Ketika dunia menyambut tahun 2026, Jalur Gaza mengawali tahun baru dalam kondisi kehancuran dan kekerasan yang terus berlanjut. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya dua anak Palestina terbunuh dan satu lainnya terluka akibat serangan Israel di berbagai wilayah Gaza dalam 24 jam terakhir. Seorang anak perempuan berusia 11 tahun dilaporkan terbunuh setelah ditembak pasukan Israel di Jabalia an-Nazla, Gaza utara, serta Israel membunuh anak lainnya di selatan Jalur Gaza pada hari Rabu, di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berlanjut. Sementara satu jenazah lainnya berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan serangan sebelumnya.
Kematian anak tersebut menambah daftar pelanggaran gencatan senjata yang diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, menambah total korban menjadi sedikitnya 416 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 1.150 lainnya terluka akibat serangan Israel. Selain itu, ratusan jenazah telah dievakuasi dari bawah puing-puing.
Secara keseluruhan, agresi genosida Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah membunuh lebih dari 71.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta melukai lebih dari 171.000 orang. Dalam 48 jam terakhir saja, rumah sakit di Gaza menerima tiga jenazah warga sipil dan 10 korban luka.
Di tengah krisis ini, Israel masih memberlakukan larangan terhadap 37 organisasi bantuan kemanusiaan, termasuk Oxfam dan Doctors Without Borders, setelah organisasi-organisasi tersebut menolak menyerahkan data staf mereka atas tuduhan yang belum terbukti terkait hubungan dengan Hamas. Larangan tersebut menuai kecaman dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa karena dinilai memperparah situasi kemanusiaan yang sudah sangat kritis.
Bagi warga Gaza, tahun baru dimulai dengan keterbatasan ekstrem, berkurangnya bantuan, dan nyaris tanpa harapan. Sementara itu, kekerasan juga berlanjut di Tepi Barat. Seorang warga Palestina terbunuh dan dua lainnya terluka akibat tembakan Israel di Desa Luban al-Sharqiya, wilayah Nablus.
Peristiwa ini kembali menegaskan rapuhnya gencatan senjata serta berlanjutnya penderitaan warga sipil Palestina, khususnya anak-anak.
Sumber: MEMO, Palinfo







