PBB memperingatkan pada hari Senin (23/10) bahwa kurangnya bahan bakar yang masuk ke Jalur Gaza merupakan “keprihatinan besar” karena persediaan yang ada akan segera habis. “Saya pikir jumlah truk yang biasanya masuk ke Gaza setiap hari adalah sekitar 450 atau lebih. Sekarang kami hanya melihat 20 truk, dan kami tidak melihat adanya bahan bakar. Ini merupakan kekhawatiran besar,” kata juru bicara Stephane Dujarric kepada wartawan. “Kita tinggal menghitung hari, dan ketika hal itu terjadi, malapetaka akan meningkat, ditambah dengan situasi kemanusiaan yang sudah sangat buruk.”
Dujarric mengatakan bahwa truk yang membawa bantuan ke Gaza hanya sekitar 4% dari jumlah yang seharusnya masuk ke Gaza. Staf PBB di Gaza memperingatkan bahwa pasokan bahan bakar mereka akan segera habis. Terdapat cukup pasokan bahan bakar yang menunggu untuk dimuat ke truk dan diangkut ke Gaza melalui perbatasan Rafah, namun Dujarric menolak ketika ditanya mengapa PBB sejauh ini tidak dapat mengirimkan pengiriman bahan bakar ke wilayah pendudukan.
“Saya tidak mau menjelaskan secara detail. Yang bisa saya sampaikan kepada Anda adalah kami ingin mendapatkan bahan bakar, kami belum bisa mengatasi semua rintangan yang ada untuk mendapatkan bahan bakar itu,” katanya ketika ditanya oleh seorang reporter mengapa PBB belum bisa mengirimkan bahan bakar.
Selain pengeboman yang sedang berlangsung, Israel memerintahkan “pengepungan total” di Gaza, menghentikan pasokan listrik, serta melarang bahan bakar, air, dan makanan untuk mencapai Gaza. Pengiriman bantuan pertama sejak Israel memerintahkan pengepungan tiba pada Sabtu (21/10) dan konvoi kedua truk bantuan memasuki Jalur Gaza pada hari Minggu (22/10). Kedua pengiriman tersebut masuk dari Mesir melalui penyeberangan Rafah, satu-satunya rute ke Gaza yang tidak dikendalikan oleh Israel.
Bahan bakar sangat penting untuk operasional sehari-hari di Gaza, dan diperlukan untuk menjalankan pabrik desalinasi yang penting untuk memproduksi air minum bagi lebih dari 2 juta penduduk Gaza, serta untuk menjaga listrik di rumah sakit di Gaza yang kewalahan menangani pasien korban perang.
Selama berhari-hari, Kementerian Kesehatan di Gaza telah memperingatkan bahwa sistem kesehatan di wilayah Palestina dapat menghadapi kehancuran dalam beberapa hari karena krisis bahan bakar untuk menjalankan rumah sakit serta kekurangan pasokan medis. Rumah Sakit Indonesia, salah satu dari sedikit fasilitas medis yang masih beroperasi di Beit Lahiya Gaza utara, mengalami pemadaman listrik besar-besaran pada Selasa (24/10), bahkan ketika petugas medis masih terus merawat korban serangan Israel.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها







