Organisasi Dokter Lintas Batas (MSF) pada Rabu (19/03) mendesak Israel untuk segera memulihkan gencatan senjata di Gaza dengan menghentikan “kampanye penghancuran dan pengeboman besar-besaran yang mengerikan.”
MSF menyatakan “terkejut” atas serangan yang dilakukan Israel, yang mengakhiri gencatan senjata selama dua bulan dan membunuh ratusan orang. Claire Magone, Direktur Jenderal MSF Prancis, dalam pernyataannya mengatakan bahwa serangan ini semakin memperparah penderitaan rakyat Palestina.
Magone mengungkapkan bahwa MSF menerima 75 jenazah dan puluhan korban luka hanya di tiga fasilitas medis yang mereka dukung.
“Sesuai dengan taktik yang diterapkan otoritas Israel sejak Oktober 2023, mereka sekali lagi memilih untuk menghukum rakyat Gaza secara kolektif – dengan persetujuan eksplisit dari sekutu terdekat mereka, Amerika Serikat – melakukan serangan dengan intensitas yang belum pernah terlihat sejak awal agresi,” ujarnya. “Selama lebih dari 15 bulan sebelum gencatan senjata, rakyat Gaza dibunuh, dimutilasi, dilukai, dan dipaksa mengungsi.”
Serangan terbaru dan perintah evakuasi yang dikeluarkan Israel “membuat kami khawatir bahwa fase baru operasi militer di Gaza akan segera dimulai,” tambahnya. Magone memperingatkan bahwa warga Palestina di Gaza tidak akan mampu bertahan dalam kondisi ini, baik secara fisik maupun mental.
“Harapan mereka untuk mendapatkan kembali setidaknya sebagian dari kehidupan sebelumnya, kini hancur,” katanya.
Ia menegaskan bahwa gencatan senjata harus segera diberlakukan kembali dan Israel harus menghentikan “kampanye penghancuran dan pengeboman besar-besaran terhadap rakyat Gaza.”
MSF juga mendesak agar blokade di Gaza dicabut dan penduduk mendapatkan kembali akses tanpa batas terhadap kebutuhan dasar dan bantuan kemanusiaan. Pasien yang terluka dan membutuhkan perawatan medis mendesak harus diizinkan untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza dengan jaminan hak untuk kembali secara aman dan bermartabat.
Israel membunuh lebih dari 400 warga Palestina pada Selasa, menghancurkan gencatan senjata rapuh yang ditengahi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat pada Januari. Serangan udara Israel pada Rabu malam juga membunuh setidaknya 19 warga Palestina.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 50.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah terbunuh, sementara lebih dari 112.000 lainnya terluka dalam serangan militer Israel di Gaza.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








