Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan kedatangan fenomena El Nino hingga enam bulan ke depan. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa pada Maret hingga Mei 2023, beberapa wilayah seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan menghadapi pancaroba alias fase transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Oleh karena itu, masyarakat harus mewaspadai terjadinya angin kencang, puting beliung, hingga hujan lebat dengan durasi yang relatif sebentar.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kata Dwikorita, kondisi kemarau ini terbilang beda. Hal tersebut karena pada tahun ini terdapat fenomena El Nino yang membuat kemarau cenderung lebih kering. Selain itu, dia juga meminta untuk mewaspadai terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama yang terjadi di wilayah lahan gambut.
Wilayah yang harus diwaspadai di antaranya Riau, Jambi, dan Sumatera Utara. Ketiga wilayah itu kata Dwikorita banyak terdapat lahan gambut yang saat terjadi kebakaran terbilang sulit untuk padam. “Karhutla rentan di lahan gambut, yang artinya apabila terbakar sangat dalam (titik apinya). Ini memadamkannya juga tidak mudah,” ujarnya. Dwikorita mengimbau waspada karhutla pada Mei 2023 di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara.

Melalui prakiraan cuaca tersebut, beberapa wilayah hingga enam bulan ke depan, sifat hujan bulanannya diprediksi relatif menurun jika dibandingkan dengan curah hujan bulanan pada tahun lalu. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, Sabtu (28/1), mengungkap beberapa faktor terhadap curah hujan yang masih tinggi dalam setidaknya sepekan ke depan. Pertama, Osilasi Madden-Julian (MJO) yang diprediksi mulai aktif kembali di wilayah barat Indonesia. Kedua, Monsun Asia dan aliran lintas ekuator. Ketiga, perlambatan angin dan belokan angin di sekitar wilayah Indonesia.
Keempat, bibit siklon tropis 94S di Samudera Hindia sebelah barat daya Lampung dengan kecepatan angin maksimum 37 kilometer per jam dan tekanan udara minimum 1.005 milibar. Kelima, bibit siklon tropis 90B yang berada di Samudera Hindia sebelah barat Aceh dengan kecepatan angin maksimum 37 kilometer per jam dan tekanan udara minimum 1.006 milibar. Potensi kedua bibit siklon tropis tersebut untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada dalam kategori rendah.
Dampaknya, beberapa wilayah tetap diguyur hujan. Terdapat potensi siaga hujan lebat untuk periode 28–30 Januari 2023. Di samping itu, potensi hujan sedang hingga lebat berpotensi “terjadi hampir di seluruh daerah” dalam rentang waktu 28 Januari sampai 2 Februari 2023. Ia juga mengungkap potensi gelombang tinggi diperkirakan terjadi di wilayah perairan Indonesia pada 28 Januari sampai 1 Februari. Ketinggiannya, kata Guswanto, antara 2,5 meter sampai lebih dari 6 meter. Gelombang laut ekstrem dengan ketinggian di atas 6 meter tersebut berpotensi terjadi di Laut Natuna Utara.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








