Nasib kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Palestina tampaknya dipertaruhkan karena Ramadan akan dimulai pada pekan depan. Selain itu, kekerasan pemukim dan kemungkinan penyerbuan ke kompleks al-Aqsa diperkirakan akan menyebabkan peningkatan ketegangan di Tepi Barat yang dijajah.
Amihai Eliyahu, Menteri Warisan dari partai ekstremis sayap kanan yang menyerukan untuk mengebom Gaza pada awal November, mengatakan bahwa bulan Ramadan yang disebut-sebut harus dihapuskan, selaras dengan ketakutan Israel terhadap Ramadan yang juga harus dihentikan.
Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional melangkah lebih jauh dengan menghina Shin Bet, badan intelijen internal Israel karena membebaskan beberapa warga Palestina dari penahanan administratif menjelang Ramadan dalam upaya menenangkan Tepi Barat.
Avigdor Liberman, pemimpin faksi oposisi Yisrael Beiteinu mengatakan “pemerintahan Netanyahu telah berjalan dengan sendirinya, tidak lagi mampu memimpin atau mempersatukan kita. Saya memberi penghargaan kepada pemerintah selama lima bulan, tetapi setelah sepuluh hari terakhir, pemerintah tidak berhak untuk ada dan kita harus mengadakan pemilihan,” tambahnya.
Netanyahu menghadapi tekanan yang meningkat dari warga Israel yang melakukan protes di Yerusalem (Al-Quds) yang menyerukan pemilihan umum dan pembebasan sandera.
Sementara itu, keretakan signifikan antara Netanyahu dan menteri kabinet perangnya, Benny Gantz, mulai terlihat. Gantz berencana mengunjungi Washington untuk bertemu dengan para pejabat AS. Kan News melaporkan bahwa pemerintah mengatakan kepada kedutaan Israel di Washington untuk tidak mengambil bagian dalam rencana kunjungan Gantz.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








