Laporan investigatif yang dirilis Haaretz mengungkap perintah militer Israel kepada tentaranya untuk menembaki warga sipil Palestina yang kelaparan saat mereka berusaha mengakses bantuan makanan di pusat distribusi yang didukung AS dan Israel, Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Para saksi mata, termasuk tentara Israel sendiri, mengakui bahwa tembakan langsung diarahkan ke kerumunan yang tak bersenjata, tanpa gas air mata atau peringatan, hanya tembakan senapan, mortir, dan granat.
Sejak pusat GHF beroperasi pada 27 Mei 2024, lebih dari 540 warga sipil telah terbunuh dan lebih dari 4.000 lainnya terluka di sekitar lokasi distribusi bantuan. Sebanyak 39 orang juga dilaporkan hilang. Pusat-pusat bantuan AS-Israel ini disebut oleh Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO) dan PBB sebagai “perangkap kematian” dan “lokasi pembantaian massal”.
Seorang tentara menggambarkan bahwa tempat ia bertugas menjadi “arena pembantaian”. Sebanyak satu hingga lima warga sipil terbunuh setiap hari. Menurutnya, “Kami menembak sejak pagi jika ada yang mencoba mengantre dari jarak ratusan meter. Padahal, tidak ada ancaman sama sekali.”
Komandan dan tentara menyebut operasi ini sebagai “Salted Fish”, plesetan sinis dari permainan anak-anak “Lampu Merah, Lampu Hijau”, yang menunjukkan bagaimana pembunuhan warga sipil telah menjadi hal biasa. Salah satu petinggi yang disebut bertanggung jawab atas kebijakan tembak langsung adalah Brigadir Jenderal Yehuda Vach, Komandan Divisi 252.
Tudingan ini ditanggapi oleh Kolonel Inggris pro-Israel, Richard Kemp, yang menyebut laporan Haaretz sebagai “propaganda Hamas”. Berbicara dari salah satu pusat GHF, ia membantah laporan tersebut, bahkan ketika suara tembakan terdengar jelas di latar video yang ia unggah. Kemp dikenal sebagai pembela setia Israel dan sering berbicara di konferensi pro-Zionis, meski berbagai laporan pelanggaran hak asasi terus bermunculan.
Selain dari militer Israel, tembakan juga dilaporkan berasal dari geng kriminal Abu Shabab, yang disebut-sebut didanai dan dipersenjatai oleh Israel sendiri. Geng ini disinyalir turut menembaki warga di pusat bantuan dan mencuri makanan.
Organisasi kemanusiaan seperti Médecins Sans Frontières (MSF) mengecam keras taktik ini. “Menggunakan bantuan sebagai senjata dapat tergolong kejahatan terhadap kemanusiaan,” ujar MSF.
Pusat distribusi GHF juga dikritik karena tidak transparan, tidak memiliki jadwal tetap, dan hanya memberi bantuan terbatas, memaksa warga berjalan jauh di bawah ancaman tembakan. Mereka yang datang lebih awal justru lebih dulu ditembaki. “Siapa yang lari lebih cepat, dia yang makan,” ujar Yasser Eyad, seorang warga yang selamat. “Kalau ragu sedikit, kamu kelaparan atau ditembak.”
Apa yang disebut Israel sebagai “koridor kemanusiaan” justru menjadi zona pembantaian. Para tentara sendiri mengaku bahwa nilai-nilai moral telah hilang, dan warga sipil diperlakukan seperti musuh hanya karena mereka mencoba mencari makan.
Sumber:







