Komite Internasional untuk Membebaskan Gaza dari Blokade mengumumkan bahwa dua kapal tambahan, Ghassan Kanafani dan al-Awda telah bergabung dalam misi Freedom Flotilla Coalition untuk menantang blokade Israel di Jalur Gaza. Dengan demikian, jumlah kapal dalam armada kini mencapai 11 kapal, membawa sekitar 170 aktivis internasional dari berbagai negara.
Konvoi tersebut kini telah melewati Pulau Kreta di Yunani dan bergerak ke arah utara Marsa Matruh, Mesir, menuju Gaza. Salah satu kapal utama, al-Damir, mengangkut para dokter dan jurnalis internasional dari berbagai negara.
Dalam pernyataannya, komite menegaskan, “Kami tidak akan meninggalkan Gaza sendirian.” Misi ini dimaksudkan untuk menembus blokade yang telah menjerat Gaza selama hampir 18 tahun dan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah yang kini menghadapi kelaparan dan kehancuran akibat serangan Israel sejak Oktober 2023.
Beberapa hari sebelumnya, angkatan laut Israel membajak dan menyita kapal-kapal Global Sumud Flotilla di perairan internasional, menculik lebih dari 470 aktivis dari lebih dari 50 negara, termasuk aktivis iklim terkenal Greta Thunberg.
Penahanan Thunberg memicu gelombang protes global. Di Italia, jalur kereta diblokir dan mahasiswa menduduki kampus. Di Spanyol, ribuan orang berunjuk rasa di depan konsulat Israel di Barcelona. Protes besar juga terjadi di Kolombia, Argentina, Jenewa, Paris, dan London menuntut pembebasan semua sandera dan diakhirinya blokade terhadap Gaza.
Sejumlah pemimpin dunia mengecam tindakan Israel. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyebut kejahatan itu sebagai “pelanggaran berat terhadap solidaritas global,” sementara Presiden Kolombia Gustavo Petro menilai Netanyahu telah melakukan “kejahatan internasional baru.” Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menilai Israel menunjukkan “penghinaan total terhadap nurani dunia,” dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengecam serangan itu sebagai “tindakan keji terhadap misi kemanusiaan.”
Kementerian Luar Negeri Palestina menilai penyerangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, karena dilakukan di perairan internasional yang dapat dikategorikan sebagai aksi pembajakan dan penahanan ilegal. Bahkan sekutu terdekat Israel, seperti Inggris, menyatakan “keprihatinan serius” dan menuntut agar kargo bantuan diserahkan kepada organisasi kemanusiaan.
Penyerangan terhadap armada bantuan ini mengingatkan dunia pada tragedi Mavi Marmara pada tahun 2010, namun kini dengan gaung yang lebih luas karena keterlibatan figur global seperti Thunberg.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 68.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah gugur akibat agresi Israel. Gaza kini nyaris tak layak huni, dengan blokade yang memperparah kelaparan massal dan runtuhnya layanan kesehatan.
Sumber:
The New Arab, MEMO
![Pemandangan dari Global Sumud Flotilla, sebuah inisiatif internasional yang bertujuan mencapai Gaza untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan, di laut pada 30 September 2025. [Ognjen Markovic – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/10/AA-20250930-39263620-39263616-INTERNATIONAL_GAZABOUND_FLOTILLA_NEARS_HIGHRISK_ISRAELI_ZONE-1-1-750x375.webp)







