakar
Selama tiga hari, pembangkit listrik utama di Kompleks RS Al-Shifa di Kota Gaza dan Rumah Sakit Indonesia di bagian utara Jalur Gaza berhenti berfungsi karena kekurangan bahan bakar. Kedua rumah sakit tersebut mengoperasikan generator sekunder yang lebih kecil yang hanya menyediakan listrik beberapa jam setiap hari untuk layanan penting.
Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med menyatakan bahwa ketika Israel mengintensifkan serangan udara dan serangan darat di Gaza, tidak ada jalur aman yang tersedia, baik bagi para pengungsi yang rumahnya hancur maupun bagi petugas yang mengirimkan bantuan kemanusiaan, terutama ke Kota Gaza dan wilayah utara.
Pemantau hak asasi manusia mendokumentasikan contoh-contoh pelecehan yang dialami oleh pengungsi Palestina ketika mereka berusaha bergerak menuju bagian selatan Lembah Gaza, di bawah pengepungan tentara Israel, yang mengelilingi seluruh kota Gaza dan membagi Jalur Gaza.
Kepada tim Euro-Med Human Rights Monitor, para pengungsi menggambarkan bahwa mereka dilucuti pakaiannya atas perintah tentara Israel dan beberapa digunakan sebagai tameng manusia. Mereka juga dipaksa melintasi wilayah selatan Lembah Gaza dengan berjalan kaki di tengah suara ledakan, serangan udara, dan penembakan.
Ribuan pengungsi internal mencari keselamatan dengan tidur di jalanan dekat gedung PBB dan halaman rumah sakit, pada saat tidak ada tempat berlindung yang aman, dan serangan udara terus berlanjut tanpa henti di seluruh Gaza. Euro-Med Human Rights Monitor menyimpulkan dengan menyatakan, “Israel tidak mendapatkan apa pun dalam serangan brutalnya di Jalur Gaza dengan sasaran menyeluruh terhadap infrastruktur sipil, bangunan tempat tinggal, masjid, sekolah, dan rumah sakit, sebagai bagian dari perang-genosida.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








